Menyambut Hari Pers Nasional Tahun 2026 di Provinsi Banten. Pesan Al-Qur’an untuk Wartawan (36)

Karya tulis, termasuk karya junalistik, akan jadi amal saleh dan sedekah jariyah selama ditulis berdasarkamn iman dan untuk menginmgat Allah SWT. (Foto : google.com)

Syair dan Syiar
Al-Qu’an surat Asy-Syu’ara 224-226 memang memberikan kritik keras terhadap penyair yang hanya pandai merangkai kata tanpa integritas moral. Namun, kecaman tersebut tak berlaku mutlak bagi seluruh penulis (termasuk penulis features), melainkan bergantung pada niat dan dampak karyanya.

Posisi penulis features, yang juga bersyair, dalam konteks surat tersebut, terklait dengan perinhgatan ayat di atas. Namun , ada pengecualian bagi wartawan atau penulis yang beriman.

Bacaan Lainnya

Asy-Syu’ara 227 mengecualikan secara eksplisit: “Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal saleh serta banyak mengingat Allah dan membela diri setelah dizalimi”. Maka, ada syair untuk syiar yang terpuji.

Jika wartawan penulis features menggunakan keahliannya untuk menyampaikan kebenaran, menginspirasi kebaikan, dan membela nilai-nilai agama (syiar), maka ia masuk dalam kategori yang dipuji, bukan dikecam. Tokoh seperti Hassan bin Tsabit adalah contoh penyair yang menggunakan sastra untuk membela dakwah Rasulullah SAW.

Seni Menulis dan Syair
Kritik utama dalam Surat Asy-Syu’ara ada pada sikap inkonsistensi. Mereka yang mahir berkata-kata, namun perilakunya bertolak belakang dengan syair yang mereka hasilkan. Atau bunyi syair mereka tak menjadi syiar. Asy-Syu’ara 225 – 226 memberi peringatan untuk semua ini.

Tafsir Asy-Syu’ara 225, “Yang dimaksud dengan ayat ini ialah bahwa sebagian penyair-penyair suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan baik tertentu serta tidak memiliki pendirian”. (Terjemah Makna Al-Qur’an Bahasa Inonesia,Kemenag RI).

Seorang wartawan atau penulis yang menyusun narasi kemanusiaan atau religius (syiar) wajib menjaga integritas. Jika tulisan (karya jurnalistik) tersebut menjadi sarana dakwah yang jujur, dan didasari hasil riset yang memadai, juga bermanfaat untuk umat, maka tulisan (karya jurnalistik) tersebut menjadi amal jariyah.

Puisi zaman jahiliyah, atau zaman sekarang, kalau saja digunakan untuk kesombongan atau menjatuhkan kehormatan orang lain, maka syair atau puisi, atau features seperti inilah yang dikritik Al-Qur’an.

Syair Brpijak pada Iman
Penulisan features modern memiliki kekuatan naratif untuk membangkitkan empati pembaca melalui kisah nyata. Juga, mampu menjelaskan nilai-nilai Islam secara kontekstual dan mendalam untuk melawan hoaks atau propaganda negatif terhadap agama.

Penulis features yang bersyair dan bersyiar tak termasuk dalam golongan yang dikecam selama karyanya berpijak pada kebenaran (iman), diikuti dengan tindakan nyata (amal saleh), dan tujuannya adalah untuk mengingat Allah SWT (dzikrullah).

Dalam Islam, seni menulis dan sastra adalah alat. Hukumnya bergantung pada siapa yang memegang alat tersebut dan untuk apa digunakan. Maka, seni menulis jadi netral, tergantung the man behind the gun (Dean Al-Gamereau).

Pos terkait