Pada suatu masa ketika dunia dipimpin oleh mahkota dan pedang, Rasulullah SAW memilih selembar surat. Tak ada pasukan. Tak ada propaganda. Tak ada ejekan. Hanya ada kata-kata yang jernih, salam yang tulus, dan ajakan yang jujur.
Surat-surat itu menyeberangi gurun, lautan, dan batas peradaban. Sampai ke istana Hiraqla di Romawi, ke singgasana Kisra di Persia (Iran), ke istana Muqauqis di Mesir, dan ke negeri Habasyah (Afrika). Sebuah harakah dakwah internasional.
Surat dakwah bukan laporan perang, bukan pula selebaran agitasi. Surat dakwah itu bentuk komunikasi publik paling beradab yang pernah dicatat sejarah. Surat dakwah memang pula mengandung unsur-unsur komunikasi klasik : kominikator, media, pesan, komunikan, dan umpan balik.
Identitas Tak Disembunyikan
Surat dakwah Rasulullah SAW selalu dimulai dengan terang: “Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya.” Bukan anonim. Tak berlindung di balik akun palsu, seperti yang banyak dilakukan di media sosial sekarang ini.
Tak melempar pesan dari balik bayang-bayang. Dalam jurnalisme modern, kita menyebutnya byline, sebagai tanda tanggung jawab moral atas kata-kata. Sejak awal, Rasulullah SAW mengajarkan kebenaran, dan transparan. Surat dakwah tak disampaikan oleh suara tanpa wajah, atau tulisan tanpa identitas.
Bahasa surat dakwahnya tak merendahkan, malah mengangkat harga diri dengan menyebut jabatannya. Perhatikan sapaan dari Rasulullah SAW, “Kepada Hiraqla, penguasa Romawi.” Padahal, dia adalah pemimpin imperium nonmuslim.
Namun, Rasulullah SAW tak mencabut kehormatannya.Tak mengejek keyakinannya. Tak pula menertawakan simbol-simbolnya.
Pada zaman media sosial hari ini, justru sering kita jumpai sebaliknya. Sering sekali, keyakinan dibela dengan makian. Kebenaran diperjuangkan dengan penghinaan. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa adab bukan kelemahan, melainkan kekuatan pesan.
Identitas Surat Dakwah
Surat dakwah Rasulullah SAW adalah ajakan, bukan paksaan. Inti surat dakwah itu sederhana: “aslim taslam” (masuklah Islam, niscaya Anda selamat!). Tak ada pemaksaan iman. Tak ada ancaman senjata.
Hal yang ada, seperti dalam surat, “Tanggung jawab Anda kalau menolak. Anda akan memikul dosa rakyat”. Ini bukan tekanan politik. Bukan pula ancaman, melainkan pilihan bebas. Ini kejujuran etis pula.
Dalam bahasa jurnalistik, semua itu adalah penyampaian dampak, bukan intimidasi. Semua menunjukkan identitas surat dakwah, jelas, tegas, tak ada maksud terselubung.
Surat dakwah Rasulullah SAW memang bukan karya jurnalistik. Namun, ada etik untuk karya jurnalistik. Surat-surat dakwah tak melaporkan peristiwa, juga tak mengutip banyak sumber. Surat dakwah Rasulullah SAW berpihak, satu arah untuk dakwah.
Surat dakwah berisi tdentitas pengirim yang jelas Tujuannya terang. Bahasanya santun. Tak manipulatif. Tak memelintir fakta. Bertanggung jawab pada akibat kata-kata. Bukankah semua itu yang selalu kita tuntut selama ini dari media?
Surat dakwahnya tanpa sensasi. Rasulullah SAW tak membutuhkan judul provokatif. Tak perlu clickbait. Tak memelihara kebencian demi perhatian. Rasulullah SAW percaya pada satu hal : kebenaran akan sampai jika melalui saluran adab.
Surat-surat dakwahnya pendek, tetapi kemudian berumur panjang. Dibaca berabad-abad, dan terasa berwibawa. Pada saat ribuan kata hari ini lenyap ditelan linimasa dalam hitungan jam, bahkan hitungan menit, maka surat dakwah itu tak seperti menulis di atas air.
Teladan dari Surat Dakwah
Surat-surat dakwahnya jadi pelajaran bagi media kita. Di tengah banjir informasi, hoaks, dan polarisasi, surat dakwah Rasulull;ah SAW seperti cermin sunyi yang memberi teladan.
Teladan itu mesti dalam bentuk pertanyaan : apakah kita menulis untuk menerangi, atau untuk melukai? Apakah kita menyampaikan kebenaran, atau sekadar menenangkan keributan? Apakah kata-kata bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan nurani? Surat-surat dakwah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa media yang paling berpengaruh adalah media yang paling beradab.
Rasulullah SAW tak menaklukkan dunia dengan headline keras, tetapi dengan salam yang jujur. Surat dakwah ditulis, lalu sejarah membacanya berulang-ulang, sampai zaman kini.
Mungkin, yang paling kita butuhkan sekarang bukan media yang paling cepat, yang pertama muncul di halaman pertama, melainkan media yang paling amanah. Di situlah eksistensi surat-surat dakwah Rasulullah SAW. Semuanya jadi kompas etika yang tak akan pernah usang. (Dean Al-Gamereau).





