MIMBAR JUMAT Dakwah : Ketika Kehilangan Pelindung Sosial dan Sandaran Batin

Ilustrasi masjid Nabawi zaman Nabi. Masjid pun jadi pusat dakwah (Sumber foto : artikula.id/ResearchGate)

Abu Talib Meninggal Dunia

Waktu subuh itu Kota  Makkah belum benar-benar terjaga. Lorong-lorong masih basah oleh embun, dan suara langkah terasa lebih pelan dari biasanya. Di sebuah rumah sederhana, Rasulullah SAW duduk dalam diam yang panjang, diam yang tak meminta disaksikan siapa pun.

Bacaan Lainnya

Bulan Rajab tahun itu, tahun ke-10 Kenabian, Abu Thalib wafat Tak lama berselang, Khadijah binti Khuwailid pun menyusulm (Ramadan(,  Dua kehilangan yang datang hampir bersamaan, seperti pintu yang tertutup satu demi satu.

Abu Thalib adalah pagar terakhir. Ia tak beriman, tetapi berdiri di antara keponakan dan kemarahan Quraisy. Selama kakak Abdullah (ayahanda Rasulullah SAW)  hidup, gangguan memiliki batas.

Setelah Abu Thalib  tiada, batas itu runtuh. Kata-kata menjadi kasar. Ancaman tak lagi disamarkan. Lalu, kelompok musuh Rasulullah SAW  seakan menemukan jalan lebih lurus dan luas untuk menghadang dakwah. Kelompok  musuh Rasulullah SAW mengira, kematian Abu Thalib adalah “babak baru” melenyapkan harakah dakwah, sekaligus melenyapkan Rasulullah SAW.

 

Khadijah Meninggal Dunia

Di rumah, Khadijah adalah tempat pulang. Terutama saat-saat Muhammad (belum jadi nabi atau rasul Allah),  ber-tahanus (beribadah)  di Gua Hira. Pulang untuk membawa bekal, sekaligus berjumpa dengan  berlahan jiwanya. Muhammad lalu masuk gua lagi untuk beribadah, menurut ajaran Nabi Ibrahim AS.

Khadijah adalah perempuan pertama yang membenarkan kenabian suaminya ini Sangat percaya, jejak ssang suami tak pernah cacat. Saat berbisnis dengannya, tampak jujur dan sukses.

Khadijah pula yang menenangkan saat wahyu turun. Khadijah  yang mengorbankan harta dan ketenangan demi sebuah risalah. Ketika Khadijah wafat,  rumah tak sekadar kehilangan suara, tetapi juga seakan kehilangan makna.

Dari Khadijahlah Rasulullah SAW punya ketrurunan, ditambah Ibrahim, dari Mariyah Al-Qibtiyah. Putra dan putri Rasulukllah SAW, semuanya 7 orang, meninggal dunia sebelum Rasulullah SAW wafat. Kecuali Fatimah Az-Zahra (istri Ali bin Talib), wafat sekitar enam bulan kemudian setelah Rasulullah SAW wafat.

 

 

Penolakan Dakwah di Taif

Rasulullah SAW melangkah  ke Thaif. Harapan dibawa, meski hati belum pulih. Ternyata, dakwahnya ditolak, bahkan disembut aksi kekerasan fisik. Penolakan datang tanpa jeda.

Para pemuka Thaif menutup pintu. Anak-anak dikerahkan. Batu dilemparkan. Darah mengalir hingga membasahi sandal. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi, namun langkah demi langkah justru menambah luka.

Di sebuah kebun anggur, Rasulullah SAW duduk. Bukan untuk mengutuk, bukan untuk mengadu pada manusia. Di sanalah doa itu terucap—laporan paling jujur tentang lemahnya kekuatan dan rapuhnya daya.

Ketika malaikat penjaga gunung datang menawarkan pembalasan, Rasulullah SAW memilih menahan kuasa. Ia berharap, dari keturunan mereka kelak lahir orang-orang yang menyembah Allah. Luka tidak dijadikan alasan untuk membenci.

Beberapa tahun kemudian, memang, Taif datang membawa iman. Kota yang pernah melempar batu, akhirnya membuka diri. Sejarah mengingatkan,  kesabaran sering bekerja jauh setelah pelakunya terluka. Kalau saja penawaran Malaikat diterimanya, masyarakat Taif ketiak itu akan lenyap. Maka, generasi Taif berikutnya yang beriman, tentu, tak akan per nah lahir

 

Pelajaran  dari Tahun Duka Cita

Sejarah menyebutnya ‘Ām al-Ḥuzni (Tahun Duka Cita). Bagi Rasulullah SAW, itu bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah ujian sunyi.  Penamaaan Tahun Duka Cita pada tahun ke-10 kenabian itu, menunjukkan pula bahwa Muhammad SAW memang benar-benar manusia yang wajar saja kalau bersedih. Seorang nabi bersedih, seorang Muhammad bersedih, tentu, bukanlah aib.

Dakwah tak berhenti. Namun,  ia berjalan tanpa dua penyangga utamanya: perlindungan sosial dan sandaran batin. Di tengah tekanan yang kian berat, Rasulullah SAW melangkah ke Thaif. Harapan dibawa, meski hati belum pulih.

Tahun Duka Cita mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu ditopang oleh kekuatan. Kadang ia berjalan tertatih, disangga oleh kejujuran iman dan kesediaan bertahan. Tidak semua kehilangan adalah kekalahan.

Mungkin itulah pelajaran paling sunyi dari Rasulullah SAW. Memang, ada pelajaran penting dari Tahun Duka Cita itu. “Bahwa perjuangan risalah tak selalu seiring  dengan keteguhan yang terlihat, tetapi juga bersama langkah yang terus diambil, meski hati sedang berduka, sedang terluka – seperti pengalaman Rasulullah SAW”.  (Dean Al-Gamerea)

Pos terkait