Bupati Banyuwangi: “Green Airport” Dongkrak Kunjungan Wisatawan

Koranbanten.com – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas optimistis Pembangunan Terminal Bandara Blimbingsari berkonsep “green airport” mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke daerah itu.

“Keberadaan green airport jika nanti sudah beroperasi akan sangat mendongkrak jumlah wisatawan. Perkembangan jumlah penumpang di bandara kami juga semakin meningkat,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Minggu (23/8/2015).

Green airport adalah konsep pembangunan terminal di sebuah bandara yang mengedepankan pendekatan hijau, ramah lingkungan dan hemat energi.

Terbukti, pembangunan terminal itu hanya 25 persen ruangan yang berpendingin ruangan, selebihnya secara alami. Proyek itu ditargetkan selesai akhir tahun ini dan mulai bisa digunakan Maret 2016.

Anas menyebut, pada 2011 jumlah penumpang di Bandara Banyuwangi baru mencapai 7.000 orang, lalu meningkat menjadi 24.000 orang pada 2012 dan melonjak menjadi 44.000 pada 2013. Angka itu terus melonjak menjadi 87.000 orang pada 2014. Sampai Juni 2015 sudah 60.000 orang.

“Kenaikan jumlah penumpang 1.142 persen dari 2011 ke 2014. Ini setelah kami promosi wisata. Nah setelah green airport itu nanti beroperasi dan menjadi landmark, pasti wisatawan akan melonjak drastis,” jelas Anas.

Anas mencontohkan Bandara Samui di Thailand yang juga berkonsep green airport. Di Pulau Samui tersebut, lebih dari 3.000 turis per hari datang dengan jumlah 36 penerbangan per hari.

“Dengan bandara hijau, kami juga ingin lebih hemat. Saat bandara daerah lain butuh dana Rp 300 miliar untuk bangun bandara, kami cukup sekitar Rp 40 miliar. Pemeliharaannya juga lebih murah,” ujarnya.

Landasan Bandara Banyuwangi tahun ini juga akan diperpanjang dari 1.800 meter menjadi 2.250 meter dengan dana dari APBN.

Anas menambahkan selain konsep hijau, arsitektur Bandara Blimbingsari Banyuwangi juga mengadopsi kearifan lokal, yaitu arsitektur khas Suku Osing, masyarakat asli Banyuwangi. Atap bandara juga mengadopsi penutup kepala khas masyarakat Suku Osing.

“Kami juga mengakomodasi budaya masyarakat yang selalu mengantar kerabatnya yang akan bepergian. Jadi nanti pengantar tidak bergerombol di terminal, tapi ada ruang khusus untuk para pengantar,” kata Anas.