Konsumen Pertanyakan Betapa Panjang dan Berbelit-belitnya Proses KPR di Bukit Cilegon Asri

KORANBANTEN.COM – Sejak mulai dibangunnya perumahan Bukit Cilegon Asri (BCA) yang berlokasi di wilayah Kelurahan Bagendung, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon sejak beberapa tahun lalu, membuat salah satu warga Kecamatan Jombang, Madsari yany mendengar kabar tersebut, membuatnya tergiur.

Dan sekitar Bulan Maret 2020, Isteri dari Madsari, Ida Fitrida merekomendasikan suaminya untuk mengambil rumah bersubsidi tersebut di perumahan BCA.

Read More

“Isteri saya tertarik karena lokasinya cukup dibilang strategis dan tak jauh dari rumah tempat mencari nafkah. Setelah melihat langsung lokasi perumahan yang saat itu sudah disurvei dan bahkan sudah bayar boking plus menyusul bayar DP, saya memutuskan untuk kredit rumah subsidi,” kata Madsari kepada awak media.

Labih lanjut Madsari menjelaskan kalau dirinya sudah membayar booking fee pada 12 April 2020 sebesar 1 juta rupiah plus bayar DP sebesar 2,5 juta. Berbagai dokumen pun sudah disiapkan dan sudah diajukan. Bahkan salah satu dokumen yang menurutnya agak merepotkan adalah mengurus surat keterangan belum memiliki rumah dari kantor kelurahan dan instansi terkait.

“Setelah semua berkas diserahkan kepada salah satu tim marketing, saya masih harus menunggu sekitar kurang lebih tujuh bulan untuk akad kredit. Penantian yang lumayan panjang. Tetapi karena itu rumah subsidi yang sudah bekerja sama dengan bank tertentu dan saya memenuhi semua syarat sebagai penerima kredit. Di awal saya sudah merasa proses yang berbelit,selain sedikit merepotkan menyiapkan berkas-berkas dan menunggu cukup lama,” ungkapnya.

“Pengajuan KPR saya diduga sempet ditolak bank pertama alias berbelit-belit prosesnya. Saya pun mengajukan lagi ke bank yang lain dan kembali mengajukan dokumen ke pihak pengembang,” imbuhnya.

Selanjutnya Madsari menceritakan perjuangannya untuk menyenangkan hati sang isteri dengan kembali menggajukan ke bank kedua yakni Bank Tabungan Negara (BTN). Meski di awal sempat memberikan kesempatan dan bahkan konsumen BCA tersebut mendapat panggilan untuk wawancara dengan pihak bank BTN. Namun, pasca wawancara kurang lebih satu bulan lamanya, Madsari mendapatkan informasi dari pihak pengembang terkait adanya Kol 5 nama istri kredit di Bank BRI (masih berjalan).

Kemudian Madsari dan istrinya langsung mendatangi BRI dengan tujuan untuk melunasi sisa tunggakan tersebut karena berniat atau itikad baik, setelah mendapatkan surat keterangan lunas dari pihak Bank BRI, terpaksa Madsari mengajukan naik banding dan tak terima dengan keputusan pengembang (developer).

“Mereka protes. Setelah berdebat, sang pengembang akhirnya memberi kelonggaran atau kesempatan untuk naik banding kepada konsumen atas nama Madsari,” jelasnya.

Dari BI Checking hingga melakukan survei ke tempat kerja, Madsari pun kemudian akan mencoba mencari tahu lebih lanjut alasan pengajuan KPR-nya ditolak di dua bank. Ternyata ada kendala di BI Checking.

“Ini kan fitur di Bank Indonesia yang merekam semua aktivitas kredit. Ketika dicek oleh Madsari, ternyata ada tunggakan Rp. 3 juta yang sudah lama tidak terbayar,” bebernya.

Atas adanya keluhan masyarakat Kota Cilegon yang ingin memiliki rumah di KPR Subsidi tersebut, pihak developer, Marketing BCA, Anis saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bukan pihak developer yang menolak. Akan tetapi dari pihak bank yang menolak pengajuan kredit konsumen.

“Punten mohon klarifikasi pa, saya sudah bantu maksimal untuk pengajuan Pak Madsari. Saya bulak-balik 2 bank BNI dan BTN alasan ditolak karena kol 5,” ujarnya.

Anis juga menegaskan kalau pihaknya sudah semaksimal mungkin membantu pelayanan terhadap konsumen, dan untuk Madsari ini Anis akan kembali mengupayakan ke pihak bank lainnya.

“Kol 5 itu sudah di blacklist bank pak, kami sudah bantu maksimal.Yang menolak itu bank, bukan kami menolak pak, Tapi kan masalahnya diblacklist bank. Kami usaha maksimal pak, sampe 3 bank pun kami bantu. Sekarang kami akan ajukan di BTN Tangerang,” tuturnya. (*Red)

Related posts