Kuliner Bareng Ketua Harian PHRI, Kabid Kepariwisataan, dan Ketua PWI Banten

koranbanten.com – Ketua harian PHRI Provinsi Banten Ashok Kumar bersama dengan Ketua PHRI yang juga Ketua BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) Banten, Achmad Sarialam dan Ketua PWI Banten melakukan wisata kuliner di Kota Serang. Salah satu yang dicicipi yaitu bubur setan yang berada di kawasan Pasar Lama, Serang.

Bubur setan sendiri, bubur lengendaris  sejak tahun 1962 dan ini merupakan generasi kedua. Bedanya dengan bubur-bubur yang lain, bubur ini memiliki rasa yang khas. Dan bubur lain lebih banyak memakai kerupuk tapi pada bubur setan memakai emping, itu yang membedakan.

“Nama setan sendiri yang biasa dimaknai memiliki cita rasa pedas, tetapi pada bubur saya ini memiliki cerita bahwa dulu, bubur setan ini buka pada jam 1 sampai jam 5 pagi tapi kalo sekarang buka jam 6 sore. Dulu sebelumnya namanya yaitu bubur kimcong. Jadi yang punya masih keturunan Tiong Hoa” ujar Maya, pemilik warung bubur setan.

Menurut maya, pemilik warung bubur setan dari dulu sampai sekarang pelanggan sudah banyak termasuk pelanggan setianya yaitu Achmad Sarialam, Ketua Bidang Kepariwisataan dan Promosi Provinsi Banten.  “Waktu saya kecil yang melayani itu bapaknya, sekarang anaknya semenjak bapaknya meninggal. Jadi sudah generasi ke 2. Dan rasa buburnya enak sekali” kata Achmad, Selasa(01/03).

Achmad mengatakan, kuliner itu merupakan salah satu pariwisata, yang mana pariwisata itu adalah bisa menikmati alam, budaya, agama religius, lalu belanja dan olahraga. Tapi kenapa kuliner itu penting, jadi dengan kepentingan kuliner ini maka Banten keliatannya ini belum siap. Karena masalahnya belum tercapai dengan baik dan belum dikenal makanan Banten itu.

“Seperti bubur setan ini, terlihat dengan kondisi tempatnya yang kurang bagus, kenapa pemerintah daerah tidak membuka grup, dimana kuliner Banten ini di tata. Jadi semua diarahkan, kan semua tidak tau, yang tau hanya orang-orang Banten saja tapi wisatawan tidak tau. Itulah yang harus  digarap” paparnya.

Achmad menjelaskan, selaku pengamat pariwisata ia menghimbau bahwa tata pesona itu harus dilakukan, dimana dengan adanya kebersihan, kenyamanan, pelayanan itu yang akan terjadi baik jika perberbudayaan itu mengikuti. “Saya mengharapkan kedepan penduduk akan bisa berhasil khususnya daerah Serang kemudian Tanggerang, Tangerang Kota dan Tangeran g Kabupaten apa pun ada dan tertata dengan baik. Dan makan pun senang, untuk itu harusnya di Kota Serang itu ada tempat untuk orang bisa mencari makan,” terangnya.

Sedangkan Ketua harian PHRI Provinsi Banten Ashok Kumar mengatakan, sebenarnya kuliner Banten sudah masuk pada strata baik yaitu nasional, lokal, maupun internasional itu bisa diterima. Contohnya seperti bubur setan. Tinggal bagaimana kepedulian dari pemerintah untuk mengangkat mereka dan seharusnya di fasilitasi dengan baik. “Yang terlihat tadi hujan begitu deras namun orang-orang datang silih berganti. Ini harus difasilitasi. Ternyata mereka kan notabennya tidak mempunyai kapital modal yang baik. Ini tugas pemerintah yang harus melihat bahwa ini peluang,” papar Ashok.

Menurut Ashok,  ini merupakan strong point, sehingga orang datang ke Kota Serang dan  melihat sesuatu. Kemudian dari pihak pemerintah, harus bisa betul mengangkat ini menjadi strong point. PHRI sendiri terbatas, yang punya pemerintah. PHRI hanya bisa mengakomodir anggotanya. Menjaga kualitasnya, mutunya, kemudian rasanya dan harganya yang menjadi utama kita.

“Harapan kita optimis sekali karena pariwisata penghasilan seperti Tangerang Kota, Tangerang Kabupaten, Tangerang Selatan itu semua kuliner lebih tinggi dari penghasilan hotel. Karena kalo makanan itu nonstop. Jadi kuliner itu memiliki pendapatan yang cukup tinggi,” tegasnya. (aang/tresna)