Surat Dakwah untuk Para Raja
Fakta menunjukkan itu. Rasulullah SAW mengirim surat-surat dakwah kepada para raja dan penguasa setelah Perjanjian Hudaibiyah (6-7 H), antara lain: Heraklius (Kaisar Romawi Timur), Kisra Abrawaiz (Raja Persia) Muqauqis (Penguasa Mesir) Najasyi (Raja Habasyah) Harits bin Abi Syamir (Syam) Hauzah bin ‘Ali (Yamamah)
Secara umum, inti surat-surat itu sama, dengan redaksi yang sangat terukur. Contohnya, surat kepada Kaisah Romawi, Heraklius (HR. Bukhari). Surat itu sebagai berikut :
“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius, penguasa Romawi. Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuklah Islam, niscaya engkau selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali. Jika engkau berpaling, maka dosa rakyatnya jadi tanggunganmu. “Wahai ahli kitab, marilah pada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, untuk tak menyembah kecuali hanya kepada-Nya…” (QS. Ali ‘Imran: 64).
Karakteristik Surat Dakwah
Surat-surat dakwah itu sangat jauh dari ejekan, propaganda kasar, atau ujaran kebencian. Justru, surat dakwah tampil dengan bahasa santun dan hormat kepada Heraklius penguasa Romawi tak merendahkan jabatan atau kepercayaan lawan bicar Ajakan, bukan paksaan “aslim taslam” (masuklah Islamlah, Anda akan selamat!).
Tak ada ancaman kekerasan Transparansi pesan, identitas pengirim jelas, tujuan surat jelas : dakwah, bukan manipulasi. surat dakwah berbasis fakta. Wahyu Al-Qur’an dijadikan rujukan, bukan opini pribadi.
Ada Unsur Jurnalisme
Jika kita pakai kacamata jurnalisme modern, surat-surat Rasulullah SAW memang bukan produk jurnalistik. Namun, surat-suratnya itu mengandung prinsip-prinsip etika jurnalistik yang sangat kuat.
Unsur yang selaras dengan jurnalisme, antara lain, identitas jelas (byline), tujuan komunikasi jelas, bahasa beradab, jauh dari provokatif, bukan hoaks, dan bertanggung jawab.
Surat dakwah disebut dari Muhammad Rasulullah. Isi surat menyebut pula konsekunsi moral, dan informatif. Bukan ancaman atau intimidasi, dan merupakan sebuah pilihan. Dakwah atau ajakannya berbasis wahyu.
Pelajaran untuk Wartawan
Surat dakwah Rasulullah SAW, tentu saja, bukan karya jusnalistik, antara laib, karena, tak melaporkan peristiwa, tak mengumpulkan fakta dari banyak sumber, bukan untuk konsumsi publik, dan tak netral karena memang dakwah. Zaman sekarang, surat dakwah Rasulullah SAW, kalau dijadikan konsumsi publik, bisa dibuat press release. Surat dakwah, tentu, bukan rahasia negara.
Jika diposisikan dalam teori komunikasi modern, maka surat dakwah Rasulullah SAW lebih tepat disebut komunikasi persuasif etis, public diplomacy religius, Advokasi nilai berbasis wahyu, dan model awal komunikasi lintas peradaban
Dalam konteks etika media dari An-Nur 11–20, surat-surat ini bisa disebut sebagai “Prototipe komunikasi publik beretika: jujur, santun, bertanggung jawab, dan bebas manipulasi.”
Relevansi bagi jurnalis dan media hari ini. Surat dakwah Trasulullah SAW memberi pelajaran penting bagi jurnalis: kebenaran tak perlu dibungkus ejekan, dakwah nilai tak butuh hoaks, Pesan kuat justru lahir dari adab, dan otoritas moral lebih berpengaruh daripada sensasi.
Rasulullah SAW tak menaklukkan dunia dengan tajuk provokatif, melainkan dengan kalimat yang jujur dan salam yang tulus. Di setiap suratnya, dakwah berjalan bersama adab – dan itulah etika media yang tak pernah usang (Dean Al-Gamereau)





