Dimulai dengan Bismillah
Diksi dan gaya bahasa dakwah Rasulullah SAW sangat memikat.Para raja dan tokoh banyak yang terpikat, memang, sampai akhirnya mau menerima dakwah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengajak, tak memngejek.
Surat dakwah diawali dengan menyebut nama Allah Maha Rahman Maha Rahim (bismillaahirrahmaanirrahiim), Inilah contoh surat, dan kita pun, kalau berkirim surat, mestinya diawali dengan bismillah, bukan dengan salaam (assalamu’alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh). Dalam khotbah atau nasihat, Rasulullah SAW mengawalinya dengan tahmiid (Alhamdulillaahi……), bukan dengan bismillaah atau salaam. Selanjutnya disebut pengirim surat dan disebutkan pula penerima surat.
Selain bismillaah, Rasulullah SAW menyampaikan salam atau kesejahteraan, alias keselamatan untuk orang yang mengikuti petunjuk-Nya (ajaran Allah SWT). Maka, bentuk salaam inilah kiranya yang bisa disampaikan kepada orang-orang yang bukan pemeluk agama Islam.
Raja yang dikirim surat, disapa dengan hormat, disebut jabatannya, misalnya, “kepada Kaisar Romawi….: Dalam karya jurnalistik, jabatan dan gelar akademik narasumber atau seseorang selalu disebut, sebagai penghormatan.
Isi dan Inti Surat Dakwah
Selanjutnya, Rasulullah SAW menyampaikan inti surat : ajakan masuk Islam, bertauhid, nanti akan selamat. Bahasanya langsumg dipahami, tegas, bukan propaganda. Kalau menolak dakwahnya, seperti surat kepada Kaisar Romawi, bukan ancaman kekerasan, melainkan informasi bahwa dosa para petani (rakyat) akan menjadi tanggung jawab Kaisar sendiri. Agama rahmah lil al’aalamiin disebarkan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan ajaran-ajaran indahnya Islam.
Jaminan selamat kalau menerima dakwahnya, juga akan mendapatkan dua kali lipat pahala, dan keneranian Rasulullah SAW mengirim surat, semuanya berbasis wahyu dan petunjuk-Nya yang bisa dipertanggungjawabkan. Artinya, janji-janji dalam surat itu sangat berdasar,
Jaminan selamat kalau masuk Islam, juga jaminan mendapatkan dua kali lipat pahala kalau menerima dakwahnya, bukan karangan Rasulullah SAW, melainkan kehendak-Nya yang nanti akan dijumpai pada hari akhirat.
Dalam dunia jurnalisme, isi berita adalah pesan dari serangkaian unsur komunikasi massa. Keberanian Rasulullah SAW mengirimkan surat dakwah. jaminan selamat dan akan mendapatkan dua kali lipat pahala. Semua itu berbasiskan wahyu. Pesan moral untuk wartawan : inti dan isi berita harus bisa dsipertanggungjawabkan dan berbasis fakta (kebenaran).
Dakwah dan Teori Komunikasi Modern
Jika diposisikan dalam teori komunikasi modern, surat dakwah Rasulullah SAW mencakup komunikasi persuasif etis. diplomasi publik (diplomacy public) religius, advokasi nilai berbasis wahyu, dan jadi model awal komunikasi lintas peradaban (komunikasi budaya).
Dari seluruh teori komunikasi itu, yang membedakan dengan teori komunikasi Islam, yakni wahyu. Islam menempatkan wahyu sebagai sumber kebenaran dan kepastian.
Rasulullah SAW berkirim surat kepada para raja, ketika itu, berbasis wahyu. Soal bahasa surat, administrasi surat (stempel kerasulan), tak diatur dalam Al-Qur’an. Surat-surat dakwah Rasulullah SAW kepada para raja. Beberapa surat di antaranya ada di museum. Kita bisa menyaksikannya sekarang ini.
Lahir dari Adab
Surat dakwah Rasulullah SAW mengajari jurnalis : kebenaran tak perlu dibungkus ejekan. Dakwah tak butuh hoaks. Pesan kuat justru lahir dari adab. Rasulullah SAW tak menaklukkan dunia dengan tajuk provokatif, tetapi dengan kalimat yang jujur dan salam yang tulus. Di setiap suratnya, dakwah berjalan bersama adab.
Semua itu bisa kita serap sebagai etika media yang tak akan pernah usang. Bagi wartawan, semua jadi sandi susila jurnalistik., atau lebih dikenal dengan mama kode etik jurnalistik. (Dean Al-Gamereau)





