Dalam kondisi itulah, Rasulullah SAW memutuskan pergi ke Thaif, sekitar 90 kilometer dari Makkah. Tujuannya sederhana, mencari ruang baru bagi dakwah, sekaligus perlindungan. Ia tidak datang membawa pasukan. Tidak pula membawa ancaman. Perkara yang dibawanya hanya kata-kata dan harapan.
Namun, para pemuka Thaif menolak. Mereka mengusirnya. Kehadiran Rasulullah SAW disambut aksi kekerasan fisik. Anak-anak dan orang-orang rendahan dikerahkan untuk melempari beliau dengan batu.
Darah mengalir dari kedua kakinya. Zaid bin Harisah berusaha melindungi, namun setiap langkah justru menambah luka. Di sebuah kebun anggur, Rasulullah SAW akhirnya duduk lelah, terluka, sendirian.
Doa di Titik Terendah
Di sanalah, doa itu terucap. Bukan doa kutukan, bukan permintaan balas dendam. “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, sedikitnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia…”.
Doa itu adalah laporan paling jujur dari seorang rasul tentang rapuhnya manusia, juga tentang iman yang tidak pernah pergi meski tubuh tersungkur. Tak ada dendam, dan ingin balas dendam.
Ketika malaikat penjaga gunung datang menawarkan pembalasan, Rasulullah SAW menolaknya. Rasulullah SAW hanya melihat masa depam Thaif. Ia memilih berharap bahwa dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang beriman.
Berdakwah, Jadi Kota Hidayah
Tahun Duka Cita tidak menghentikan dakwah. Justru di sanalah watak sejatinya terlihat. Bahwa dakwah bukan tentang jumlah pengikut, melainkan keteguhan menyampaikan kebenaran. Bukan tentang sambutan hangat, melainkan kesetiaan pada amanah.
Beberapa tahun setelah peristiwa itu, Thaif, kota yang dulu melempari batu, atau “hujan batu”, datang menyatakan iman. Sejarah membuktikan bahwa kesabaran tidak pernah sia-sia. Dengan dakwah yang tak pernah berhenti, Thaif kemudian berubah jadi Kota Hidayah.
Bagi siapa pun yang hari ini berdakwah, Tahun Duka Cita adalah cermin. Bahwa penolakan adalah bagian dari jalan. Bahwa kehilangan tidak selalu berarti kekalahan. Dakwah sejati tetap berjalan, bahkan ketika yang paling dicintai telah pergi. Karena risalah ini tidak berdiri di atas kenyamanan, melainkan di atas keteguhan hati. Dan dari duka itulah, sejarah akhirnya berbelok menuju cahaya. (Dean Al-Gamereau)





