Layar, Ruang Hidup Baru
Setiap pagi, sebelum mata benar-benar terbuka, jari kita sudah lebih dulu bekerja. Menggeser layar. Membuka notifikasi. Menyambut dunia melalui cahaya kecil di genggaman.
Kita menyebutnya hiburan, informasi, atau pengisi waktu. Padahal, diam-diam, ia sedang membentuk cara kita merasa, berpikir, dan mengingat. Media hari ini bukan sekadar alat. Ia adalah ruang hidup baru.
Al-Qur’an, jauh sebelum istilah media dikenal, telah memberi kosa kata yang tepat untuk membaca situasi ini : la‘ibun dan lahwun. Yang pertama berarti bermain (ringan), sedangkan yang kedua berarti lalai (kehilangan fokus pada hal yang hakiki).
Dalam satu ayat, kehidupan dunia digambarkan hanya sebagai la‘ibun dan lahwun. Sebuah peringatan halus bahwa ada garis tipis antara hiburan yang menyegarkan dan hiburan yang mengosongkan. Masalahnya, media modern jarang berhenti di wilayah la‘ibun.
Lahwu al-Hadiisti
Kita menonton bukan lagi untuk jeda, melainkan untuk lupa. Kita tertawa bukan untuk lega, melainkan untuk menutupi sunyi. Kita mengonsumsi konten bukan karena perlu, melainkan karena terus disuguhkan. Di titik ini, hiburan berubah fungsi. Dari permainan menjadi pelarian. Dari la‘ibun menjadi lahwun.
Al-Qur’an menyebut lahwu al-hadiitsi (narasi, cerita, atau wacana yang melalaikan manusia dari jalan kebenaran). Para mufasir klasik menjelaskannya bukan sebagai satu bentuk hiburan tertentu, melainkan sebagai fungsi : apa pun yang diproduksi dan dikonsumsi hingga menyesatkan kesadaran dan menjauhkan manusia dari makna hidup.
Jika dulu lahwu al-hadiitsi hadir dalam bentuk kisah-kisah pasar untuk menyaingi wahyu (Al-Qur’an), hari ini ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih canggih. Algoritma bekerja tanpa lelah, mempelajari selera kita, lalu menyuapi apa yang paling lama menahan perhatian. Bukan yang paling benar, bukan yang paling bermakna, melainkan yang paling membuat lupa waktu.
Etika Media Islami
Media tidak lagi menunggu kita mencarinya. Ia mengejar. Masuk ke ruang pribadi, menemani saat sendiri, bahkan hadir di meja makan. Hiburan tidak lagi punya jeda. Tidak ada waktu kosong yang benar-benar kosong. Setiap kekosongan segera diisi oleh layar. Di sinilah kesadaran diuji.
Islam tidak memusuhi hiburan. Nabi tertawa. Sahabat bercanda. Seni dan cerita hidup dalam peradaban Islam. Yang dijaga adalah batasnya. Agar tawa tidak mematikan empati. Agar cerita tidak menenggelamkan kebenaran. Agar hiburan tidak menjelma menjadi cara hidup yang lupa arah.
Masalah etika media bukan pertama-tama soal apa yang ditonton, tetapi apa yang terjadi setelah menonton. Apakah kita kembali lebih sadar, atau justru lebih kosong? Lebih peka, atau lebih tumpul? Lebih ingat, atau semakin lupa?
Awas, Jangan Lupa!
Bahaya yang lebih halus muncul ketika agama sendiri masuk ke logika hiburan. Ayat dijadikan hiasan, ceramah diperlakukan seperti tontonan, dakwah dinilai dari jumlah penonton. Agama yang seharusnya membangunkan, justru ikut meninabobokkan. Bukan karena isinya salah, melainkan karena tujuannya bergeser, dari hidayah ke atensi.
Al-Qur’an telah mengingatkan tentang orang-orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau. Bukan berarti mereka menolak agama, tetapi karena mereka memperlakukannya tanpa kesungguhan. Di era media, peringatan ini terasa sangat dekat.
Etika media Islami, pada akhirnya, bukan etika pelarangan. Ia adalah etika penjagaan. Menjaga niat saat memproduksi konten. Menjaga adab saat mengonsumsi. Menjaga jarak agar hiburan tetap menjadi hiburan, bukan pengganti makna.
Perhatian dan Kesadaran
Media yang baik tidak membuat manusia lupa dirinya. Ia memberi jeda untuk berpikir, ruang untuk merasa, dan cahaya untuk melihat lebih jernih. Hiburan yang sehat tidak menghabiskan kesadaran, tetapi mengembalikannya.
Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin etika media yang paling mendasar adalah ini: berani berhenti sejenak. Mematikan layar. Mendengarkan sunyi. Mengingat kembali tujuan.
Karena yang paling berharga dari manusia bukanlah perhatiannya, melainkan kesadarannya. Dan tidak semua yang menghibur layak dipelihara, jika ia membuat kita lupa apa arti menjadi manusia. (Dean Al-Gamereau)





