Studi Kebencanan, Insinyur Indonesia Gandeng Ahli Geologi

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menggandeng sejumlah ahli geologi untuk melakukan sejumlah studi kebencanaan. Studi ini akan diaplikasikan di Kabupaten Trenggalek sebagai pilot project. Ketua Umum PII Achmad Hermanto Dardak mengatakan, studi kebencanaan akan digagas dalam mengurangi resiko bencana di daerah.

“Untuk aplikasinya nanti di Kabupaten Trenggalek. Ada beberapa lokasi yang sudah kita lakukan survei untuk dilakukan rekayasa teknik mengurangi resiko bencana,” kata Hermanto usai pengukuhan pengurus PII Jawa Timur, Kamis (2/2/2017).

PII menggelar dialog dengan sejumlah ahli geologi dengan tujuan melakukan manajemen aset. Dengan begitu penanganan kebencanaan dapat dilakukan secara antisipatif bukan reaktif.

“Diskusi ini lebih kepada pemetaan aset. Kita tahu hujan sudah turun satu tahun. Kita menyadari daerah yang banyak perbukitannya, tanahnya miring perlu ada penanganan dan rekayasa teknik meminialisir bencana,” jelasnya.

Mantan Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) itu menyatakan, pentingnya aset manajemen akan diketahui probabilitas dalam setiap kejadian bencana di kawasan tersebut. Aset manajemen ini akan memunculkan setiap infrastruktur di kawasan tersebut memiliki usia hingga berapa tahun dan segera dilakukan antisipatif. Tujuannya adalah pembangunan di Indonesia dapat secara berkelanjutan.

“Yang sudah dilakukan pemetaan jalan Trenggalek-Ponorog dan Kawasan Malang Selatan. Itu juga contoh yang akan dijadikan bahan diskusi bersama IAGI,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sukmandaru mengatakan, kerjasama antara IAGI dan PII ini sangat bagus dalam bersinergi pengurangan resiko kebencanaan. Menurutnya, IAGI nanti akan berperan terhadap pemetaan daerah rawan longsor dan banjir. Selama ini memang sudah ada pemetaan dari Pemerintah yakni melalui Badan Geologi.

“Kita nanti akan lebih detail dan dalam skala kecil. Misalnya yang sudah kita petakan di Jawa Timur adalah di daerah Trenggalek. Kita sudah investigasi awal beberapa titik rawan longsor yang bisa dilakukan rekayasa teknik,” ujarnya. @OPIK