Rakyat Menantang Perusak Alam Berbalut Koorporasi

koranbanten.com – Konflik agraria masih menjadi hal yang tidak pernah terselesaikan di Negeri ini. Distribusi tanah untuk rakyat dan kebijakan pemerintah tentang pembagian 9 juta hektar tanah untuk petani masih di atas kertas. Sementara itu, keberadaan lahan sawah dan kebutuhan air bersih yang selama ini didapatkan masyarakat secara gratis dari alam kini menghadapi kenyataan pahit.

Pembangunan pabrik semen gresik di Jawa Tengah menghancurkan puluhan mata air yang dipakai petani mengairi sawahnya. Tidak jauh berbeda, pembangunban pabrik air kemasan PT Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) di Cadasari – Baros membuat sumur dan sawah warga kering.

Menyikapi hal tersebut, Aliansi Tolak Privatisasi Air (ATPA) yang terdiri dari beberapa organisasi mahasiswa di Serang – Banten melakukan aksi solidaritas untuk tanah dan air dengan cara memasung kaki, dalam tuntutannya ATPA menuntut, tutup Pabrik semen gresik di pegunungan kendeng Rembang, tutup PT Mayora Group di Baros dan bebaskan 3 pejuang air, Aksi dilakukan di depan halte IAIN SMH Banten, Rabu (29/03).

Dalam orasinya Haetami mengatakan, perjuangan warga kendeng merupakan inspirasi bagi perjuangan rakyat Cadasari – Baros. “Aksi solidaritas ini merupakan suatu perasaan senasib dari kelas sosial yang sama dimana petani selalu menjadi kelas tertindas dalam setiap kesepakatan antara negara dan koorporasi,” ujarnya.

Dilanjutkan Haetami, hingga hari ini secara rentetan solidaritas bermunculan diberbagai daerah dengan aksi “Pasung Kaki” dari mulai Palu, Yogyakarta hingga masyarakat Papua.

Dijelaskan Haetami, Pemerintah Daerah telah melakukan kekeliruan besardengan memberikan izin kepada perusahaan perusak alam melalui sebuah rekayasa ilmiah para punggawa peneliti bayaran terhadap barang juaqlan bernama Amdal.

“Mereka telah menciderai nalar dengan mengatakan bahwa mesin penyedot air tidak berbahaya bagi setiap mahkluk yang hidup. Kebohongan tersebut harus dikabarkan pada setiap sanak saudara, para tetangga, dan masyarakat luas,” tegasnya.

Ditambahkan Haetami, hari ini petani yang menghasilkan setiap bulir padi, sedang terancam oleh nafsu kepentingan biusnis segelintir orang. “Hari ini di Banten, kita mengecor kaki untuk menyampaikan pesan kepada penguasa, bahwa perjuangan akan tetap berlangsung, sebab perjuangan yang kita lakukan adalah upaya manusia menjaga alamnya. Mari kita tantang para perusak alam,” pungkasnya.(Kie).