Erupsi Anak Krakatau Mereda, Dokter Bethsaida Ingatkan Risiko Abu Vulkanik bagi Paru-paru

SERANG — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang berlangsung sejak awal September 2026 mungkin telah mereda. Namun, bagi masyarakat yang sempat terpapar abu vulkanik, persoalan kesehatan belum tentu selesai bersamaan dengan berhentinya aktivitas erupsi.

Abu vulkanik yang terbawa angin sempat menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu. Berdasarkan laporan BMKG, erupsi yang dimulai pada 4 September 2026 menghasilkan kolom abu dengan ketinggian hingga 20.000 kaki ke arah timur dan 50.000 kaki ke arah barat.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut membuat masyarakat yang berada di wilayah terdampak, termasuk Serang dan sekitarnya, tetap perlu memperhatikan kesehatan pernapasan meski kondisi udara mulai membaik.

Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Serang, dr. Rifian Arnanda, Sp. P, menjelaskan abu vulkanik tidak dapat disamakan dengan debu biasa. Partikel yang sangat halus dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru.

«“Debu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikelnya bisa masuk sangat dalam ke paru-paru dan memicu peradangan serius, terutama pada mereka yang sudah memiliki kondisi pernapasan seperti asma atau PPOK,” jelas dr. Rifian Arnanda, Sp. P.»

Kenali Gejala Setelah Terpapar Abu Vulkanik

Masyarakat yang sebelumnya terpapar abu vulkanik perlu memperhatikan sejumlah keluhan yang muncul setelah paparan. Beberapa gejala yang patut diwaspadai antara lain:

1. Batuk kering berkepanjangan, disertai rasa gatal atau iritasi di tenggorokan.
2. Sesak napas atau dada terasa berat, terutama setelah beraktivitas.
3. Hidung tersumbat atau mengeluarkan lendir secara berlebihan.
4. Mata merah, perih dan berair akibat iritasi.
5. Mengi atau napas berbunyi, khususnya pada penderita asma.

Menurut dr. Rifian, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil serta penderita penyakit paru, termasuk asma dan PPOK, perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan abu vulkanik.

“Orang dewasa sehat pun tetap dapat mengalami gangguan apabila sebelumnya terpapar abu dalam jumlah cukup banyak,” ujarnya.

Erupsi Mereda, Abu di Lingkungan Tetap Perlu Diwaspadai

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah sisa abu yang masih menempel di rumah maupun lingkungan sekitar.

Jika masih terdapat endapan abu, masyarakat dianjurkan tidak menyapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.

Pembersihan menggunakan metode basah dapat membantu mengurangi abu yang kembali terangkat ke udara.

Selain itu, masyarakat dapat memperhatikan kualitas udara di dalam rumah. Ventilasi dapat dibuka ketika kondisi udara luar sudah memungkinkan. Penggunaan air purifier dengan filter HEPA juga dapat membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan.

Untuk mengurangi paparan lanjutan ketika berada di lingkungan yang masih berdebu, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi partikel yang baik, seperti N95, dapat menjadi pilihan dibandingkan masker kain biasa.

Yang tidak kalah penting, masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh dalam beberapa hari setelah paparan.

Batuk yang menetap, sesak napas, dada terasa berat maupun mengi sebaiknya tidak diabaikan, terlebih jika keluhan semakin berat.

Jangan Tunggu Kondisi Memburuk

Masyarakat perlu segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak napas yang memburuk, nyeri dada menetap, napas berbunyi disertai kesulitan berbicara, bibir atau ujung jari membiru, atau demam tinggi yang disertai gejala pernapasan.

Kondisi tersebut membutuhkan evaluasi medis, terutama bagi kelompok rentan maupun masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru.

Bethsaida Hospital Serang Siapkan Layanan Kesehatan Paru

Sebagai bagian dari pelayanan kesehatan bagi masyarakat Banten, Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi dan skrining kesehatan paru dengan dukungan fasilitas diagnostik dan tenaga medis.

Masyarakat yang sebelumnya berada di wilayah terdampak abu vulkanik dan kemudian mengalami keluhan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas atau napas berbunyi dapat berkonsultasi untuk mendapatkan evaluasi kondisi paru serta penanganan yang sesuai.

Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya, menegaskan komitmen rumah sakit untuk hadir memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya ketika kualitas udara menjadi perhatian.

«“Kami mengimbau seluruh masyarakat di wilayah yang sebelumnya terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk tidak meremehkan keluhan pernapasan yang muncul. Fasilitas dan tenaga medis kami siap memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya.(*)

Pos terkait