Rizal Ramli: Kalau Impor Karena Cuaca Saya Setuju, Tapi Tidak Kalau Dibuat-Buat

KORANBANTEN.COM – Pengamat ekonomi Rizal Ramli menilai ada pihak yang mengambil keuntungan dari impor bahan pangan.

Dia menghitung, harga pangan yang diimpor ke Indonesia dua kali lipat lebih mahal dibandingkan harga pangan di negara lain.

Read More

“Pihak yang memperoleh kuota impor pangan tentu mendapat untung besar. Jadi, kemungkinan ada pihak-pihak yang sedang mencari dana,” sebut dia dalam pernyataan tertulis seperti dikutip dari Kontan, Minggu (6/5/2018).

Mantan Menko Kemaritiman ini juga menyebut, dalam mengimpor bahan pangan pemerintah harus melihat waktu. Dia menilai, kebijakan impor di awal tahun bukan waktu yang tepat.

“Kalau perlu banget, saya tidak keberatan impor, tetapi timing-nya diatur. Saat paceklik baru impor,” ujar Rizal.

Seperti diberitakan, awal tahun 2018 ini, pemerintah membuka keran impor beras sekitar 500.000 ton. Selain beras, terdapat sejumah komoditas pangan lain yang diimpor.

Menurut Rizal, pemerintah mengimpor komoditas pangan justru dilakukan saat petani Indonesia tengah panen.

“Kebijakan itu, tentu menyebabkan harga anjlok dan merugikan para petani,” sebutnya.

Dia mencontohkan kejadian di Brebes beberapa bulan lalu. Pemerintah memutuskan impor bawang justru ketika menjelang masa panen. Alhasil, harga bawang anjlok. Kemudian, saat panen selesai, impor malah berkurang, sehingga harga naik sekitar Rp 10.000.

Hal yang sama terjadi dalam kebijakan impor gula saat panen tebu, dan impor beras justru menjelang panen pada kuartal pertama tahun 2018 ini.

“Kalau impor karena cuaca dan lain-lain saya setuju, tapi tidak kalau kelangkaan ada dengan alasan dibuat-buat,” ucapnya. (Tinik)

 

Sumber: Kompas.com

 

Related posts