(Bagian Keempat dari Empat Tulisan)
Suatu pagi yang cerah, dan halaman langit tak berawan, di Kampung Kaduketug, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Hari ini, Rabu (14 Februari 2024) saatnya penggunaan hak pilih pemilu presiden dan wakil presiden.
Sinar matahari sudah mulai menerobos daun dan dahan, Nak! Burung-burung mulai bernyanyi-nyanyi mendendangkan kebebasan. Seperti pagi ini, kita pun bebas memilih calon presiden dan wakil presiden di balik bilik rahasia tempat pemungutan suara (TPS).
Sebelum berangkat ke huma di atas bukit, kita ke TPS dulu, dekat rumah. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), tetangga kita juga. Dia rajin sekali menjelaskan pentingnya penggunaan hak pilih. Surat pemberitahuan penggunaan hak pilih, kita bawa bukan?
Nanti kita tukar dengan surat suara. Ada foto-foto pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di situ. Mereka tersenyum, tetapi suka sekali kalau foto mereka ditusuk “paku demokrasi”.
Untuk kali pertama kau menggunakan hak pilih. Ibumu sudah sekian kali menggunakannya. Kini, pilih presiden dan wakil presiden yang kausukai, bebas, seperti nyanyi pagi burung-burung di belakang rumah kita. Bebas pula kau memilih mereka, seperti kau bebas memilih kembang melati yang kemudian terselip di rambut hitam legammu.
Namun, pilihlah calon presiden dan wakil presiden yang akan berjuang untuk kita! Kau pernah dengar pidato kampanye? Atau, pernah pula kau saksikan debat mereka di televisi, di rumah tetangga seberang sana?
Dengan suaranya yang serak-serak basah, dan sambil mengepalkan tinju ke atas, mereka berjanji akan memperbaiki nasib orang-orang seperti kita. Suaranya menggelegar. Mereka berjanji, bahkan cenderung bersumpah, akan memperbaiki nasib orang-orang seperti kita – kalau kelak terpilih.
Satu suaramu yang sah, Nak, sama harganya dengan satu suara sah seorang calon presiden atau wakil presiden. Suara sahmu akan berarti, biar pun nanti hanya seperti setitik air yang jatuh ke laut luas sejauh mata memandang.
Kau mau memilih siapa? Anies, Ganjar, Prabowo? Terserah! Itu bebas dan rahasia, bukan? Pilihan kita bisa sama, bisa pula berbeda. Di sini, anakku bukan anakku! Kau bukan fotokopi aku! Namun, kita tak termasuk golput, bukan? Ada spanduk yang terpasang di kantor desa tetangga, kabarnya berbunyi, “Golput tidak keren”. Ibumu jadi keren, kau juga, karena kita sama-sama menggunakan hak pilih. Kau pasti cakap memilih setelah berlatih di kampung, dalam sebuah simulasi pemilu yang digelar KPU.
Kita keluar dari TPS, disambut senyum petugas, lalu kita masukkan surat suara ke sebuah kotak. Jari kelingking kita dibalut tinta ungu. Tugas kita selesai. Kata orang, lima menit di TPS itu sebuah pertaruhan : bisa menyesal atau bahagia untuk selama lima tahun. Kata orang, kau sudah punya kecakapan literasi karena tahu dan paham tentang surat suara. Bahkan, kau paham pula untuk apa foto calon presiden dicoblos.
Kini, biarlah, calon presiden dan wakil presiden yang kelak terpilih berpikir tenang. Kita tetap meratakan tanah dan menabur benih di sini, sambil sesekali kita nikmati sejuknya angin pegunungan.
Mereka yang nanti terpilih, pasti akan berbicara banyak hal, tentang kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan semua hal demi dan untuk kita hidup lebih baik, lebih sejahtera, seperti yang mereka janjikan. Kalau mereka tak menepati janjinya, kita buat saja komunitas penagih janji kampanye, bukan?
Ketika kita ke kota, sering sekali pula kita saksikan kemelaratan di tengah gedung indah dan sedan mewah. Kita lebih baik dari mereka, Nak, biar pun pakaian kita sama-sama lusuh berlapiskan debu.
Matahari sudah naik. Hari mulai panas. Baru saja kita gunakan hak pilih di TPS. Kita ke huma di atas bukit. Tetangga kita sedang menghadapi musim panen. Kita pernah ikut menabur benih sebelumnya.
Hasil pemilihan presiden dan wakil presiden kita tanyakan saja nanti kepada tetangga yang punya televisi, di kampung seberang sana. Maka, nyanyi pagi “Literasi dalam Rimbunnya Desa Kanekes” pun sampai di sini. (Dean Al-Gamereau),





