Transformasi Strategis
Di tengah-tengah perubahan sosial dan lingkungan, badai digital, banjir informasi, krisis moral, dan disrupsi otoritas keagamaan, ada sebuah ormas legendaris yang sedang memikirkan format baru gerakan jamiyah di era global dan digital ini. Namanya, Persatuan Islam, diakronimkan jadi PERSIS (dengan huruf kapital), berkantor pusat di Kota Bandung (Jawa Barat), didirikan pada 12 September 1923 M.
Ketua Umum PP PERSIS, K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag. menggagasi format baru gerakan jamiyah itu, menjelang abad ke-21 ini. “PERSIS harus menjadi gerakan yang memadukan kemurnian manhaj (metode) Al-Qur’an dan As-Sunnah, kedalaman ilmu, kekuatan organisasi, kecanggihan teknologi, dan visi peradaban,” kata Dr. Jeje. Maka, di bawah PP PERSIS, dengan “lokomotif” Dr. Jeje itu, konsep format baru gerakan PERSIS harus diterjemahkan ke dalam wilayah operasional yang nyata.
Semua unsur gerakan penting, dan tali-temali untuk membangun sebuah organisasi yang kuat, modern, dengan dukungan teknologi, sambil tetap berpegang teguh pada garis juang jamiyah.
“PERSIS dituntut tidak hanya mempertahankan identitas dakwah tajdiid (pembaharuan) seperti yang telah diwariskan para pendirinya, tetapi juga harus melakukan transformasi strategis agar eksistensi jamiyah tetap relevan dan mampu menjadi kekuatan peradaban,” kata Dr. Jeje lagi.
PERSIS memang serius membentuk format baru gerakan ini, melalui transformasi strategis. Ini harga mati. Asyiknya, PERSIS tidak alergi dengan perubahan
Tiga Pilar Utama
Kiranya, format baru gerakan PERSIS di era global dan digital itu bisa dibaca pula jadi tiga pilar utama, berdasarkan gagasan gerakan Dr. Jeje. Ketiga pilar utama itu, (a) regenerasi terencana (penyiapan pimpinan masa depan), (b) dakwah kontekstual (mengubah format respons isu sosial, dari pengajian rutin di masjid, ditambah jadi gerakan yang lebih terbuka (inkusif). dan (c) akuntabilitas (membangun sistem kepemimpinan yang siap dievaluasi, bahkan diaudit publik atau dikritik netizen).
Tentu saja, seperti disebut di atas, verifikasi dan purifikasi sebagai cara dan ciri PERSIS tidak boleh hilang. Itu identitas aslinya. Ibaratnya, PERSIS itu kopi tanpa gula : pahit, kuat, dan obat beunta (begadang) yang ada artinya sepanjang malam saat membedah kitab setelah salat tahajud, bahan kuliah subuh.
Namun, di era global dan digital itu, kopi pahit ini perlu disajikan dengan cangkir yang estetik dan artistik, atau sesekali ditaburi es batu supaya menyegarkan generasi Zillennial (kisaran kelahiran tahun 1993 – 1998).
Rancangan Induk Karya Dewan Tafkir
Dewan Tafkir PP PERSIS pantas diberi tugas menyusun rancangan induk atau grand design format gerakan baru PERSIS ini. Ketua Umum. Wakil Ketua Umum, dan salah seorang anggota Majelis Penasihat PP PERSIS bisa turun gunung, jadi pengarah dan pengasah penyusunan rancangan induk itu. Wakil Ketua Umum pasti siap. Beliau ini, sebetulnya, bekerja di PP PERSIS, tetapi hobby-nya jadi wamendikdasmen.
Tasykil Dewan Tafkir cukup lengkap, didukung oleh para anggotanya yang memang kompeten di bidangnya. Dewan Hisbah diajak diskusi agar rancangan induk karya Dewan Tafkir lebih syar’i. Kalau masih kurang, Qaidah Dakhili mengizinkan Dewan Tafkir mengundang narasumber dari luar.
