Diskusi Panel PWI Kota Cilegon: Sinergis Tangkal Terorisme dan Paham Radikal

CILEGON-Masih dalam momen perhelatan  Hari Pers Nasional (HPN) ke-70, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Cilegon, Kamis 25 Februari 2016 lalu, bertempat di  Convention Hall Gedung Plaza Cilegon Mandiri lantai 1, menggelar diskusi panel bertajuk “Pers Sehat Bentengi Masyarakat dari Sebaran Paham Radikal dan Terorisme.”

Diskusi  menghadirkan narasumber Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli Amar, Walikota Cilegon Tb Iman Ariyadi, dan Ketua Bidang Pembinaan Daerah PWI Pusat Atal S Depari. Hadir dalam kesempatan tersebut,  elemen mahasiswa, masyarakat dan unsur Pemerintahan Kota Cilegon.

Pada kesempatan tersebut, Ketua PWI Kota Cilegon, Henny Murniaty mengatakan, media massa perlu berperan aktif dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat guna menangkal radikalisme dan terorisme.“Peran media massa sangat penting. Dalam hal ini media massa diharapkan mampu membentengi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PWI Provinsi Banten, Cahyono Adi, lebih menyoroti peranan wartawan sebagai penyampai berita kepada publik agar lebih memahami berita yang akan disampaikan supaya tidak membentuk opini yang salah. “Wartawan punya peran untuk meminimalisasi paham radikal dan terorisme. Dalam hal ini, wartawan perlu memahami kode etik jurnalistik dan wawasan kebangsaan yang baik karena fungsi media punya peran untuk membentuk opini kepada publik. Wartawan perlu arif dalam menyikapi, sehingga berita yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan karena pers itu bersifat demokratis,” kata Cahyono Adi.

Masih pada kesempatan yang sama, Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli Amar, dalam paparanya berharap, insan pers diharapkan mampu untuk memberikan pencerahan terhadap masyarakat guna meminimalisir penyebarluasan paham radikal dan terorisme. “Radikalisme dan terorisme ini adalah masalah yang tidak putus, tantangan ini benar-benar nyata, bahkan sulit dihilangkan. Fungsi negara hanya untuk mengendalikan dan meminimalisisasi tindakan teror oleh kelompok radikal,” ujar Kapolda.

Brigjen Pol Boy Rafli Amar juga berharap pers dapat memberikan porsi yang lebih besar untuk opini yang kontra terhadap masalah radikalisme dan terorisme, serta ikut menjadi bagian dalam melawan paham radikalisme dan terorisme.

“Banyak motif atas munculnya paham radikalisme dan terorisme ini, ada motif politik juga yang pasti ini sudah melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Pers harus berpikir netral, objektif, dan melihat kepentingan nasional. Memberikan pencerahan kepada masyarakat, bagaimana penguatan nilai kebangsaan, membangun opini dan persepsi publik supaya kontra terhadap radikalisme dan terorisme,” katanya.

Walikota Cilegon, Tb Iman Ariyadi yang juga tampil sebagai salah seorang  pemateri  mengatakan sistem demokrasi menjadi tempat subur yang mendukung terhadap tumbuh kembangnya paham radikal dan terorisme di masyarakat.

“Tumbuh kembangnya radikalisme dan terorisme itu justru di negara demokratis. Ada motif ekonomi, politik, ideologi yang berperan dalam tumbuhnya paham radikal dan terorisme. Sebab negara tidak bisa menghadang kebebasan berpendapat dan pemikiran setiap warga negara,” tandas Iman.

Ditegaskan Walikota, Pemerintah Kota Cilegon juga berkomitmen untuk melahirkan kebijakan dalam konteks penguatan keagamaan, sesuai dengan paham kebangsaan. “Memang bukan hanya peran pemerintah, pers, atau aparatur negara saja dalam mencegah paham radikalisme dan terorisme ini, tapi peran kita semua,” katanya.

Atal S Depari, Ketua Bidang Pembinaan Organisasi Daerah PWI Pusat yang dalam hal ini mewakili insan pers mengatakan, pers sebagai pusat informasi untuk publik, diharapkan dapat memberikan informasi serta pemberitaan yang valid dan mencerahkan soal radikalisme dan terorisme. (pan).