Menyambut Hari Pers Nasional Tahun 2026 di Provinsi Banten. Pesan Al-Qur’an untuk Wartawan (39)

Dokumen surat dakwah Rasulullah SAW kepada Raja Habasyah (Sumber foto : http://www.alriyadh.com)

Pembelaan Diplomatik, Surat Maryam

Jauh sebelum dunia modern merumuskan konsep toleransi antarumat beragama, sejarah Islam telah mencatat sebuah oase kerukunan di timur  Benua Afrika.  Di bawah kepemimpinan Ashamah bin Abjar, yang dikenal sebagai Raja Najasyi (Negus), Habasyah (kini, Etiopia) menjadi tempat umat  Islam dan Kristen Koptik duduk satu meja dalam suasana saling melindungi.

Bacaan Lainnya

Momen paling ikonik dari toleransi ini terjadi saat Ja’far bin Abi Thalib melancarkan aksi pembelaan diplomatik di hadapan majelis kerajaan. Di hadapan para uskup dan Raja Najasyi yang beragama Kristen, Ja’far membacakan  Al-Qur’an surat  Maryam, berisi  kisah  kemuliaan Bunda Maria dan mukjizat Nabi Isa AS.

Mendengar ayat-ayat tersebut, Raja Najasyi dan para pemuka gereja menangis hingga janggut mereka basah. Najasyi kemudian membuat sebuah pernyataan yang kemudian menjadi tonggak sejarah dialog antaragama,  “Sesungguhnya apa yang dibawa nabimu dan apa yang dibawa Isa berasal dari sumber cahaya yang sama. Perbedaan antara agama kami dan agama kalian tidak lebih dari garis tipis ini.”

 

Suaka Tanpa Syarat

Toleransi di Habasyah bukan sekadar retorika. Raja Najasyi memberikan perlindungan fisik dan hukum kepada kaum muslimin, meskipun ada tekanan politik besar dan iming-iming hadiah besar dari kaum Quraisy.

Ya, utusan petinggi Quraisy mengutus diplomat ulung Amr bin Al-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah (kemudian mreka masuk Islam). Mereka  menghasut Raja agar menyerahkan Jafar dan sahabat muhajirin lainnya untuk mereka bawa pulang ke Makkah.

Gagal total. Raja Najasyi bertindak adil, dan tak mempercayai begitu saja provokasi kedua diplomat kafir Quraisy ini. Sebetulnya, sebelum pulang, kedua diplomat itu sekali lagi menjumpai Raja Najasyi.

Mereka melontarkan fitnah kepada Jafat dan sahabat muhajirinnya, bahwa mereka membenci dan menjelek-jelakkan umat Kristen. Raja Najasyi sekali lagi memangil Jafar dan mengkonformasi. Lagi-lagi, fitnah.

Raja Najasyi menolak hadiah-hadiah mewah utusan Mekkah, sekaligus menjamin keamanan kaum muslimin asal Makkah itu, Ungkaspanya yang sangat terkenal, dan fenomenal,  “Kalian aman untuk mempraktikkan agama kalian di sini. Kalian tidak akan menderita ketidakadilan”.

Prinsip Raja Najasyi adalah manifestasi dari kepemimpinan yang berlandaskan moralitas universal, bukan semata-mata sektarian. Baginya, melindungi orang-orang yang terzalimi adalah amanah Tuhan yang harus melampaui batas teologis.

 

Warisan untuk Dunia Modern

Selama 15 tahun, kaum muslimin hidup berdampingan dengan penduduk Habasyah yang Kristen.  Tak ada upaya konversi paksa atau permusuhan. Ini adalah model awal  migration justice (keadilan migrasi). Sungguh, Raja Najasyi  hadir hadir untuk kaum muslimin, dan  memberikan jaminan beribadah bebas bagi pengungsi berbeda keyakinan.

Ketika Najasyi wafat, Rasulullah SAW memberikan penghormatan tertinggi dengan melakukan salat gaib di Madinah. Sebuah pengakuan spiritual atas jasa seorang raja Kristiani yang telah menjaga umat Islam.

Maka, Habasyah pun selamanya dikenang bukan sebagai tanah asing, melainkan sebagai “negeri kebenaran” yang mempertemukan dua iman besar dalam satu kemanusiaan.

Kaum wartawan kini menulis pula tentang kerukunan antarumat beragama. Bukan jadi “kompor gas” manakala terjadi konflik (yang sering terjadi), tetapi harus jadi “petugas PDAM” yang ikut meredekan konflik, dan membangun perdamaian lewat jurnalisme damai seperti pelajaran dari Al-Qur’an surat Al-Hujurat. Raja Najasyi luluh dengan ayat-ayat Al-Qur’an, dan melahirkan kebijakan yang adil. (Dean Al-Gamereau)

Pos terkait