Tingkatkan Literasi, PW PII Banten Diskusi Bareng PWI Banten

KORANBANTEN.com – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat tidak selalu membawa kemudahan bagi masyarakat pelajar. Membludaknya informasi yang dapat diakses melalui media justru membuat bingung. Sekarang, berita dan informasi yang ditampilkan melalui berbagai media tidak dapat dipastikan kebenarannya. Dan terkadang tidak jarang pelajar terbawa begitu saja akan arus berita-berita hoaks.

Melihat hal tersebut, Pengurus Wilayah (PW) Pelajar Islam Indonesia (PII) Banten mengadakan Diskusi Literasi bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Banten, yang dihadiri langsung Ketua PWI Provinsi Banten Firdaus, Pengurus Daerah (PD) Kota Cilegon, PD Kabupaten Lebak, PD Kabupaten Serang, PD Kota Tanggerang, PD Kota Tanggerang Selatan, selasa, (16/5) di Kantor PWI Provinsi Banten.

“Ini yang sangat dikhawatirkan, sikap ambigu para pelajar menyebabkan negara lemah,” kata Angga Wijaya selaku Ketua PW PII Banten.

Menurutnya, para pelajar hari ini harus mampu menafsirkan informasi sebagai pengguna informasi dan menjadi penghasil informasi bagi dirinya sendiri. Diskusi ini untuk membantu meminimalisir informasi bohong atau hoax yang beredar di media sosial bagi para pelajar.

“Sebagai pelajar tentu kita dituntut harus lebih selektif dalam memilih berita untuk dijadikan rujukan. Harus cerdas membaca supaya tahu kalau kabar itu benar atau tidak,” sambung Angga.
Indonesia termasuk negara besar dengan kehidupan demokrasi yang baik, dimana di dalamnya terdapat kebebasan pers. Tradisi ini perlu dijaga. Sangat disayangkan jika yang tersebar adalah berita-berita hoaks atau sekedar fake story.

“Masyarakat pelajar yang kritis tentu akan mendorong media pers agar menghadirkan informasi benar dan berdasarkan fakta,” pungkas Angga.

Sementara itu dikatakan Ketua PWI Provinsi Banten, Firdaus, rendahnya budaya litersi menjadi penyumbang penyebaran berita bohong atau hoax.

Budaya literasi kata Firdaus, tidak hanya terkait dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami yang dibaca secara komprehensif, sebelum membagikan informasi yang dibaca kepada masyarakat luas.

“Sebelum melakukan share informasi, kita verifikasi terselebih dahulu informasi tersebut,” tegas Firdaus. (FARS)