Relasi Begawan dan Kerajaan
Dalam dunia pewayangan, ada dua begawan (dari banyak begawan) : Abiyasa dan Dorna. Begawan Abiyasa guru spiritual Kerajaan Amarta, dengan rajanya Yudistira, sedangkan Begawan Dorna, guru spiritual Kerajaan Astina, dengan Rajanya Suyudana.
Kalau Kerajaan Amarta sedang susah dan menghadapi masalah, seperti cerita sastrawan Ahmad Tohari dalam Panjimas tahun 1980-an, lalu Yudistira dan Pandawa Lima lainnya mendatangi Padepokan Begawan Abiyasa. Minta nasihat.
Berbeda dengan Kerajaan Astina, kalau sedang susah dan ada masalah, justru Begawan Dorna-lah yang datang ke Kerajaan Astina. Begawan Dorna keluar masuk kerajaan.
Dua karakter begawan yang memang kontras, seperti dilukiskan Padepokan Giri Harja, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Begawan Abiyasa ditampilkan sebagai resi sepuh, lembut, tenang, penuh laku batin, dan jauh dari intrik politik. Abiyasa dilukiskan pula sebagai begawan yang sudah melampaui batas dunia.
Begawan Dorna ditampilkan sebagai guru sakti yang pintar, dekat dengan kerajaan, penuh perhitungan, tetapi licik, dan politis. Orang Sunda melukiskannya sebagai ahli strategi, tetapi tidak lurus, dan rumit secara moral.
Tiga Relasi Ulama – Umara
Ketua Umum PP Persatuan Islam (PERSIS), K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag, berbincang santai tentang relasi ulama – umara (penguasa), dengan pewara (host) Tatan Ahmad Santana, dalam sebuah siniar (podcast), baru-baru ini.
Ahmad Santana memancing Abu Himam, kun-yah Ketua Umum PP PERSIS, dengan pertanyaan yang bukan fikih ibadah mahdlah, “Pola yang ideal relasi ulama – umara untuk sekarang ini, seperti apa?”.
Para pemikir politik Islam, demikian Abu Himam, memetakan tiga kategori. Pertama, relasi integralistik agama dan negara, seperti zaman Rasulullah SAW yang dilanjutkan oleh khulafaa-u Ar-rasyidiin (30-an tahun).
Kedua, relasi sekuleristik, ulama (agama) dan umara (negara) dipisahkan, seperti Turkiye (dulu, Turki) zaman Mustafa Kemal At-Tatruk pascaruntuhnya khilafah (1923 – 1938). Halim Alp (Tekin Alp), seorang ideolog sipil Republik Turkiye, pemikir politik, dan penulis, membuat puisi sekulerisasi dalam buku Din Sirkesi (Sirkus Agama). Salah satu baris puisinya berbunyi “…Aku datang sebagai pemecah. Tandatangani segera surat cerai antara agama dan negara…”.Sekulerisme banget.
Namun, puluhan tahun kemudian, Sekulerisme Turkiye memudar, perlahan berpaling lagi ke Islam. Ini antara lain ditandai dengan kemenangan Refah Partisi (Partai Kesejahteraan), pada dua kali pemilu lokal dan nasional setempat (1994 dan 1995). Ketuanya, Necmettin Erbakan, jadi perdana menteri Turkiye (1996 – 1997),
Tahun 1998, Refah Partisi dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi Turkiye karena divonis melanggar asas Sekulerisme. Para kader Refah Partisi mendirikan partai lagi, Fazilet Partisi (Partai Kebajikan), tetapi kemudian “pecah” jadi dua partai.
Necmettin Erbakan mendirikan Saadet Partisi (Partai Kebahagiaan) yang konservatif dan Recep Tayyip Erdogan mendirikan Adalet ve Kalkinma Partisi (Partai Keadilan dan Pembangunan) yang reformis.
Erdogan, mantan wali kota Istanbul (1994 – 1998), lewat partainya ini, jadi perdana menteri Turkiye (2003 – 2014), lalu jadi presiden (2014-2018) terpilih lagi (2018 – 2023), dan terpilih lagi untuk masa jabatan 2023 – 2028.
Konstitusi Turkiye sampai sekarang masih sekuler, tetapi juga bukan negara syariah. Para pengamat menyebutnya sebagai negara sekuler dengan identitas keislaman yang lebih kuat. .
Ketiga, relasi simbiosis mutualistik, relasi dwitunggal ulama (agama) dan umara (negara), dengan konsep berbagi peran. Dalam bahasa Sunda, kata Abu Himam, yang juga lulusan S-2 politik Islam UIN SGD Bandung ini, pola relasi dwitunggal atau saudara kembar itu ibarat pinang dibelah dua.
