Mendikbud anjurkan siswa kunjungi museum saat liburan

ajakMenteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menganjurkan siswa mengisi masa liburan sekolah dengan mengunjungi museum.

“Ini sudah masa-masa liburan sekolah, saya minta sekolah mendorong para siswa untuk memanfaatkan liburan sekolah dengan datang ke museum-museum,” katanya saat mengunjungi Museum Diponegoro di kompleks gedung eks-Keresidenan Kedu, Kota Magelang, Kamis.

Di tempat Pangeran Diponegoro melakukan perundingan dengan Jenderal De Kock pada 1830 dan ditangkap dengan cara licik setelah Perang Jawa (1825-1830) itu, Anies menjelaskan bahwa museum bisa menjadi tempat anak-anak mempelajari tentang kehidupan masa lalu dan perjalanan bangsa.

“Anak-anak yang datang ke museum akan datang, memasuki mesin waktu,” katanya dalam rangkaian kunjungan utamanya ke SMP Negeri 1 Kota Magelang bersama Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito.

Ia mengatakan penting bagi para siswa untuk mengunjungi museum yang menyimpan kisah dan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia seperti Museum Pangeran Diponegoro.

Selama mengunjungi museum, Anies antara lain melihat kursi tempat Pangeran Diponerogo berunding dengan Jenderal De Kock serta bukti kemarahan Diponegoro berupa guratan kuku di kursi yang ditutup dengan kain putih dan disimpan di almari kaca.

Dia juga melihat jubah Pangeran Diponegoro terbuat dari kain shantung dengan tinggi 1,57 meter dan lebar 1,35 meter.

Selain itu, ada tujuh cangkir tempat tujuh macam minuman kegemaran Diponegoro, balai-balai beralas tikar, tempat Pangeran Diponegoro sembahyang, serta lukisan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh dan lukisan Diponegoro menunggang kuda putih karya Basuki Abdullah.

Anies bercerita panjang lebar tentang lukisan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh di pojok museum yang dia sebut sebagai “lukisan politik.”

“Karya Raden Saleh ini adalah lukisan politik, lukisan perlawanan terhadap penjajah,” katanya.

Ia menuturkan, postur tubuh tentara Belanda dalam lukisan itu dibuat tidak proporsional dan Pangeran Diponegoro dilukis dalam posisi kepala yang tegak.

“Lukisan tentang diri Raden Saleh juga ada empat atau lima dalam lukisan itu, seolah-olah dia ada di tempat itu. Mudah-mudahan Raden Saleh bisa diangkat sebagai Pahlawan Nasional,” katanya.

Ia juga menjelaskan bagaimana Perang Jawa mengakibatkan kerugian besar bagi pemerintah kolonial Belanda di Nusantara serta penerapan “politik balas budi” Belanda berupa pemberian kesempatan kepada orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan sekolah.

sumber : antara.com