Maria Natalia Londa, Lewat Lompat Jauh Jadi Ratu Asia

KORANBANTEN.com – Maria Natalia Londa bukan berasal dari keluarga atlet. Lewat lompat jauh, gadis yang lahir dan besar di Bali itu menjadi ratu Asia dengan donasi emas Asian Games 2014.

Penampilan Londa membetot perhatian kala tampil di Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan. Lompatan sejauh 6,55 meter menjadikan dia sebagai atlet putri terbaik di nomor tersebut.

Londa sekaligus berhasil mengakhiri paceklik medali emas atletik di ajang tersebut sejak 1998. Saat itu, Indonesia merebut medali dari Supriyati Sutono di nomor lari 5.000 meter. Dahaga 18 tahun terbayarkan.

Lagu Indonesia Raya dan bendera Merah Putih dikibarkan paling tinggi di antara negara-negara lain. Londa berucap terimakasih kepada Indonesia atas sukses tersebut.

Padahal jika disimak Londa mengasah kemampuannya dengan upaya sendiri. Bersama-sama pelatih yang menemukan kemudian memolesnya, Londa berlatih tanpa tempat khusus. Bali tak memiliki stadion dengan trek lari sintetis.

Beruntung buat Londa, kotak pasir di tanah kelahirannya, di Bali, tak terbatas. Pantai-pantai dengan pasir putih terhampar begitu saja menjadi ‘tempat bermain’ Londa.

Kadang kala Londa juga bermain di parkiran sebuah hotel. Seperti sebuah berkah tapi juga cukup ironis, bukan?

Emas Asian Games itu belum mampu membuka mata stake holder olahraga untuk menyediakan sarana kelas dunia di Bali. Trek sintetis baru dibangun setelah Londa memastikan tiket ke Olimpiade.

Londa pun benar-benar menjadi kontestan di sana, pada sebuah ajang olahraga terakbar yang cuma dihelat empat tahun sekali. Bukan lewatwildcard atau kuota pengganti, Londa lolos lewat kualifikasi.

Tak punya tempat latihan juga bukan dari keluarga atlet, Londa mampu membuktikan pengibar bendera Merah Putih bisa dari kalangan mana saja. Kini, kiprah Londa di lompat jauh sudah menginspirasi sepupu dan anak-anak untuk mengikuti jejaknya: menjadi ratu Asia lompat jauh.

Ya, bukan cuma soal tempat latihan yang minim. Londa juga bukan berasal dari keluarga atlet.

Ayahnya, Pamilus (almarhum), seorang desain interior. Ibundanya, Anastasia Ari Ningsih, penjahit kampung yang kadang lebih senang menyebut dirinya ibu rumah tangga.

Dalam trah keluarga besarnya yang asli Flores pun, tak ada yang berkarier sebagai atlet. “Ini semua gara-gara ayah,” kata Londa mengenang masa kecilnya.

Kata Londa, ayahnya rutin mengajak dia jalan-jalan pagi. Sekitar pukul 04.00-05.00 WITA.

“Awalnya di alun-alun, terus tahu kalau ada stadion, kami jalan-jalan ke stadion,” tutur perempuan kelahiran Denpasar 26 tahun lalu tersebut.

Saat pagi-pagi itu, Stadion Ngurah Rai, Denpasar itu jadi tempat latihan atlet Denpasar. Karena tak menyukai lari, Londa terdorong untuk melihat nomor-nomor lain. Lompat jauh dan lompat jangkit langsung membetot perhatian dia.

Beruntung buat Londa, dia ditangani pelatih yang mampu memoles potensi dan bakatnya dengan sip. Mereka Ali Anak Agung Alit Ardana dan I Ketut Pageh. Duet asisten pelatih dan pelatih itu kini masih menangani Londa. Londa juga tak melupakan guru olahraga yang akrab disapanya Pak Cok.

Roda telah berputar. Jalan-jalan kecil di pagi hari melewati Stadion Ngurah Rai itu menjadi awal Londa menjelajah dunia dan mengukuhkan diri sebagai ratu lompat jauh Asia. Setujuha kalau menyebut Londa sebagai pahlawan masa kini?

“Saya tak pernah menyangka disebut-sebut sebagai pahlawan olahraga. Yang saya tahu, ponakan-ponakan saya jadi mau menekuni atletik,” tutur Londa merendah.

Saat ditanya soal sosok pahlawan idolanya, apa jawaban Londa? “I Gusti Ngurah Rai karena dia kan pahlawan dari Bali. walaupuan saya dari Flores tapi banyak hal di Bali yang bikin saya jadi seperti ini sekarang,” ucap dia. @DF