KOTA TANGERANG – Suasana belajar tak melulu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Sejumlah sekolah di Kota Tangerang kembali mengintensifkan kegiatan outing class atau pembelajaran di luar ruang sebagai bagian dari strategi meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus membangun karakter siswa.
Berbeda dengan kegiatan wisata biasa, outing class dirancang sebagai bagian dari proses akademik. Para siswa tidak sekadar berkunjung, tetapi melakukan observasi langsung, berdiskusi dengan narasumber, hingga menyusun laporan sebagai bentuk evaluasi pembelajaran.
Raka (14), siswa kelas VIII, mengaku metode belajar di luar kelas membuat materi lebih mudah dipahami. Ia mencontohkan saat kunjungan ke museum, dirinya bisa melihat langsung benda-benda bersejarah yang sebelumnya hanya dipelajari lewat buku.
“Kalau cuma baca buku kadang cepat lupa. Tapi waktu kami kunjungan ke museum, saya bisa lihat langsung bendanya dan dengar penjelasan pemandu. Jadi lebih kebayang dan lebih nempel di ingatan,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Siti (13), siswi kelas VII. Menurutnya, outing class tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga melatih keberanian dan kebersamaan.
“Seru karena bisa belajar sambil bareng teman-teman. Kita jadi lebih kompak dan berani tanya ke narasumber. Biasanya saya malu, tapi kemarin jadi lebih percaya diri,” katanya.
Para guru menilai, pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning terbukti mampu meningkatkan daya serap siswa. Dengan melihat dan merasakan langsung objek pembelajaran, siswa tidak sekadar menghafal teori, tetapi memahami konteksnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan outing class disesuaikan dengan mata pelajaran. Untuk sejarah, siswa biasanya mengunjungi museum atau situs bersejarah.
Untuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), kunjungan dilakukan ke pusat sains, taman konservasi, atau fasilitas penelitian sederhana. Sementara pada mata pelajaran ekonomi dan kewirausahaan, siswa diajak mengamati aktivitas pasar maupun pelaku usaha kecil.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar, menegaskan bahwa outing class merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran kontekstual yang didorong oleh Dinas Pendidikan.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan abad 21.
“Kami mendorong sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna. Outing class harus memiliki tujuan yang jelas, relevan dengan kurikulum, serta memberi pengalaman nyata kepada siswa,” ujarnya.
Wahyudi juga menekankan bahwa aspek keselamatan dan keterjangkauan biaya menjadi perhatian utama. Setiap kegiatan, lanjutnya, wajib melalui perencanaan matang dan persetujuan orang tua.
“Keamanan siswa adalah prioritas. Sekolah harus memastikan pendampingan guru memadai, lokasi aman, serta kegiatan tidak memberatkan orang tua. Prinsipnya, kegiatan ini edukatif dan inklusif,” tegasnya.
Sementara itu, Dimas (15), siswa kelas IX, mengaku suasana belajar di luar kelas membantu mengurangi kejenuhan.
“Belajar di kelas terus kadang bikin jenuh. Waktu outing class, suasananya beda dan lebih santai, tapi tetap dapat ilmunya. Jadi semangat lagi pas balik ke sekolah,” ungkapnya.
Selain meningkatkan pemahaman akademik, kegiatan ini juga melatih keterampilan non-akademik seperti komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, hingga tanggung jawab individu. Siswa dituntut aktif bertanya, mencatat, dan mempresentasikan hasil pengamatan mereka di kelas setelah kegiatan berlangsung.
Dengan dukungan Dinas Pendidikan dan perencanaan yang tepat, outing class diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan bagian dari strategi pembelajaran yang membangun karakter, kreativitas, serta pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi generasi muda Kota Tangerang.
(Zher)





