MIMBAR JUMAT Setelah Bulan Ramadan Berakhir, Kita Salat Tahajud atau Salat Malam

Itikaf. Mengurung diri di masjid, memutuskan diri dengan dunia luar, khusus fokus ibadah. Taqarrub kepada Allah SWT pada 10 hari terakhir Ramadan. (Foto : https://mozaik.inilah.com)

Salat tahajud dan salat malam ditulis dalam Al-Qur’an, pada surat Al-Isra 79 (salat tahajud) dan pada surat Al-Muzzammil (salat malam). Kedua salat itu hanya diamalkan pada waktu malam. Para ulama sepakat, kedua salat tersebut hukumnya sunah, artinya, berpahala kalau diamalkan, tak berdosa kalau tak diamalkan.

Ada perbedaan praktik dalam pengamalan salat tahajud, salat malam, salat tarawih (qiyaamu Ramadan), dan qiyaamu Lailatul qadar Dua macam salat terakhir itu baru saja kita amalkan selama bulan Ramadan 1447 H kemarin. Jumlah rakaat seluruh jenis atau macam-macam salat di atas tak lebih dari 11 rakaat.

Bacaan Lainnya

Salat Tahajud

Salat tahajud adalah salat malam setelah tidur. Tahajud sendiri, bahasa Arab, berasal dari kata tahajjada, yang berarti tidur pada waktu malam atau bangun dari tidur pada waktu malam. Hajada sendiri berarti bangun tidur pada malam hari untuk beribadah. Ahli tafsir Ath-Thabari dan Ibnu Katsir sama-sama menyebut salat tahajud adalah salat malam setelah (bangun) tidur.

Asy-Syaukani dalam tafsir Fathu Al-Qadiir, saat menafsirkan surat Al-Isra 79, menyebut salat tahajud sebagai ash-shalaatu billaili ba’da an-naumi (salat pada waktu malam setelah tidur).

Kalau Rasulullah SAW mau salat tahajud, setelah bangun tidur, beliau salat dulu dua rakaat, ringan dan santai saja (bahasa hadisnya khafiifataini). Salat ini, dalam fikih, dikenal dengan nama salat iftitah (salat pembuka), dinamai demikian, karena hadisnya dimulai dengan yaftatihu (membuka/mengawali ibadah salat), sebagaimana hadis dari Abu Hurairah, dicatat Muslim dan Ahmad.

Salat Malam

Salat malam (qiyaamu al-lail) diamalkan tak perlu tidur dulu. Misalnya, salat witir (salat rakaat bilangan ganjil), boleh kita amalkan setelah salat isya, tak perlu tidur dulu. Salat tahajud dan salat tarawih disebut jua salat malam karena diamalkan pada waktu malam,

Salat witir ini selalu menyertai salat tahajud, salat tarawih, dan lain-lain. Hadis menyebutkan, “Jadikanlah akhir salat malam kamu dengan witir (hadis dari Abdullah bin Umar, dicatat Al-Bukhari dan Muslim).

Atau, misalnya kita membaca Al-Qur’an sampai larut malam, lalu ingin salat malam, maka salatlah! Ini salat qiyaamu al-lail, bukan salat tahajud, karena – seperti disampaikan sebelumnya – salat tahajud diamalkan setelah bangun tidur malam. Tahajud yang berarti bangun tidur setelah tidur malam itu kemudian jadi nama ibadah salat tahajud.

Salat Tarawih

Salat tarawih termasuk salat malam, tetapi diamalkan hanya pada bulan Ramadan. Ada dua nama sebetulnya, pertama qiiyaamu Ramadan (salat bulan Ramadan) dan qiyaamu lailatu al-qadar (salat lailatu al-qadar). Salat ini diamalkan pada 10 hari terakhir Ramadan.

Kedua-duanya ada hadisnya. “man qaama Ramadlaana…” (dari Abu Hurairah, dicatat Al-Bukhari dan Muslim) dan hadis “man qaama lailata al-qadari…” (dari Abu Hurairah, dicatat Al-Bukhari dan Muslim).

Istilah salat tarawih sendiri tak ada pada zaman Rasulullah SAW. Nama yang ada, qiyaamu Ramadan atau qiyaamu lailatu al-qadari. Kata tarawih, isim jamak (plural) dari kata mufrad (tunggal) tarwiihah (santai). Di antara salat tarawih itu ada jeda untuk santai, untuk beristirahat, misalnya, baca Al-Qur’an, berdoa, bahkan mungkin bercakap-cakap dulu. Jadi, salat tarawih bisa dilakuan dengan selang-seling amal atau aktivitas lain. Salat tarawih tak selalu diamalkan secara berkesinambungan (kontinuitas).

Cara salat tarawih atau qiyaamu Ramadan atau qiyaamu lailatu al-qadar itu (yang hanya diamalkan pada bulan Ramadan), jumlah rakaatnya tak lebih dari 11 rakaat, dengan formasi 4 rakaat, 4 rakaat, dan 3 rakaat. Semua hanya sekali salam, sekali duduk attahiyat terakhir. Jadi, 3 kali duduk attahiyat terakhir dengan 3 kali salam.

