Ayat Singkatan
Demi pena dan apa yang mereka tuliskan” (QS. 68:1). Sumpah ini bukan sekadar retika puitis, melainkan sebuah proklamasi ilahi tentang pentingnya literasi, dokumentasi, dan integritas informasi—tiga pilar yang hari ini kita kenal sebagai fondasi wartawanme.
Dalam khazanah literatur langit, memang, ada ayat pembukaan yang begitu memuliakan instrumen intelektualitas, yakni Surat Al-Qalam. Dimulai dengan huruf muqatta’ah (huruf singkatan). Al-‘Alaq, ayat yang kali pertama turun, 1 – 5, juga menyangkut intelektualitas, tetapi tak dimulai demngan huruff singkatan.
Ayat singkatan surat Al-Qalam itu, “Nun”, menantang penafsiran lebih dalam. Sumpah Allah SWT dengan huruf singkatan, ada pada beberapa surat dalam Al-Quran, misalnya, pada surat Al-Baqarah, “Alif. Lam Mim”, pada surat Maryam, “Kaf Ha Ya ‘Ain Shad”, pada surat Asy-Syu’ara, “:Tha Sin Mim”, dan lain-lain.
Kekuatan Pena
Jika kita menilik konteks zaman saat ayat ini turun, masyarakat Arab adalah masyarakat lisan (oral culture) yang menggantungkan sejarah pada hafalan. Namun, Al-Qur’an melampaui zamannya dengan bersumpah demi “Pena” (Al-Qalam) dan “tulisan” (maa yasthurun). Ini adalah bentuk nubuat (ramalan) sekaligus perintah tersirat bahwa peradaban masa depan akan dibangun di atas tulisan.
Keyakinan akan kebenaran Al-Qur’an terbukti di sini bisa dirumuskan dalam pertanyaan, “Bagaimana mungkin seorang yang tidak membaca dan menulis (ummi) di tengah padang pasir 14 abad silam, mampu menangkap esensi peradaban modern, yaitu kekuatan pena?
Hari ini, dunia media massa dan media sosial adalah manifestasi nyata dari sumpah tersebut. Pena telah berubah bentuk menjadi papan ketik dan kode digital, dengan substansi dfan esensinya yang sama : mencatat kebenaran agar tidak lekang oleh waktu.
Wartawan, The Cleraing House
Irisan jurnalisme modern semakin tajam pada ayat kedua, “Dengan karunia Tuhanmu, engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.” (QS. 68:2). Ayat ini adalah prototipe dari kerja jurnalisme investigatif dan advokasi.
Saat itu, Rasulullah SAW diserang dengan narasi palsu (hoaks) dan stigmatisasi oleh elit Quraisy. Tujuan mereka, seperti umumnya hoaks diproduksi, untuk meruntuhkan kredibilitas seseorang atau kelompok. Hoaks terbukti jadi pula “senjata” mematikan.
Seiring dengan perjalanan awal dakwahnya, dan ketika itu tak disukai sejumlah elit Quraisy, maka dengan mudah mereka menyebarkan hoaks untuk merusak citra Rasulullah SAW. Mereka menyebar informasi palsu, “Muhammad gila”, (Al-Majnuuu) padahal sebelumnya mereka pula yang menyematkan gelar “Al-Amin” (Manusia Terpercaya) kepadanya. Mereka berkuasa, lalu lebih mudah jadi pusat produsen dan pengendali orkestrasi hoaks.
Al-Qur’an hadir sebagai media yang melakukan verifikasi data dan klarifikasi (tabayyun). Pada era jurnalisme modern yang kerap terjebak dalam arus post-truth, dan produksi kebohongan yang diulang-ulang. lama-lama kemudian dianggap sebagai kebenaran. Dua ayat Al-Qalam ini memberikan legitimasi moral bagi wartawan, juga menguatkan peran wartawan sebagai The Clearing House dan The Cleaning House.
Tugas wartawan bukan sekadar melaporkan apa yang dikatakan orang, melainkan juga melaporkan yang benar. Jika semua orang berkata “ia gila”, sedangkan fakta menunjukkan ia jujur, maka wartawan harus berani berdiri pada posisi ayat kedua surat Al-Qalam : membela kebenaran meski melawan arus opini massa.
Independensi Berpikir
Lebih jauh lagi, Surat Al-Qalam mengajarkan tentang independensi. Seorang wartawan harus memiliki kemandirian berpikir, independensi berpikir, yang diberikan sebagai “karunia Tuhan-Mu” (bi ni’mati Rabbika). Wartawan seperti ini tak akan mudah dikendalikan oleh kepentingan kekuasaan atau pemodal yang ingin memanipulasi atau membelokkan fakta.
Keajaiban Al-Qur’an terletak pada konsistensinya. Ia menempatkan aktivitas menulis sebagai hal yang sakral. Ketika seorang wartawan menulis dengan niat mencari kebenaran, ia sesungguhnya sedang menjalankan misi yang disumpahkan oleh Tuhan. Sebaliknya, ketika pena digunakan untuk menyebar fitnah, ia telah mengkhianati kesucian alat tulis yang disebut dalam wahyu pertama tersebut.
Jurnalisme sebagai Ibadah Intelektual
Al-Qur’an tak memisahkan spiritualitas dan intelektualitas. Jurnalisme modern sering kali terjebak pada objektivitas kering yang kehilangan ruh. Dengan menghayati Surat Al-Qalam, seorang wartawan muslim atau pemerhati etika dapat melihat profesi ini sebagai ibadah intelektual.
Setiap butir berita yang mencerahkan, setiap laporan yang membongkar ketidakadilan, dan setiap tulisan yang meluruskan hoaks adalah bentuk penempatan pena sebagaimana seharusnya seperti yang disumpahkan Allah SWT.
Ini mempertegas bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab hukum ritual, melainkan manual etika profesi yang sangat progresif.
Saksi, Pena, dan Tulisan
Surat Al-Qalam adalah pengingat bahwa di balik megahnya teknologi informasi hari ini, ada tanggung jawab moral yang tetap purba : kejujuran. Kebenaran Al-Qur’an bersifat melintasi waktu (shaalihun likulli zamanin wa makanin).
Al-Qalam yang tertulis dan turun sekitar 1.475 tahun lalu kini menjadi standar emas bagi profesi wartawan, “Bahwa pena harus digunakan untuk mencatat kebenaran, membela mereka yang difitnah, dan menjaga akal sehat bangsa”.
Di atas segalanya, Al-Qalam mengajarkan kita bahwa meski teknologi media terus berganti, maka pena dan tulisan akan selalu menjadi saksi sejarah. Kelak, kerja-kerja itu akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT, Sang Pemilik Kebenaran Mutlak. (Dean Al-Gamereau)





