Cerita Diaspora Indonesia Dari Dua Negara

Oleh : Hersubeno Arief

Konsultan Media dan Politik

Bagi Anda yang aktif mengikuti hiruk pikuk di dunia maya, dalam sepekan terakhir setidaknya ada dua cerita menarik tentang aktivitas warga Indonesia yang bekerja atau tinggal di luar negeri.

Mereka ini dalam bahasa kerennya sering disebut sebagai diaspora, alias para perantau Indonesia.

Cerita pertama tentang ribuan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong yang menggelar pawai menyambut (tarhib) Ramadhan 1438 H. Cerita kedua tentang perantau Minang bernama Uni Ita alias Erita Mursyid yang membuka restoran Padang di Den Haag,  ibukota Belanda.

Ada persamaan dan perbedaan antara keduanya. Persamaan antara keduanya adalah sama-sama perantau Indonesia. Sama-sama mencari nafkah di negeri orang. Kedua-duanya juga sama-sama membawa nama baik Indonesia, atau setidaknya ikut mempromosikan Indonesia di mata dunia dengan eksistensinya masing-masing.

Bedanya, orang seperti Uni Ita masuk dalam kategori diaspora Indonesia. Sementara para TKW di Hongkong cukup dengan sebutan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Yang satunya kesannya lebih mentereng dan berpeluang diundang dalam kongres  diaspora Indonesia, sementara para TKW sering dipandang sebelah mata.

Beda lainnya lagi –nah yang ini sangat kontras– para TKW di Hongkong sedang bersuka cita menyambut datangnya Ramadhan. Sementara Uni Ita sedang menyambut Ramadhan dengan gundah gulana.

Rating restorannya di Google maps anjlok dihajar oleh  Ahokers yang murka hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda.

Pahlawan Devisa

Melihat potongan video yang beredar di berbagai medsos, pawai para TKW di Hongkong sungguh sangat membanggakan sekaligus mengharukan.

Mereka mengenakan busana muslim, sebagian malah bercadar, menggelar pawai  berjalan kaki  dari North Point Ferry  sampai taman Edinburg di Central Hongkong.

Acara tahunan yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa perwakilan Hongkong tersebut sungguh meriah. Ada sekitar  60 kelompok pengajian berdasarkan kedaerahan atau aktivitas keagamaan yang terlibat. Mereka sangat bersemangat sambil melantunkan lagu-lagu pujian, sebagian menabuh rebana.

Terlihat beberapa peserta membawa bendera simbol Nahdlatul Ulama (NU),  ada pula kelompok pembaca Al Quran yang kini tengah happening di kalangan muslim perkotaan, termasuk di kalangan artis,  One day One Juz (ODOJ) alias setiap hari membaca satu  juz.

Bagi Anda yang sempat menonton videonya agak sulit membayangkan pawai semacam itu terjadi di Hongkong. Suasananya sangat tertib, para pejalan kaki menyaksikan dengan antusias dan banyak penonton yang mengambil gambar menggunakan perangkat smart phone.

Polisi yang mengawal dan mendampingi juga terlihat santai. Tidak ada polisi anti huru-hara atau water cannon yang disiagakan. Polisi Hongkong tidak terlihat tegang, apalagi menghalang-halangi, kendati peserta yang hadir jauh lebih banyak dari jumlah yang dilaporkan oleh panitia. Semula panitia hanya mengajukan izin untuk 8.00 orang peserta, namun yang hadir lebih dari 1.000 orang.

Sayang berita yang syarat dengan nilai human interest tersebut luput atau dinilai tidak layak berita oleh media-media konvensional.

Komunitas TKI di Hongkong  jumlahnya memang cukup besar. Diperkirakan ada sekitar 150 ribu orang (2016) yang mengadu nasib di negeri bekas koloni Inggris itu. Hongkong menjadi negara terbesar ke-empat tujuan para TKI setelah Malaysia, Taiwan dan Arab Saudi.

