Yang Instan jadi Idaman, yang Kolot Ditinggalkan

koranbanten.com-Tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, apa kabar pendidikan kita ? Sudah membaikah peringkat human indeks kita? Bagaimana persiapan generasi muda kita dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hamsari, Kepala SMP BCK Kota Cilegon, menilai MEA memiliki sisi positif dan negatif. Di sisi negatif, keadaan mental generasi muda dan masyarakat Indonesia belum siap untuk menghadapi MEA. Sedangkan, dari segi positif, generasi muda diberi ruang yang luas dan bebas untuk bersaing dan mengeskplorasi kemampuannya.

“Kita masih belum bisa bersaing dengan orang-orang asing yang notabene gesit-gesit dengan akselerasi hidup yang cepat. Namun, era MEA tidak dapat dipungkiri, bangsa kita mau tidak mau harus siap menghadapi persaingan dengan bangsa asing, Anak-anak kita ‘dipaksa’ untuk turut ngebut,” kata Hamsari di Ruang kerjanya beberapa waktu yang lalu.

Menurut Hamsari, pada umumnya generasi muda belum memiliki motivasi yang mendasar dalam dirinya untuk turut bersaing dengan bangsa asing, apalagi hingga harus bekerja ke luar negeri yang terkadang orang tua mereka tidak mengizinkan dan merasa berat untuk jauh-jauh dari anaknya. “Sebab orang Indonesia umumnya memiliki pemikiran makan engga makan kumpul, maka terkadang justru anak yang memiliki kemampuan dan keinginan untuk pergi ke luar negeri, orang tua mereka tidak memberi izin,” ungkapnya

Ia mengatakan, rasa cinta tanah air generasi muda pun kian menurun dan terkikis. Hal tersebut dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan dampak globalisasi yang bersifat instant, sehingga generasi muda lebih suka dengan budaya instan, berbau teknologi. Sedangkan, tanah air selalu berbau tradisional dan kolot. “Tetapi kita terus berupaya untuk selalu menumbuhkan rasa cinta tanah air, melalui upacara bendera setiap hari Senin, memeringati hari-hari besar, mengajarkan lagu-lagu nasional, dan penekanan terhadap mata pelajaran Pkn, mengadakan kegiatan pentas seni yang berbau budaya semisal tari tradisional dan kesenian Jawa,” kata Hamsari.

Hamsari menambahkan betapa pentingnya peran orang tua untuk membentuk pribadi tiap-tiap anak, sebab terbatasnya waktu di sekolah membuat guru tidak bisa mengawasi anak-anak secara intens dan penuh. Lanjutnya, Pembinaan di sekolah sudah selalu diupayakan, tetapi upaya tersebut juga butuh kerja sama dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat. “Semoga kita bisa mengambil bagian dalam MEA dan ikut bersaing, bukan sekadar menjadi penonton yang hanya bisa bersorak-sorai. Maka kita harus membekali keterampilan dan pengembangkan skill, sehingga anak-anak kita memiliki mental yang kuat untuk menghadapi MEA,” harapnya.