Berlayar Ke Gaza : Mereka Membawa Nurani, Bukan Rudal dan Senapan

Dari balik jendela Kota Istanbul, Turki, laut tampak tenang. Sulit membayangkan bahwa beberapa jam sebelumnya, para aktivis kemanusiaan dan wartawan asal Indonesia khususnya masih berada dalam interogasi dan penyiksaan. Setelah menempuh perjalanan panjang, kini mereka duduk melingkar, tertawa kecil, saling menyela cerita tentang setrum, bentakan teroris, dan malam panjang di tangan militer Israel.

Ilustrasi kapal sipil ke Gaza

Di tepi Selat Bosphorus, yang membelah Asia dan Eropa itu, mereka akhirnya menghirup udara bebas. Bosphorus menjadi saksi tentang manusia yang bisa selamat dari kekerasan, lalu kembali menertawakan ketakutan yang nyaris menelan hidup mereka.

Bacaan Lainnya

Ibu kota Turki Istanbul menerima mereka dengan udara dingin dan pelukan hangat. Para aktivis dan wartawan asal Indonesia khususnya, akhirnya menemukan kembali satu hal yang nyaris dirampas, dan paling berharga bagi mereka : rasa aman yang telah kembali, meski belum sepenuhnya pulih.

Kekerasan militer Israel terhadap aktivis dan wartawan itu, seperti dilaporkan BBC Indonesia, termasuk kekerasan seksual. Saat tiba di Paris pada Jumat (22/05), seorang aktivis Prancis, Meriem Hadjal, mengatakan kepada wartawan bahwa ia “mengalami kekerasan seksual dan diraba”

. Di Bandara Istanbul, kata seorang aktivis asal Inggris, Richard Johan Anderson, kepada wartawan, “Kami dipukuli, disiksa secara sistematis, diperlakukan tidak manusiawi, dan kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami rakyat Palestina setiap hari” (https://www.bbc.com/indonesia, unduh 23 Mei 2026, pukul 05.51 WIB).

 

Di Kota Istambul

Di ruang yang jauh dari Gaza, di sebuah sudut hangat di Kota Istambul, termyata ada tawa pecah, pelan. Bukan tawa kemenangan besar. Bukan pula tawa orang-orang yang tak pernah terluka. Namun, ada tawa aktivis dan wartawan Indonesia yang baru lolos dari gelap.

Dr. Maimoon Herawati, seorang relawan internasional yang mendampingi mereka, tampak berdiri di antara wartawan dan aktivis kemanusiaan yang baru dibebaskan. Wajah-wajah mereka letih, tetapi mata mereka masih menyala.

Mereka berbicara bergantian tentang malam-malam mencekam ketika ditangkap militer Israel. Tentang tangan yang diborgol. Tentang tubuh yang disetrum. Tentang bentakan-bentakan di ruang pemeriksaan yang dingin.

Namun anehnya, kisah itu tidak pecah bersama tangisan. Mereka justru sesekali tertawa kecil. setelah keluar dari lorong ketakutan. Mereka menemukan cara baru untuk bersyukur : tetap hidup.

Salah seorang wartawan memperagakan saat dipaksa berlutut. Wartawan lain menimpali dengan nada setengah bercanda, membuat ruangan kembali dipenuhi senyum.

Di tengah cerita tentang penyiksaan, terselip humor-humor pendek, humor khas orang-orang yang pernah begitu dekat dengan maut. Fisik dan psikis mereka diganggu berat. Batin pun pasti tersiksa, Namun, boleh jadi, memang begitulah cara para aktivis dan wartawan menyembuhkan luka.

Dr. Maimoon mendengarkan mereka satu demi satu. Sesekali, dosen UNPAD (Bandung) itu ikut tersenyum. Di hadapannya bukan sekadar aktivis dan wartawan. Mereka adalah saksi hidup tentang kemanusiaan bisa diinjak, tetapi tidak berhasil dibunuh.

Di luar gedung, langit Istanbul mulai redup. Angin membawa dingin dari selat Bosphorus. Tetapi di ruangan itu, ada sesuatu yang tetap hangat, sebuah harapan. Mereka telah melihat kekerasan paling gelap, lalu kembali dengan satu keyakinan sederhana. bahwa suara manusia tak boleh dibungkam.

Para wartawan khususnya tahu, pena kadang lebih ditakuti daripada peluru. Kamera bisa menjadi saksi yang tak dapat disangkal. Para aktivis kemanusiaan memahami, mereka berlayar ke Gaza bukan perjalanan politik, atau untuk sebuah perundingan, melainkan panggilan nurani. Mereka berlayar ke Gaza membawa nurani, bukan rudal dan senapan.

Mereka pulang membawa cerita-cerita yang kini bergerak melintasi batas negara. Mengetuk hati dunia. Bertanya dengan lirih tetapi tajam, “Berapa banyak lagi manusia yang harus menderita agar dunia mau benar-benar melihat dan mendengar?

 

Laut dan Ruang Interogasi

Di laut yang biru dan tampak tenang itu, dunia sebenarnya sedang menyaksikan sesuatu yang getir : manusia membawa bantuan kemanusiaan, tetapi yang datang menghadang justru senjata dan ketakutan. Para aktivis dan wartawan kemanusiaan itu tentara. Mereka tak membawa rudal atau senapan mesin.

Di tangan para aktivis kemanusiaan, misalnya, mereka percaya bahwa tepung, susu bayi, obat-obatan, dan suara nurani masih layak diperjuangkan. Mereka berlayar bukan untuk menaklukkan negeri, melainkan untuk mengetuk hati dunia yang tampaknya membatu.

Namun, malam di laut sering kali tidak netral. Ia bisa berubah menjadi ruang interogasi bagi kemanusiaan. Ketika kapal itu dicegat militer Israel, dunia kembali dihadapkan pada pertanyaan lama, “Mengapa suara yang membawa belas kasih sering dianggap lebih berbahaya dari getar kuat ledakan bom?”

Para wartawan yang ikut dalam rombongan itu tahu risikonya. Mereka mengerti. kamera kadang lebih ditakuti dari peluru. Kamera menyimpan kemampuan yang tidak dimiliki senjata. Kamera mengabadikan dan memperlihatkan kenyataan.

Seorang wartawan, dengan mata lelah, mungkin sempat memandangi laut sebelum penangkapan terjadi. Barangkali ia teringat keluarganya. Barangkali ia sadar, berita yang sedang ia liput bisa berubah menjadi nasib yang ia alami sendiri. Namun, wartawan memang sering hidup di batas yang sunyi seperti itu, antara kewajiban menyampaikan kebenaran dan kemungkinan tak pernah pulang.

Aktivis kemanusiaan pun demikian. Mereka orang yang bisa takut, bisa gemetar, bisa menangis diam-diam. Namun mereka tetap berangkat karena ada sesuatu yang lebih besar daripada rasa aman pribadi. Mereka yakin, bahwa penderitaan manusia tidak boleh dibiarkan sendirian.

Di Gaza, anak-anak dipastikan tak mengenal nama para aktivis dan wartawan itu. Mereka tak tahu organisasi atau kelompok yang dibawa para relawan. Mereka hanya tahu rasa haus, lapar, dan malam yang pecah oleh ledakan. Namun, justru karena itulah kapal-kapal kecil kemanusiaan selalu lahir untuk mengatakan bahwa di luar sana masih ada manusia yang peduli.

Penangkapan yang kemudian dikecam itu akhirnya bukan saja jadi peristiwa politik, melainkan juga dunia menekannya. Ia adalah potret zaman ketika bantuan kemanusiaan harus melewati laras senapan. Zaman ketika wartawan dibungkam bukan karena berbohong, melainkan karena terlalu dekat dengan kenyataan.

Laut pun menyimpan semuanya. Ia mendengar teriakan perintah.

Ia melihat tangan-tangan yang diborgol. Ia menyaksikan kamera yang dirampas. Namun, laut juga tahu satu hal : sejarah sering sekali lebih lama ingat kepada mereka yang membawa cahaya kecil di tengah gelap, dibandingkan dengan ingat kepada mereka yang berdiri gagah dengan senjata.

Dunia perlu tahu, selama masih ada orang yang berani berlayar membawa nurani, harapan belum benar-benar punah. Di antara ombak yang dingin di perairan luas sejauh mata memandang itu, kemanusiaan sesungguhnya sedang diuji, bukan oleh badai, melainkan oleh manusia itu sendiri.

 

Pamungkas, Pulang

Sembilan aktivis dan wartawan asal Indonesia itu bagian dari misi armada kemanusiaan international, Global Sumud Flotilla .Ini adalah koalisi besar yang terdiri dari banyak kapal yang berlayar bersama dengan tujuan yang sama : Gaza. Kata flotilla sendiri memang berarti armada kapal kecil. sumud berasal dari bahasa Arab yang berarti keteguhan, ketabahan, atau daya tahan rakyat Palestina.

Jumlah kapal sipil yang ikut dalam misi Global Sumud Flotilla mencapai puluhan buah, dengan aktivis mencapai ratusan orang dari seluruh dunia. Mereka terdiri dari wartawan, dokter, tenaga medis, relawan kemanusiaan, pelaut sipil, akademisi, tokoh agama, dan anggota parlemen dari berbagai negar, dan lain-lain,

Beragam dan banyak sekali. Memang, ada sesuatu yang mengguncang setelah melihat jumlah kapal sipil dan aktivis kemanuisan yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini..

Bayangkan, ratusan manusia sipil dari berbagai bangsa berlayar bersama di Laut Mediterania, bukan untuk perang, melainkan untuk membawa solidaritas kemanusiaan ke Gaza. Mereka datang dengan kamera, obat-obatan, makanan, dan keyakinan bahwa penderitaan rakyat sipil tidak boleh dilupakan dunia.

Ada sembilan orang dari Indonesia yang bergabung dalam misi internasional kemanusian itu. Mereka berada di kapal sipil yang berbeda, terdiri dari empat orang wartawan : Bambang Noroyono, Thoudy Badai Rifan Billah, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo. Dari aktivis sebanyak lima orang, terdiri dari Andi Angga Prasadewa, Asad Aras Mahmud, Herman Budianto Sudarsono, ermanHHhhhhHendro Prasetyo, dan Ronggo Wirsanu.

Kini, mereka sudah dipersiapkan pulang ke tanah air setelah pemulihan kesehatan dan penyelesaian adminisrasi di Turki. Kementeian Luar Negeri RI akan mengawal pemulangan mereka.

Satu hal : mereka tak akan pernah kapok : jadi aktivis atau wartawan. Sebuah pelajaran berharga, pengalaman yang berarti : bahwa berjuang tak harus selalu mengangkat senjata.

Para aktivis dan wartawan kini jauh dari Gaza. Namun, tangis bayi yang membutuhkan minuman susu masih sampai ke telinga mereka. Kapal yang membawa bantuan kemanusiaan itu mungkin telah berhenti berlayar. Namun, kisahnya belum selesai. Bahwa kemanusiaan bisa saja ditahan sementara, dengan acungan senapan, tetapi sulit dipenjarakan selamanya (Dean Al-Gamereau)

Pos terkait