TKW Indonesia juga lebih disukai dibanding kompetitornya dari Vietnam dan Filipina. Selain soal adaptasi dan banyak yang bisa berbahasa Kanton, TKW Indonesia dikenal ramah dan telaten, utamanya untuk mengurus para lanjut usia dan anak-anak.

Di Hongkong, keluarga muda biasanya menyerahkan pengurusan orangtuanya yang sudah lanjut usia dan balitanya kepada para TKW.

Gaji TKI di Hongkong per bulannya sekitar 4.200 Dolar Hongkong. Satu Dolar Hongkong kursnya  Rp 1.750, maka gaji per TKI per bulannya sebesar Rp 7.350.000. Bila dikalikan 150 ribu orang, maka devisa dari TKI dari Hongkong saja mencapai Rp 1,1 triliun perbulan. Angka yang sangat besar.

Hongkong bagi TKW Indonesia  memang menjadi semacam “surga” karena kebebasan dan jaminan hukum dan per-undang-undangan yang sangat menghormati hak-hak para pekerja migran. Di tengah berbagai isu miring banyaknya TKW Indonesia yang hamil di luar nikah dan melakukan perkawinan sejenis, pawai tarhib Ramadhan menjadi “wajah lain,”  wajah yang lebih baik dari TKW di Hongkong.

Setiap libur akhir pekan, para TKW ini biasanya berkumpul di Victoria Park kawasan Causeway Bay. Selain ada yang bercengkerama dan berpesta, banyak diantara mereka yang terlibat dalam kelompok-kelompok pengajian.

Suasananya sungguh guyub, rukun, ya maklumlah sesama perantau, jauh dari sanak keluarga.

untuk menjaga akidah dan keimanan para TKW, sejumlah da’i dan aktivis gerakan Islam dalam beberapa tahun terakhir banyak yang mendedikasikan dirinya dengan menggelar dakwah di Hongkong.

Para da’i dan aktivis tersebut memperkirakan dalam jangka panjang, warga Hongkong akan semakin dekat dengan Islam. Sejak kecil banyak anak-anak Hongkong yang terbiasa melihat dan mendengar para pembantu rumah tangganya melaksanakan shalat dan mengaji.

Kisah Uni Ita di Belanda

Salero Minang adalah sebuah rumah makan yang menyediakan masakan khas daerah Sumatera Barat alias restoran Padang di Belanda.

Rumah makan ini dimiliki oleh seorang perempuan bernama Erita  Mursyid(44 thn), asal Koto Panjang, Taluak Batang Kapeh, Kabupaten Pesisir Selatan. Dia menikah dengan Marko Lubeek (47 thn) seorang warga Belanda.

Sejak tahun 2005  Erita berjualan di acara pasar malam di Malieveld, Den Haag.
Baru tahun 2011 Erita secara resmi membuka Restoran Salero Minang di Prins Hendrikstraat 150a, 2518HX Den Haag.

Harian Republika pernah membuat reportase restoran ini sebagai salah satu restoran yang digemari oleh orang Belanda dan tentu saja komunitas Indonesia yang tinggal di sana.

Beberapa turis Indonesia yang sedang berkunjung ke Belanda, banyak yang menyempatkan diri mampir.

Maklumlah namanya juga orang Indonesia. Baru sehari di luar negeri, biasanya sudah kangen dengan makanan Indonesia.  Begitu tahu ada restoran Indonesia, apalagi nasi Padang, pasti langsung diserbu.

Kualitas masakan restoran ini nampaknya juga cukup baik. Hal itu bisa terlihat dari ulasan para pengunjung di Google maps yang selalu memberi rating  lima bintang. Namun setelah Pilkada DKI usai dan Ahok kalah, rating Salero Minang langsung anjlok. Bintangnya turun dan hanya berkisar di angka satu koma.

Para pendukung Ahok sangat marah dan merisak (bully) Salero Minang yang diidentifikasi sebagai pendukung Anies-Sandi.

