MIMBAR JUMAT Hamba Allah dalam Al-Furqan : 63 – 77

Salah satu ciri hamba Allah (Al-Furqan : 63), rendah hati. (Foto : google.com)

Tujuh Sifat Hamba Allah

 ‘Ibaadun, kata jamak dari kata mufrad (tunggal) ‘abdun, artinya hamba. Maka, ibaadun artinya hamba-hamba atau para hamba. Ar-Rahmaani  dalam ayat itu salah satu nama Allah SWT dari 99 nama –Nya  yang sangat populer, disebut Asmaa-u Al-husnaa. Ar-Rahmaani, artinya Maha Penyayang.

Bacaan Lainnya

Dalam doa atau ibadah tertentu, ada kalanya kita menyebut Allah SWT dengan nama-Nya dari  asmaa’u al-husnaa, seperti bismillaahi ar-rahmaani ar-rahiiim.   Ada kalanya pula kita menyebut bismillah saja, tanpa Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.

Hal yang sama akan kita temukan pula dalam tahmid (alhamdulillah). Ada kalanya kita menyebut alhamdulillah saja, ada kalanya pula kita menyebut alhamdulillaahi rabbi al-‘aalamiin.

Tanda Ibaadu Ar-Rahmaan itu ada tujuh, dalam surat Al-Furqan 63 – 77 (rendah hati, salat malam, takut pada azab jahanam, tidak boros, tidak syirik, tidak membunuh, dan suka tobat).

Haunan  

Mengapa berjalan di muka bumi dengan rendah hati  sebagai  ciri atau sifat yang didahukukan? Inilah memang yang tampak. Tenang atau angkuh, sombong atau rendah hati, lembut atau kasar, bisa terlihat.

Berjalan (di muka bumi) jadi tanda “bahasa tubuh” yang paling sulit dipalsukan. Haunan : as-sakiinu wa al-waqaaru, duuna takabburin. (tenang  dan berwibawa, tidak sombong). Haunan di sini berkaitan dengan akhlak berjalan di muka bumi.

Berjalan  di muka bumi dengan rendah hati, tidak berarti berpakaian lusuh, wajah masam dan kusam (kalau perempuan, tanpa bedak, misalnya).  Ada hadis, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan” (dari Abdullah bin Mas’ud, dicatat Muslim).

Cara dan  ciri berjalan  di muka bumi tidak disertai dengan rasa sombong dan angkuh.   Namun, berjalan di atas muka bumi ini juga bisa kita perluas pula dengan berjalan dengan kendaraan (naik motor, naik mobil, dan lain-lain). Ibaadu Ar-Rahmaan berpenampilan tenang, berwibawa, dan indah dalam berakhlak dan beradab. Indah secara lahir :berpakaian pantas, serasi, bagus. Indah secara batin : rendah hati.

Salaama

Orang bodoh dalam ayat ini bukan yang rendah tingkat kecerdasannya (IQ-nya), melainkan orang-orang yang berkata kasar, menghasut, emosional, dan  berakhlak buruk. (Ibnu Kasir dkk.). Hamba Allah (Ibaadu Ar-Rahman) tidak akan turun ke tingkat orang bodoh seperti di atas, tetapi akan membalas dengan kata-kata yang baik (salaamaa). Jangan terbawa bodoh oleh orang yang bodoh.

Salaama di sini bukanlah salam penghormatan, melainkan salaamu al-mutaarakah (Asy-Syaukani). Salaamu al-mutaarakah adalah salam perpisahan, berpisah berwacana atau berdebat dengan orang-orang bodoh, orang dungu).

Dalam pergaulan zaman sekarang, mungkin bisa kita terapkan dalam ber-media sosial. Tak perlu setiap isu,  konten, atau wacana umpan balik atau kita sebarkan lagi. Harus ada proses seleksi dan verifikasi,

Zaman sekarang ini, video di telepon genggam kita : asli atau palsu atau sesuatu konten?. Hasil editing atau memang fakta yang sebenarnya? Konten hasil kecerdasan buatan (AI)  sering kita terima atau kita saksikan di media sosial. Kita sering tertipu.  (Dean Al-Gamereau)

Pos terkait