Menyambut Hari Pers Nasional Tahun 2026 di Provinsi Banten. Pesan Al-Qur’an untuk Wartawan (37)

Jurnalisme Sastrawi

Tak sekadar fakta dan data, tetapi juga narasi memikat dan mendalam. Unsur sastra memasuki wilayah narasi yang berbasis fakta dan data itu, maka lahirlah jurnalisme sastra atau jurnalisme sastrawi.

Bacaan Lainnya

Ringkasnya, jurnalisme sastrawi merupakan gabungan berita dan sastra. Istilah dalam bahasa Inggris, new journalism (jurnalisme baru). Jurnalisme sastrawi ditulis dengan teknik naratif sastra untuk melukiskan kisah nyata. Enak dibaca dan perlu, meminjam slogan majalah Tempo.

Inilah rumusan jurnalisme sastrawi, “Jurnalisme sastra adalah bentuk nonfiksi kreatif yang menggunakan gaya bercerita dramatis untuk melaporkan peristiwa aktual. Berbeda dengan berita konvensional (straight news) yang lugas dan singkat. Jurnalisme sastra fokus pada detail suasana, karakter manusia, dan emosi tanpa mengorbankan akurasi. Ada “bungan-bunga” bahasa pula.

Pelopor jurnalisme sastrawi (literacy journalism), Tom Wolfe, merumuskan empat teknik utama yang membedakannya dari jurnalisme konvensional. Tom merumuskan elemen jurnalisme sastrawi ini secara serius, dalam esai terkenalnya, “New Journalism” (1973).

Tom meninggal dunia pada usia 88 tahun. Warisan besarnya, literacy journalism dan sastra Amerika Serikat. Tom lahir di Richmond, Virginia (Amerika Serikat), 2 Maret 1930, meninggal duna di New York (Amerika Serikat), 14 Mei 2018

Tom menekankan literacy journalism yang dipeloporinya itu sebagai jurnalisme serius, bukan fiksi. Kata Tom, “It was not fiction. It was journalism” (“Bukan fiksi, melainkan  jurnalisme”). Kini, keempat teknik utama literacy journalism itu :

  1. Adegan demi Adegan

Membangun narasi melalui rangkaian adegan hidup, bukan sekadar ringkasan informasi.

  1. Dialog Utuh

Mencatat dan menyajikan percakapan secara realistis untuk menghidupkan karakter, bukan hanya kutipan pendek.

  1. Sudut Pandang Orang Ketiga 

Menempatkan pembaca “di dalam kepala” tokoh atau melihat peristiwa dari perspektif subjek yang diberitakan.

  1. Detail Status

Mencatat secara rinci perilaku, gaya hidup, hingga gerak tubuh subjek untuk memberikan gambaran karakter yang mendalam.

Karakteristik Utama

  1. Berbasis Fakta (Fact-based).

Meski gayanya seperti novel, setiap informasi harus hasil dari reportase mendalam, wawancara, dan verifikasi lapangan.

  1. Imersi (Penghayatan).

Penulis biasanya terlibat atau mengamati subjek dalam waktu lama untuk memahami konteks secara utuh (immersion journalism).

  1. Suara Penulis (Authorial Voice):

Memungkinkan adanya perspektif subjektif atau gaya bahasa personal yang kuat dari penulisnya.

  1. Struktur Alur. 

Memiliki pembukaan, konflik, dan penutup layaknya sebuah cerita pendek atau novel.

Jurnalisme Sastrawi dan  Features

Walaupun sering dianggap mirip, jurnalisme sastra biasanya memiliki narasi yang lebih panjang, riset yang jauh lebih mendalam (bisa berbulan-bulan), dan penggunaan elemen sastra yang lebih kompleks dibandingkan artikel feature standar.

Di Indonesia, teknik ini banyak dipopulerkan oleh majalah Tempo dan karya-karya seperti buku investigasi Bre-X karya Bondan Winarno.

Dalam konteks jurnalisme sastra,  ayat-ayat ini menjadi “pagar” agar: Keindahan narasi (sastra) tidak boleh mengabaikan kejujuran fakta (jurnalisme) Subjektivitas penulis tidak boleh menjadi alat untuk memfitnah atau menghasut. (Dean Al-Gamereau)

Pos terkait