(Bagian Pertama dari Empat Tulisan)
Literasi :Teks dan nonteks
Berawal dari bahasa Latin littera (huruf), lalu lahir istilah litteratus (orang yang terpelajar atau yang mampu menulis dan membaca).Littera ataulitteratus kemudian berproses jadi bahasa Inggris literacy, yang secara harfiah berarti kemampuan membaca dan menulis. Bahasa Indonesia literasi, yang sudah jadi entri Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merupakan serapan dari literacy.
Lalu, literasi itu, apakah hanya sekadar kecakapan menulis dan membaca?“Secara sederhana. literasi bisa didefinisikan sebagai kemampuan memahami dan pemanfaatkan informasi, baik berupa teks maupun nonteks untuk meningkatkan kualitas hidup,” kata Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Prof. Haji Endang Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., saat berbincang santai dengan wartawan Banten, ihwal literasi untuk warga Desa Kanekes, baru-baru ini.
Kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI London (2016-2020) itu selanjutnya, “Teks bisa berupa tulisan, sedangkan nonteks bisa berupa gambar atau simbol.Teks dan nonteks dipengaruhi berbagai faktor, termasuk faktor budaya di lingkungan masyarakat setempat.Permahaman teks dan nonteks itu tak mungkin lepas dari budaya pengguna teks dan nonteks itu sendiri”.
Prof. Aminudin selanjutnya menyebut beberapa strata kecakapan literasi, terdiri dari mengenal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensistesis, mengevaluasi, dan menciptakan.
Sekadar contoh sederhana.demikian Prof. Aminudin, misalnya orang tahu warna lampu lalu lintas hijau, kuning, dan merah. Sampai di sini, orang ini ada pada tahap pertama mengenal warna-warna lampu lintas dimaksud.
Lalu, kata Prof. Aminudin lagi, kalau orang itu tahu bahwa (dalam berkendaraan) lampu hijau sebagai simbol boleh lewat dan lampu merah sebagai simbol harus berhenti, maka pengetahuan terhadap simbol-simbol ini sudah meningkat, dari sekadar mengetahui sampai kemudian memahami.
Orang ini, dengan bekal pengenalan dan pemahaman itu, lalu mematuhinya saat berkendaraan, maka kecakapan literasinya sudah sampai pada tahap penerapan atau penggunaan.Begituah seterusnya berproses sampai ke tingkat puncak kecakapan literasi.
Tak Harus Selalu Melalui Sekolah
Kecakapan literasi di lingkungan Desa Kanekes?Cukup baik, terutama kecakapan literasi nonteks atau simbol.Mereka tahu, di luar dunia Desa Kanekes ada simbol-simbol ataun nonteks yang minimal mereka ketahui melalui interaksi dan pengalaman berkomunikasi.
Di lingkungan Desa Kanekes sendiri, misalnya, mereka tahu baju warna hitam dan warna putih. Mereka memahami pula maknanya, dan oleh karena itu, orang Badui Dalam tetap berpakaian warna putih dan orang Badui Luar tetap berpakaian warna hitam. Tak sekadar warna, memang, tetapi itu adalah simbol dan identitas yang tak bisa dipetukarkan.
Mereka tahu ada bangunan SD, di Kampung Ciboleger, misalnya, Juga, mereka tahu ada Perpustakaan LIA, berisi banyak buku bacaan.Mereka paham, gedung SD untuk anak-anak bersekolah agar bisa menulis dan membaca.
Mereka tahu, perpustakaan berisi banyak buku untuk dibaca, lalu jadi pengetahuan.Bagi mereka, baik gedung SD maupun perpustakaan adalah nonteks atau simbol yang mereka ketahui dan pahami.
Namun, mereka tak memanfaatkan gedung SD untuk sekolah putra dan putri mereka, padahal berdampingan dengan batas Desa Kanekes.
PerpustakaanLIA tak mereka manfaatkan pula untuk rekreasi ilmiah dan menimba ilmu.Mereka mengenali dan memahami gedung SD dan perpustakaan, tetapi terhalang oleh aturan adat yang tak mengajarkan tradisi sekolah atau baca tulis.
Kalau saja pemuka adat mengizinkan adanya sekolah, penerangan listrik PLN, jalan beraspal, televisi, perabot dapur seperti kompor gas, mebeulair seperti sofa atau lemari, boleh jadi, Desa Kanekes akan berubah total.
Mereka sudah mengenal semua itu ketika semakin banyak melihat dan mendengar kisah-kisah di luar desa adat mereka.Si Kotak Ajaib televisi itu, nonteks yang mereka pahami.
Kecakapan literasi di lingkungan warga Desa Kanekes tak harus selalu ditempuh melalui sekolah, kalau memang kehadiran sekolah tak diperbolehkan. Mereka belum atau tak membutuhkannya, memang, seperti halnya kini mereka tak membutuhkan ijazah.
Kata kunci sukses kecakapan literasi di lingkungan masyarakat Desa Kanekes, menurut Prof. Aminudin, harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Desa Kaneks itu sendiri. “Jangan dipaksakan membangun sekolah kalau memang tak mereka butuhkan,” kata Prof. Aminudin pula.
“Masih ada cara lain untuk menyukseskan kecakapan literasi di lingkungan Desa Kanekes. Menulis dan membaca bukan satu-satunya kecakapan literasi,” kata Prof. Aminudin lagi.
Kecapi dan Kerinding
Senyap malam Desa Kanekes bisa tiba-tiba pecah dengan bunyi tali kecapi yang dicabik seorang anak muda, di beranda rumah Biarkan bunyi alat musik tradisional setempat itu terdengar melankolik.seperti nyanyi malam sunyi. Biasanya, anak muda itu, memainkan kecapi setelah lelah sepanjang hari menabur benih padi di huma, yang juga diiringiu musik angklung buhun (klasik).
Lalu, untuk apa kecapi dibunyikan? Sebuah pesan nonteks yang dikemas dengan budaya, untuk memikat hati seorang gadis. Ada sang Arjuna Desa Kanekes yang sedang mencari cintrong.
Kalau di seberang rumah sana ada umpan balik suara kerinding (alat musik tiup sederhana, terbuat dari daun yang dikeringkan), itu artinya gayung bersambut kata berjawab. Ada sang Rembulan Bercadar Awan yang mau membuka pintu hatinya untuk sang Arjuna itu.
Inilah gita cinta dari Desa Kanekas. Cinta dibangun tak melewati kecakapan literasi teks, tetapi lewat nonteks. Mereka tahu, dan paham : kecapi dan kerinding yang nonteks itu mengandung dan mengundang sesuatu. Akhirnya, kedua alat musik cinta itu bukan saja “sign”, melainkan juga “science”. (Dean Al-Gamereau)