Hal itu bisa terlihat dari komen-komen di laman Salero  Minang. Ada yang menyebut harganya terlalu mahal, sementara porsinya sangat sedikit. Ada pula yang menyebut service kurang baik dan nasinya tidak hangat. Namun, ada pula yang secara terbuka mengajak warga Belanda memboikot Salero Minang karena pemiliknya rasis.

Bagaimana itu bisa terjadi? Seorang putri Minang yang menikah dengan warga Belanda kulit putih kok bersikap rasis?

Seorang mantan diplomat yang pernah menempati pos di Den Haag menyatakan ketika Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta berkunjung ke Belanda September 2015, Erita termasuk yang sibuk dalam seksi penyambutan. Salero Minang juga menjadi tempat berkumpulnya para fans Ahok.

Di Belanda Ahok memang mendapat sambutan layaknya seorang superstar. Rombongan ibu-ibu dari berbagai kota menyambutnya di bandara Schipol, Amsterdam dengan bunga mawar berwarna merah dan putih. Ada beberapa ibu-ibu yang rumahnya cukup jauh sampai harus berangkat dari rumah pukul 04.00 pagi hanya untuk bertemu Ahok.

Di Belanda saat ini ada sekitar 15 ribu lebih WNI. Sebagian besar berstatus mahasiswa, sisanya adalah pekerja profesional dan penduduk tetap. Di seluruh Belanda diperkirakan ada sekitar1500-an resto Indonesia dan mayoritas bermain di  makanan Padang dan Melayu. Salero Minang salah satu pemain yang cukup  besar.

Erita mulai dimusuhi Ahoker ketika secara terbuka menyatakan mendukung Anies-Sandi karena preferensi agama.

Mereka makin marah ketika kemudian Ahok kalah.  Ketika kabar Salero Minang dirisak menyebar di medsos, banyak yang marah dan mencoba membantu Erita memulihkan ratingnya. Terjadilah “perang’ dunia maya yang seru.

Seorang penggiat medsos sampai membuat status seperti ini  “Keterlaluan sekali Oknum Ahoker ini…. You don’t like the owner, that’s ok…. You don’t buy from her, that’s fine…. You ask your friend not to buy from her, that’s your choice…. BUT report atau rating jatuhin begini? Berarti Anda sudah BOHONG, RASIS, ZHOLIM, dll.  Pengin banget sebenernya keluarin kata yg lebih kasar…. “

Imbas Pilkada DKI ternyata masih sangat panjang dan melebar kemana-mana, termasuk ke warga Indonesia di berbagai belahan dunia.

Semangat gotong royong, hidup sependeritaan dan sepenanggungan yang biasanya sangat dipegang dan dijunjung tinggi para perantau Indonesia hancur, karena pilihan politik yang berbeda. Ini tidak pernah terjadi dalam pilkada ataupun pilpres sebelumnya.

Di Belanda dalam Pilpres 2014 pasangan Prabowo-Hatta kalah telak dari Jokowi-JK. Dalam pilpres yang digelar di KBRI Den Haag, Prabowo-Hatta mendapat 401 suara, dan Jokowi-JK meraih 1.927 suara. Tidak ada pendukung pasangan Prabowo-Hatta yang ngambek, marah-marah apalagi memboikot restoran milik pendukung Jokowi-JK.

Mati hati tak bisa menutup diri dari kebenaran. Tapi kebencian, rupanya bisa menutupi “mata selera dan mata lidah,” dari makanan terenak sedunia versi CNN, RENDANG PADANG.

Bagi kita yang tinggal di Jakarta saja, air liur bisa tiba-tiba langsung meleleh hanya dengan sekedar membayangkan nasi Padang bungkus. Apalagi bagi mereka yang tinggal di rantau seperti Belanda. Kepulan nasi yang hangat dan aroma kuah rendangnya, bikin gak tahan.

Nasi Padang…..Nasi Padang….. Jadi teringat lantunan suara Audun Kvitland Røstad bule asal Norwegia yang sangat tergila-gila dengan makanan eksotis dari Sumatera Barat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *