Dewan Hisbah : Dari Ulama Konvensional Menuju Ulama Digital

Ketua Panitia, Ustaz Wahyu A.S. (kanan) dan Wakil Ketua PP PERSIS, Prof. Latipulhayat, Ph.D. (kiri) saat penyerahan cendera mata, pada acara Konferensi Hadis Tingkat Nasional 2025. Saksi “hilal” ulama digital sudah tampak (Foto : Henry Lukman Hakim/Edisi).

Kaderisasi di Gang Hassan

Setiap Rabu malam, sekitar tahun 1970 – 1980,  para ustaz  yang sudah khatam ilmu nahwu dan ilmu tasrif khususnya berkumpul di Gang Hassan. Mereka mengaji dan mengkaji kitab klasik Islam secara bersama-sama, di bawah bimbingan K.H.E. Abdurrahman, tuan rumah.

Bacaan Lainnya

Para santri Gang Hassan ini umumnya kemudian jadi anggota Dewan Hisbah PP PERSIS. Untuk menjawab pertanyaan umat mengenai hukum Islam, para ustaz santri Gang Hassan inilah yang biasa menjawabnya.  Kaderisasi tidak resmi ustaz  di Gang Hassan ini, tampaknya, cukup berhasil.

Ada santri Gang Hassan yang kemudian ditugasi mengajarkan kitab klasik Islam, di Muallimin PPI Pajagalan Bandung, Ustaz Usman Shalehuddin. Kitab yang diajarkannya, Subulu As-Salaam (karya Ash-Shan’ani)  kitab syarah  Buluughu Al-Maaram.

Kitab ini kaya informasi, antara lain mengenai riwayat sahabat. Fokus syarah, memang fikih, karena kitab induknya, Buluughu Al-Maram, karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, termasuk buku fikih.

Mengapa Ustaz Usman memilih kitab Subulu As-Salaam untuk santri Muallimin? Ketika itu. saya tidak tahu. Baru sadar kemudian, ternyata kitab ini ditulis olah ulama yang tidak terikat oleh mazhab mana pun. Ulama asal Yaman ini bebas mazhab.

Tentang Ustaz Usman, Pada beberapa kali pengajian dan pengkajian Rabu malam itu, Ustaz Abdurrahman sering merasa heran. Ternyata, Ustaz Usman  selalu punya pendapat yang paling lengkap dan argumentatif dalam perdebatan, jika dibandingkan dengan ustaz yang lain. Ustaz Abdurrahman mau menerangkannya, ternyata sudah didahului oleh Ustaz Usman.

Mengapa Ustaz Usman lebih dulu tahu dari ustaz yang lain? Ceritanya kemudian terungkap, bahwa Ustaz Usman sudah membaca kitab sumber sebelumnya, menguasai tema yang akan dibahas,  sehingga lebih unggul dari ustad yang lain. Ustaz Abdurrahman sendiri baru tahu kemudian setelah mengetahui kelakuan “nakal” salah seorang muridnya ini.

Ustaz Usman ini, siang hari sebelum pengajian, sering mencuri-curi waktu, datang ke Gang Hassan, membuka dan membaca kitab yang akan dikaji pada malam harinya. Hal ini terus-menerus berlangsung beberapa kali. Ustaz Abdurrahman tidak tahu, karena memang mengajar  di PPI Pajagalan sepanjang hari.

Pada suatu hari, karena ada keperluan, Ustaz Abdurahman pulang lebih awal. Di perpustakaan pribadinya, ternyata  ada Ustaz Usman yang sedang asyik membuka-buka dan membaca kitab.

Begitu tahu ada gurunya itu, kabarnya, Ustaz Usman langsung pucat, berkeringat dingin, boleh jadi, cemas atau takut dimarahi  Ustaz Abdurrahkan tak berkata apa pun, hanya jadi tahu, “muridnya ini lebih menguasai tema bahasan karena memang sudah lebih dulu membaca  rujukannya”.

 

Digitalisasi Produk Dewan Hisbah

Hasil-hasil sidang Dewan Hisbah PP PERSIS sudah saatnya diolah ke dalam pustaka digital terindeks (knowledge management system). Tujuannya,,  agar fatwa yang dkenal  ketat dan berbasis dalil  kuat itu mudah diakses secara cepat oleh masyarakat secara kseluruhan.

Sekaligus pula, hasil-hasil sidang itu jadi penyeimbang di tengah-tengah  banjirnya opini keagamaan yang beragam, seperti yang beredar bebas di media sosial. Dewan Hisbah, mungkin kelak diminta fatwanya tentang konflik modern, etika teknologi, hukum humaniter,  bahkan sampai eksploitasi sumber daya alam yang kemudian menimbulkan bencana.

Pada muktamar XIV tahub 2022 lalu, memang sudah digagasi  penerjemahan hasil sidang Dewan Hisbah itu ke dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sekaligus saja, pijakan  pemikitan Dewan Hisbah, buku resmi Turuq Al- Istinbat Metodologi Pengambilan Hukum (cetakan resmi terbaru, 2018) diterjemahkan pula  ke dalam bahasa yang sama.

Dengan cara begitu, masyarakat ilmuwan fikih di mana pun bisa membaca cara dan ciri ijtihad PERSIS dalam meng-istinbath hukum. Trasparan  dan siap diaudit oleh masyarakat fikih dan syariah yang lebih luas..

 

Mulanya, Konferensi Hadis

Para ustaz anggota Dewan Hisbah akan tetap mengkaji dan mengaji kitab klasik Islam, secara konvensional, tetapi kini ditambah dengan ribuan kitab yang disimpan  dalam sebuah chip  kecil dan tipis dalam sebuah laptop, berkah  teknologi informasi dan komunikasi.

Simpel dan ringan  dibawa ke tempat pengajian atau ke tempat diskusi. Sesuatu yang belum terbayang, tahun 1970-an,  oleh para ustaz yang dewasa itu jadi “santri”  Gang Hassan.

Dewan Hisbah PP PERSIS bekerja sama dengan Badiklat Kader PP PERSIS, sudah mulai menyentuh teknologi informasi dan komunikasi, setidak-tidaknya dengan penyelenggaraan  agenda ilmiah Konferensi Hadis Tingkat Nasional 2025. Pesertanya, 145 orang, peserta dari berbagai provinsi, Konferensi dipusatkan di  Gedung BPMP, Jakarta, 7-9 November 2025.

Para peserta diajari takhrij (penelurusan) hadis dengan mengintegrasikan teknologi AI sebagai alat pemetaan data dan  analisis. Namun, tidak  menegasikan kecerdasan manusia. AI tetap diposisikan sebagai alat bantu, sebagai “co-pilot”. AI.  tidak menggantikan  kecerdasan yang asli.

Konferensi Hadis Tingkat Nasional 2025 itu sesungguhnya bisa disebut sebagai rintisan transformasi kajian kitab kasik Islam menuju ulama digital. Dewan Hisbah  ke depan akan banyak memilikinya,  lalu para ulama asyik mengaji dan mengkaji  dengan akun DeHisbahArt, misalnya.

Fatwa-fatwa hukum Islam yang rumit nanti akan dikemas ulama digital jadi infografis estetik, video pendek TikTok, hingga  Instagram Reel agar anak-anak  Generasi Z tidak pusing membacanya. Singkat, tidak rumit.

Penguasaan deep reading (pembacaan mendalam) dan deep learning (pembelajaran mendalam) sangat penting diterapkan kepada para ulama digital. Mereka  diperlukan untuk menghadapi banjir informasi dan algoritna media sosial.

Deep reading dan deep reading akan tetap ditekankan sebagai kunci untuk menjaga nalar kritis dan kebijakan di era digital. PERSIS tidak akan memperlakukan teknologi hanya sebagai etalase atau alat pelengkap, tetapi sebagai infrastruktur penting sebagai dasar peradaban jamiyah.

.

Tim Tranformasi Dakwah Digital

Ketua Umum PP PERSIS, K.H. Dr. Jeje Jaenudin, M.Pd. menyodorkan tujuh macam transformasi untuk merespon tantangan abad ke-21. Ketujuh macam transformasi itu, transformasi paradigma, transformasi kaderisasi,  transformasi dakwah digital, transformasi pendidikan, transformasi ekonomi jam’iyah. transformasi organisasi, dan transformasi gerakan peradaban.

Tampaknya, terkait dengan transformasi dakwah digital khususnya,  Dr. Jeje ingin melakukan lompatan strategis berbasis teknologi dan pembentukan ulama digital. Sekaligus, ke depan,  para  ulama PERSIS bisa berkiprah sampai ke dunia internasional.

Secara keseluruhan, diakui Dr. Jeje, PERSIS harus melakukan institusionalisasi gerakan berbasis ekosistem digital terintegrasi tanpa mengorbankan integritas metodologi istinbath (pembentukan hukum) berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Untuk menyongsong PERSIS abad ke-21, dan untuk merealisasikan, atau setidak-tidaknya mencoba merealisasikannya, maka PP PERSIS (tampaknya) perlu membentuk Tim Transformasi Dakwah Digital PERSIS.

Ketua Bidang Infokom PP PERSIS, Dr. H. Ihsan Setiadi Latief, M.Si. mengetahui tenaga  profesional untuk tim dimaksud. Bidang Infokom sendiri sudan banya memproduksi dahwah digital dengan bantuan teknologi informasi.

Jadi ulama zaman kini akan sangat lebih baik kalau dilengkapi dengan penguasaan teknologi informasai dan komunikasi. Jadi generasi ulama digital, meneruskan generasi ulama konvensional.

Para ulama konvensional  di kalangan PERSIS khususnya, yang sangat memahami kitab klasik Islam, lengkap dengan bahasa Arab, usul fikih,  ilmu hadis  dan  ilmu tafsir, kini banyak yang sudah wafat, sambil meninggalkan warisan intelektual.

Boleh jadi, dari balik lapisan tanah merah, mereka akan tersenyum pula melihat ulama generasi berikutnya, yang dimanjakan teknologi informasi dan komunikasi –  dan  tak pernah mereka alami.

 

Pamungkas

Kata penyair Jerman, Johan Wolfgang von Goethe, dalam potongan ssjaknya, “Sudah tenggelam sang surya. Di Barat ia masih berkilau. Kuingin tahu gerangan berapa lama”.

Para ulama konvensional sudah kembali ke balik ,malam. Lalu, “hilal|” generasi ulama digital Dewan Hisbah PP PERSIS khususnya sudah tampak, setidak-tidaknya, ditandai dengan Konferensi Hadis Tingkat Nasional 2025, yang berbasis teknologi itu.

Ketua Panitia, Ustaz Wahyu A.S. dan yang menyampaikan  tausiah, Wakil Ketua Umum PP PERSIS, Prof. Latipulhayat, Ph.D., sudah menyaksikan “hilal” ulama digital itu, hasil “rukyat”  di Gedung BPMP, Jakarta, 7 – 9 November 2025.  (Dean Al-Gamereau)

Pos terkait