Puan: Anak Indonesia di Luar Negeri Harus Dapat Pendidikan Berkualitas

Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) mengunjungi Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

“Anak-anak merupakan masa depan suatu bangsa dan suatu bangsa akan menjadi lebih maju manakala anak-anak tersebut mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan secara optimal dengan fasilitas yang sesuai dengan perkembangan zaman,” kata Menko PMK Puan Maharani, Selasa (14/3).

Ia menyebut, anak-anak Indonesia di luar negeri juga harus mendapat jaminan kualitas pendidikan seperti di dalam negeri. Hal tersebut merupakan wujud kehadiran negara bagi warganya untuk dapat mengakses pendidikan.

Puan mengunjungi SIKL di sela-sela kunjungan kerjanya menghadiri pembukaan Seminar Kerjasama Rantau ASEAN dalam memberantas Jenayah Seksual Kanak-Kanak. Acara itu dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Malaysia, YAB Dato Sri Mohd Najib Tun Haji Abdul Razak, Senin (13/3). Puan melakukan diskusi tentang kesehatan tenaga kerja Indonesia (TKI) dan mengunjungi Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

Kesempatan kunjungan ke SIKL itu sekaligus digunakan untuk meninjau aula SIKL yang merupakan sumbangan ayah Puan, almarhum Taufik Kiemas. Dalam kunjungan itu, Menko PMK juga berkesempatan memberikan sumbangan 20 buah komputer dari Kemendikbud untuk SIKL ini.

Puan berharap perangkat komputer dapat membantu para siswa dalam memperkaya dan memperdalam informasi dan ilmu pengetahuan apapun dalam menunjang kegiatan belajar. Puan berpesan, para pelajar harus pintar memilah-milah informasi dan gambar yang buruk atau baik di tengah perkembangan teknologi informasi. Sebab, ia mengingatkan teknologi informasi memiliki dampak positif, tetapi juga membawa efek negatif.

Atas permohonan para guru dan siswa, Menko PMK berjanji akan mengkoordinasikan dengan instasi terkait di Jakarta untuk mengadakan upaya perbaikan dan perluasan aulla dan meminta agar diberi nama ‘Gedung Taufik Kiemas’.

SIKL dirikan sejak 1969. Saat ini, SIKL memiliki 515 siswa yang tediri dari putra-putri para diplomat Indonesia yang bekerja di Kuala Lumpur. Serta, semua WNI yang mengadu nasib di Malaysia. Para siswa terdiri dari jenjang TK, SD sampai SMA.

SIKL juga menjadi pembina rintisan Sekolah Indonesia Johor Baru yang memiliki 208 siswa putra putri para TKI ilegal. SIKL juga menjadi sekolah rintisan di kota lainnya di Malaysia. @OPIK