KORANBANTEN.COM- 32 rumah di Kampung Cinangga Lebak, Desa Bayah Timur, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, terancam roboh akibat terjadinya pergeseran tanah di lokasi tersebut. Bahkan tujuh rumah di antaranya sudah ditinggalkan oleh warga, karena kondisi rumah retak parah dan tidak layak untuk ditempati.
Pantauan di lokasi, 32 rumah di kampung tersebut mengalami keretakan mulai dari ringan, sedang hingga parah. Dinding rumah dan lantai rumah warga bahkan sudah terbelah dengan panjang retakan hampir di semua bagian rumah.
Bahkan, tujuh rumah yang sudah dikosongkan oleh warga kondisinya sangat pemprihatinkan. Rumah tersebut mengalami keretakan di beberapa bagian dan nyaris terbelah akibat tanah yang ditempati rumah itu bergeser.
Rahmi Nur, salah seorang warga terdampak saat ditemui di rumahnya mengaku bahwa kondisi terparah terjadi sejak tiga tahun lalu. Bahkan dirinya sudah mengosongkan rumah yang ditinggalinya, karena kondisi retak parah di semua bagian rumah.
“Saya takut tiba-tiba rumah saya roboh Pak. Makanya saya sudah pindah ke tempat saudara dan mengosongkan rumah,” ujar Rahmi, di lokasi, Selasa (03/03/2026).
Menurut Rahmi, selain dirinya, ada enam kepala keluarga lainnya yang sudah mengosongkan rumahnya karena mengalami keretakan yang sangat parah. Sementara puluhan rumah lainnya masih ditinggali meski waswas.
“Apalagi sekarang sedang musim hujan. Warga di sini waswas takut tiba-tiba rumah roboh. Kami bukan tidak mau mengungsi Pak, tapi mau mengungsi kemana karena nggak ada tempat lain,” keluh Rahmi.
Kepala Desa Bayah Timur, Rafik Rahmat Taufik membenarkan hal tersebut. Menurutnya, pergeseran tanah di Kampung Cinangga Lebak sudah terjadi selama puluhan tahun namun kondisi terparahnya terjadi sejak tiga tahun lalu.
Rafik menjelaskan, ada sekitar 32 kepala keluarga dengan jumlah jiwa hampir mencapai 150 orang yang setiap harinya dibayangi rasa waswas rumahnya akan roboh.
“Tanah labil di kampung Cinangga memang sudah terjadi sejak tahun 80an. Namun kondisi terparahnya terjadi sejak tiga tahun lalu. Ada 32 rumah yang terdampak dan mengalami keretakan sedang hingga parah. Bahkan tujuh kepala keluarga sudah mengungsi,” ujar Rafik.
Rafik berharap, kondisi di kampungnya ditangani serius oleh pemerintah Kabupaten Lebak dan Pemprov Banten, dengan melakukan relokasi kepada puluhan kepala keluarga di kampung tersebut.
“Kami sudah punya lahan untuk relokasi cuma terbentur anggaran relokasinya. Makanya saya berharap kepada Pemda Lebak dan Pemprov Banten agar segera melakukan upaya serius merelokasi warga kami, sehingga dampak yang lebih buruk tidak terjadi di sini,” harap Rafik. (Fahdi Khalid).





