Ruwatan Bumi di Bandung

bumiBalai Pengelolaan Cagar Budaya, Nilai Budaya, dan Sejarah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat menggelar pertunjukan sejumlah kesenian tradisional dan ruwatan bumi. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2015, tersebut dimulai sejak pukul 09.00 hingga tengah malam di area Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Jalan Dipati Ukur.

Selain ruwatan bumi, ada pertunjukan kesenian kuda renggong oleh Kabuyutan Subang dan Cikareumbi, seni karinding, kecapi suling, singa Depok, dan pertunjukan wayang golek dari kelompok Giri Harja 2 Muhtar pimpinan Ade Kosasih. Ada pula pertunjukan terbang buhun, pencak silat, hingga debus.

Di sela acara tersebut, juga ada peresmian beberapa gunung di sekitar Bandung. Yakni Gunung Bukit Tunggul, Gunung Malayang, Gunung Rakutak, Gunung Kendang, Gunung Tilu, Gunung Malabar, Gunung Patuha, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Sanggar.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Nunung Sobari dalam siaran pers menyebutkan perhelatan itu bertujuan menambah wawasan dan informasi bagi generasi muda mengenai nilai budaya yang masih hidup dan dipelihara oleh masyarakat di Jawa Barat. Salah satu kegiatan itu adalah ruwatan bumi, yang dikaitkan dengan isu lingkungan hidup.

Ruwatan bumi yang merupakan salah satu upacara adat, kata Nunung, merupakan ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas keberhasilan panen pertanian. Ruwatan juga dipakai sebagai penolak bala serta penghormatan bagi leluhur. “Makna ruwatan antara lain wujud dari gotong-royong, persaudaraan, persatuan,” katanya.

Tujuan acara tersebut adalah mengajak masyarakat berperan aktif menjaga nilai-nilai budaya dan persaudaraan pada era globalisasi.