Ibnu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah tentang cara salat Rasulullah SAW pada bulan Ramadan. Jawab Aisyah, “Tidaklah lebih dari 11 rakaat, baik pada bulan Ramadan maupun pada bulan lainnya. Beliau salat 4 rakaat, maka janganlah bertanya tentang lamanya dan kebaikannya.Lalu, salat empat rakaat lagi. Jangan pula bertanya tentang lamanya dan kebaikannya. Lalu, salat tiga rakaat…”.

Hadis yang datang dari Aisyah (istri Rasulullah SAW) dan dicatat Al-Bukhari di atas jelas dan tegas menunjukkan jumlah rakaat (kammiyah) dan tata cara (kaifiyah) salat pada bulan Ramadan, atau yang kini kita kenal salat tarawih itu.

Sejauh ini, belum ada hadis sahih lain yang menjelaskan tentang kammiyah (jumlah rakaat) dan kaifiyah (tata cara) salat pada bulan Ramadan kecuali hadis seperti di atas.

Rakaat Salat Tahajud atau Salat Malam

Salat tahajud atau salat malam, seperti diterangkan dalam hadis-hadis sahih, tetap tak lebih dari 11 rakaat (berdasarkan hadis di atas), dengan beberapa cara.

1. Sepuluh rakaat dan 1 rakaat witir. Dua-dua rakaat sebanyak lima kali (jadi 10 rakaat), lalu ditambah satu rakaat witir. Jumlahnya, 11 rakaat (dari Aisyah, dicatat Al-Bukhari dan Muslim).

2. Delapan rakaat (2 rakaat, 4 kali) dan 3 rakaat witir. Jumlahnya, 11 rakaat. (dari Ibnu Abbas dan Abdullah bin Umar. dicatat Ibnu Majah).

3. Enam rakaat (tiga kali dua rakaat) dan 5 rakaat witir sekali salam. Dalam salat witir lima rakaat ini duduk attahiyat sekali saja, pada rakaat terakhir (rakaat kelima). Jumlahnya, 11 rakaat (dari Aisyah, dicatat Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad bin Hanbal).

4. Tujuh rakaat witir dan 2 rakaat. Jumlahnya, 9 rakaat. Tujuh rakaat dengan cara duduk attahiyat awal pada rakaat keenam, lalu berdiri, ditambah satu rakaat, dan duduk pada attahiyat akhir, lalu salam. Jumlahnya, 7 rakaat. Lalu, ditambah salat 2 rakaat, sambil duduk. Jumlah semuanya, 9 rakaat. Salat 9 rakaat seperti ini dilakukan setelah tubuh Rasulullah SAW lebih gemuk (hadis dari Aisyah, dicatat Abu Dawud). Ada juga hadis lain yang menyebutkan setelah Rasulullah SAW berusia lanjut (lemah). Jumlah rakaatnya, 9 rakaat, tak bertentangan dengan hadis Aisyah yang menyebut salat malam Rasulullah SAW tak lebih dari 11 rakaat.

5. Sembilan rakaat witir dan 2 rakaat. Caranya, duduk attahiyat awal pada rakaat kedelapan, lalu berdiri, terus duduk pada rakaat kesembilan, attahiyat akhir, dan salam. Lalu, salat dua rakaat. Jumlah semuanya, 11 rakaat (dari Aisyah, dicatat Abu Dawud).

Kini, setelah Ramadan 1447 H berakhir, salat tarawih pun berakhir, maka sebaiknya diteruskan dengan salat tahajud atau salat malam dengan macam-macam format rakaat, sebagaimana tersebut di atas. Kita bisa pilih salah satu cara atau format rakaat salat tahajud atau salat malam.

Salat malam itu meliputi salat tahajud, salat witir, dan salat tarawih. Jadi, setiap salat tarawih pasti salat malam, tetapi tak setiap malam itu pasti salat tarawih, karena ada salat malam lain, salat tahajud dan salat witir. Salat tahajud dan salat tarawih khususnya, sama-sama (tak lebih dari) sebelas rakaat, tetapi dengan formasi rokaat yang berbeda-beda, sebagaimana tersebut di atas.

Demikian hasil kajian selama itikaf Ramadan 1447 H, di Masjid Hadyu Rasul, Kota Serang. Sumber kajian, buku-buku terbitan Dewan Hisbah PP PERSIS : buku Risalah Shalat dan buku Masalah Ramadhan dan Idul-Fitri, serta buku Fatwa-Fatwa Seputar Ramadhan, karya ketua umum PP PERSIS 2015 – 2020, A. Zakaria. Sampai berjumpa lagi di arena itikaf Ramadan 1448 H, in syaa Allah. (Dean Al-Gamereau).

 

 

Pos terkait