Al-Ghazali menyebutnya sebagai teori saudara kembar (tauamaani). Ulama dan umara bergandengan, berperan masing-masing untuk membangun umat dan peradaban berdasarkan nilai agama.
Al-Mawardi juga berbicara konsep yang serupa dengan Al-Gazali. “Kiranya, relasi saudara kembar ulama – umara inilah yang cocok untuk sekarang ini,” tegas Abu Himam. “Agama pangkalnya dan kekuasaan (negara) penjaganya,” tambah Abu Himam, mengutip Al-Gazali lagi.
“Mahkota” Relasi Ulama – Umara
Mestikah ulama menjauhi penguasa, seperti Begawan Abiyasa yang menjauhi politik dan Kerajaan Amarta, lalu harus seperti Begawan Dorna yang politis dan dekat dengan Kerajaan Astina?
Jadi dilematis, kata Abu Himam, ketika agama harus ditegakkan, tetapi politik dijauhi. Paham ulama diharamkan berkolaborasi dengan penguasa tidak lebih dari “korban” hadis lemah atau palsu.
”Ulama dan umara itu musuh seteru,” salah satu bunyi hadis palsu itu, seperti dikutip Abu Himam. “Pemahaman hubungan ulama – umara perlu direposisi dan atau direkonstruksi dengan benar,” tegas Abu Himam.
Ahmad Santana menutup pertanyaan kunci, dalam siniar (podcast) itu, dan ini menohok ke tubuh internal jamiyah, tentang relasi PERSIS dengan kekuasaan (umara). Di daerah, PW/PD/PC PERSIS harus bersinergi, harmoni, dan kolaborasi dengan penguasa setempat. Pertanyaan kunci itu, “Apakah ulama bisa menjaga integritasnya ketika dekat dengan kekuasaan?”
Jawab Abu Himam, “Sekali lagi, pahami relasi saudara kembar ulama – umara! Jangan terpengaruh oleh hadis palsu, bahwa ulama dan umara itu dua musuh seteru”. Ulama dekat dengan umara tidak berarti berpihak.
Ulama harus tetap ingat pada ayat “ulama hanya takut kepada Allah”. (Fatir : 28). Ulama akan diuji integritasnya ketika berhadapan dengan umara, karena tak akan selalu baik-baik saja. Ulama harus mengkaji secara objektif atas kebijakan-kebijakan umara dengan perspektif Islam.
“Kalau ulama harus ikut menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, maka batallah jadi ulama karena sudah meninggalkan dan menanggalkan keulamaannya,” kata Abu Himam. Ulama harus jadi penasihat umara, penasihat yang tulus, seperti Begawan Abiyasa kepada Raja Amarta.
Idealnya, relasi ulama – umara itu, ulama menjaga arah kompas moral, umara menggerakkan roda pemerintahan. Ketika keduanya berjalan seiring, masyarakat merasakan keteduhan, keadilan, dan kesejahteraan.
Ibarat sepasang sepatu yang kita pakai, serasi, searah, dan tidak pernah bertukar peran, sepatu kanan jadi sepatu kiri atau sebaliknya, tetapi sampai pada tujuan. “Mahkota” relasi saudara kembar atau dwitunggal ulama – umara itu “negera yang baik dan Tuhan Maha Pengampun (Saba : 15).
PERSIS Jadi Guru Besar
Di lantai empat sebuah hotel di Kota Serang, menjelang terbentuknya tasyikil PP PERSIS 2022 – 2027, Abu Himam (yang esok harinya akan berkhotbah nikah putri ketua PW PERSISTRI Banten), berbincang berdua dengan saya, tentang kolaborasi dan tranformasi PERSIS.
Berbincang pula tentang bagi peran ketua umum dan wakil ketua umum. “Saya di dalam, wakil ketua umum di luar,” kata Abu Himam. Benar, wakil ketua umum kemudian juga ada di luar, di lingkaran eksekutif, jadi wamendikdasman. Jadilah ini relasi format dwitunggal atau saudara kembar ulama (ketum) dan umara (wamendikdasmen).
PERSIS sudah berusia satu abad lebih. Buku seabad PERSIS menyapa pula masa depan PERSIS. Wakil Ketua Umum PP PERSIS, Prof. Atip Latipulhayat, Ph.D., dalam beberapa kesempatan pengarahannya. tempo hari. menyebut PERSIS abad pertama adalah konsep dan PERSIS abad kedua adalah implementasi – yang di dalamnya ada kolaborasi dan transformasi gerakan dakwah.
Boleh juga dirumuskan. Abad pertama PERSIS S-1. Abad kedua PERSIS S-2. Abad ketiga PERSIS S-3. Lalu, abad keempat PERSIS jadi guru besar (Dean Al-Gamereau).