Boleh jadi, dan boleh pula kita bayangkan, dalam penyusunan rancangan induk itu, para anggota Dewan Tafkir berdebat panjang. Namun, suasana akan tetap cair dan menyenangkan.
Apalagi, dalam diskusi itu, kalau ada sajian kopi pahit. Diskusi kian asyik. Di tangan PERSIS, kopi pahit itu jadi lebih memikat karena dituangkan ke dalam cangkir yang estetik dan artistik. Cangkir seperti itu sebenarnya adalah simbolisasi format baru gerakan PERSIS di era global dan digital – hasil transformasi strategis.
Jenis kopinya, dalam diskusi Dewan Tafkir itu? Tidak usah kopi sekelas Panama Geisha dengan aroma bunganya, atau kopi Jamaica Blue Mountain dengan kelembutan, keseimbangan, dan rasa pahitnya yang rendah. Atau, tak usah pula kopi sekelas Yirga Cheffe dengan aroma bunga melati dan rasa buah jeruk yang khas.
Namun, diskusi itu, sangat pantas ditemani kopi produksi Unit Usaha Pesantren Persatuan Islam (PPI) 76 Tarogong (Garut). Di hulu, PPI 76 Tarogong punya kebun, punya pabrik. Di hilir, punya Gerai Kopi 76 yang kian populer. Maka, transformasi strategis itu jadi sederhana : cangkir yang estetik dan artistik.
Khasiat kopi, konon, berdasarkan hasil penelitian, antara lain, bisa meningkatkan energi dan fokus serta menjaga kesehatan otak. Maka, kopi itu pas, khas, dan pantas untuk anggota Dewan Tafkir – yang pekerjannya berpikir.
Mama Hamim dan Kopi Pahit
Suatu hari dalam sebuah pertemuan para ulama di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tahun 1930 – 1940. Seorang anak muda dari PERSIS Bandung menyeduh kopi untuk tokoh ulama setempat, K.H. Muhammad Hamim.
Kopi hangat yang diseduh anak muda itu, ternyata pahit. Kata Mama Hamim, demikian ulama kharismatik itu biasa dipanggil, “Pahit sekali. Padahal, biasanya manis”. Jawab anak muda yang menyeduh kopi, dengan amat sangat hormat dan santun, “Ya, Mama! Ini kopi asli, dari biji pilihan, belum dicampur gula”. Jawab Mama Hamim kemudian, “Kopi tidak salah, aslinya memang pahit”.
Anak muda itu girang, karena menemukan celah dakwah yang santun. Kata anak muda itu lagi, juga dengan amat sangat hormat dan santun, “Begitulah, Mama, ajaran PERSIS yang sedang berkembang di Bandung saat ini. Ajarannya Islam asli, seperti kopi pahit asli yang tidak dicampur apa pun.”
Belum selesai. Sambung anak muda itu, dan ini yang paling substansial, “Mama! Kebenaran itu awalnya terasa pahit di lidah, seperti kopi, seperti obat. Namun, setelah obat diminum, maka akan hilanglah penyakit seperti takhayul, bid’ah, dan khurafat”.
Analogi anak muda ini ternyata menyentuh dan “menyetrum” otak dan jantung ulama kritis asal Ciampea Bogor ini. Mama Hamin terkesan dengan adab dan dalil dari anak muda itu. Secangkir kopi pahit ini kemudian meruntuhkan anggapan Mama Hamim sebelumnya, bahwa PERSIS itu perusak tradisi, kurang adab dalam mengaji, dan Wahabi (Risalah, No. 3 – 4 Tahun 1970).
Akhirnya, Mama Hamim jadi tokoh PERSIS di Kota Hujan ini. Anak muda yang tempo hari menyeduh kopi pahit itu, benarkah kemudian jadi ketua umum PP PERSIS masa jihad 1962-1983, K.H.E. Abdurrahman? (Dean Al-Gamereau).





