Anak-anak Juga Berisiko Terkena Kanker Ovarium

1424268shutterstock-273123776780x390Kanker ovarium biasanya diderita oleh wanita menjelang menopause. Namun, tak hanya wanita dewasa, anak-anak pun ternyata bisa menderita kanker ovarium atau indung telur.

Dokter sub spesialis obstetri dan ginekologi onkologi Andrijono mengungkapkan, kanker ovarium bahkan pernah ditemui pada bayi. “Bisa dari bayi sampai orang tua. Anak-anak pun banyak dari 9,11, sampai 12 tahun,” ujar Andrijono di sela-sela acara Kalbe Oncology Forum di Jakarta, Sabtu (23/5/2015) lalu.

Pada anak-anak, kanker ovarium yang ditemukan tidak ganas, karena menimbulkan keluhan. Adanya tumor, biasanya baru diketahui ketika anak sakit dan diperiksa oleh dokter anak. Gejala umum di antaranya bagian perut membesar, terasa nyeri, dan sering buang air kecil.

“Pada bayi yang sering ngompol, ibunya curiga. Pas dibawa ke dokter anak, ternyata ada benjolan,” terangnya. Andri menjelaskan, penanganan kanker ovarium pada anak-anak pun tak jauh berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak juga menjalani operasi pembedahan dan kemoterapi.

Bagi para anak perempuan, karena kanker belum ganas, maka dapat dilakukan operasi pengangkatan tumor saja. Saat dewasa, mereka pun nantinya bisa memiliki keturunan seperti wanita lainnya. “Kita ambil tumor saja, masih ada rahim. Pasien masih bisa hamil,” kata Andri. Menurutnya, hingga saat ini, belum diketahui penyebab anak-anak terkena kanker ovarium.

Penyakit kanker ovarium atau indung telur ini, termasuk yang paling berbahaya, karena fungsi indung telur sebagai tempat di mana adanya sel telur maupun progesteron dan estrogen yang telah dihasilkan. Kanker ovarium adalah salah satu kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di Indonesia.