Meminang Kedamaian di Padang Keindahan

~ kepada Presiden Jokowi

hari ini, sembilan februari,
kami tidak datang
dengan tinta kata-kata
yang terang berapi-api
untuk menulis namamu
di paragraf menjulang
setinggi pucuk singgalang

hari ini kami semua tiba
membawa cinta setangkai
padi: merunduk –bukan tunduk
melamarmu dengan hari esok
sepanjang doa kaum petani
berharap musim panen,
selama itulah bagi kami
kau tetap seorang presiden

hari ini tak ada pertanyaan
untukmu, seperti hempasan
ombak di pantai telukbayur
hari ini segalanya melebur
laksana rembulan dari balik
merapi, diam-diam melamar
obor surau dan suluh langgar
dengan mahar airmata pelajar
sekaligus darah para pendekar:

~ ya, hari ini kami hanya ingin
benar-benar tersenyum dipetik
ranum penderitaan, bukan
tercekik oleh bau pencitraan

hari ini, tuan, cuma hari
ini saja, zonder verifikasi kita:
kau adalah pewaris pusaka
seluruh pustaka, maka kami khatamkan dendam-rindu ini
meminangmu dengan damai

dampingi mereka, pak jokowi,
rakyat bumi pertiwi, sejak
terisak sampai tawa yang
paling derai, duka mungkin
segera sirna atau malah
semakin purna, tapi kaulah
mata penghabisan yang akan memandang sedu-sedan
indonesia, serupa rahasia
warna-warni dedaunan
di padang-padang keindahan:
hijau, kuning, merah menyala,
lalu rontok di pantai cerocok

hari ini, sembilan februari,
kami tidak datang dengan
lilin ulang tahun yang lekas
meleleh. kami cemas
membayangkan bahwa
hari ini kita hanyalah dua
orang asing yang tak sengaja
pernah saling menoleh

ondeh mandeh…

2018
~ ramon damora ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *