Menyambut Hari Pers Nasional Tahun 2026 di Provinsi Banten. Pesan Al-Qur’an untuk Wartawan (38)

Bagi penyair, sebuah inspirasi untuk membangkitkan rasa keagamaan Islam (Foto : https://id.pinterest.com)

Jurnalisme Asy-Syu’ara sangat menarik dan relevan untuk digunakan sebagai label bagi karya jurnalistik sastrawi yang memiliki basis moralitas kuat. Dalam konteks intelektual, penggunaan istilah ini bisa menjadi antitesis terhadap jurnalisme yang sekadar mencari sensasi.

Dalam konteks jurnalisme sastra yang kita bahas sebelumnya, ayat ayat ini menjadi “pagar” agar keindahan narasi (sastra) tak boleh mengabaikan kejujuran fakta (jurnalisme). Subjektivitas penulis tak boleh jadi alat memfitnah atau menghasut.

Bacaan Lainnya

Perspektif surat Asy-Syu’ara 224-226 terhadap jurnalisme modern adalah teguran untuk tetap berbasis data (iman), memiliki tujuan yang jelas (amal saleh), dan konsisten tulisan terhadap kenyataan (istiqamah). Wartawan yang menggunakan narasinya untuk membela kebenaran tetap terlindungi oleh pengecualian, sebagaimana Asy-Syu’ara 227..

Dalam kitab Al-Umdah, Ibn Rasyiq mengatakan, “Kalau muncul seorang penyair di suatu kabilah, maka kabilah-kabilah yang lain akan datang memberi selamat. Pada saat itu dibuatlah makanan. Para perempuan berkumpul memainkan musik seperti yang dilakukan kaum lelaki di pesta perkawinan. Laki-laki dan anak berbaur karena sang penyair dipandang sebagi pelindung kehormatan mereka, membentengi jasad mereka, mengabadikan perbuatan-perbuatan baik mereka, dan menjadikan mereka patut untuk diingat.” (Cery Riksanegri, LAZ PERSIS, 2023)

Tuduhan dan Ejekan Penyair Kafir

Penyair kafir seperti Abdullah bin az-Ziba’ra, Hubairah bin Abi Wahab, dan Musafi’ bin Abdi Manaf sering melontarkan ejekan kepada Rasullah SAW melalui bait-bait puisi mereka.

Mereka menuduh Al-Qur’an hanyalah syair belaka dan Rasulullah SAW adalah seorang penyair yang dipandu oleh jin atau setan. Maka, Asyu-Syu’ara ayat 224-226 turun untuk membantah tuduhan ini. Ayat itu pun menjelaskan perbedaan karakter penyair yang sesat dengan karakter Rasulullah SAW.

Lembah Kebohongan

Kecaman Al-Qur’an dalam Asy-Syu’ara 225, merujuk pada kebiasaan penyair saat itu yang hanya bermain kata-kata dan sering membual dan memuji sesuatu yang tak layak dipuji karena demi upah. Penyair ketika itu inkonsistensi pula. Mereka mengatakan hal-hal hebat atau mulia dalam puisi, namun tak mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Hhanya omon-omon, hanya omong kosong. (Asy-Syu’ara 226).

Mereka pun menghasut massa dengan menggunakan sastra untuk memicu permusuhan antarsuku dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Pendeknya, karya sastra atau syair mereka untuk kepentingan dan keuntungan pribadi duniawi, jauh dari misi pembebasan dan kebaikan.

Berjuang dengan Pena

Allah SWT mengecam penyair-penyair yang menyimpang, sambil menyebutkan penyair yang diridai-Nya, sebagaimana Asy-Syu’ara 277 yang merupakan pengecualian. Ayat pengecualian itu sekaligus jadi penghibur untuk penyair-penyair saleh. Jadi, tak semua penyair “dikecam”, ada pula penyair yang disanjung

Beberapa penyair muslim seperti Hassan bin Tsabit, Ka’b bin Malik, dan Abdullah bin Rawahah sempat bersedih dan takut jika mereka termasuk dalam golongan yang “dikecam”. Merespons kegelisahan tersebut, turunlah Asy-Syua’ra 227 sebagai pengecualian. Mereka pun pulih lagi. Semangat kepenyairannya tetap menyala.

Allah SWT menegaskan bahwa penyair (dan secara luas, penulis narasi atau jurnalis) yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan membela kebenaran (syiar) tak termasuk dalam kecaman tersebut, melainkan justru dimuliakan. Maka, bagian terakhir inilah merupakan tempat bagi muslim penyair dan penulis features.

Pada zaman Rasulullah SAW, hiduplah empat penyair terkenal, Hassan bin Sabit, Ka’ab bin Malik, Ka’ab bin Zuhair, Abdullah bin Rawahah. Mereka berjuang (berjihad) dengan pena, dengan syair, bukan dengan senjata.

Rasulullah SAW sering sekali menugaskan mereka untuk melawan syair-syair musuh Islam. Syair dilawan syair. Senjata dilawan senjata. Keduanya punya kekuatan dan karakter yang berbeda (Dean Al-Gamereau).

 

 

 

Pos terkait