Samakah Saum dan Siam?

Komunitas jamaah iktikaf masjid Hadyu Rasul, Kota Serang, Provinsi Banten. (Foto : Dok. Pesantren Tahfiz Umar bin Al-Khattab).

Saum disebut sekali dalam Al-Qur’an, dalam surat Maryam : 26,“Sesungguhnya aku telah  bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini”. Siam disebut tujuh kali dalam Al-Qur’an. terdiri dari Al-Baqarah : 183,  Al-Baqarah : 187, Al-Baqarah : 196, An- Nisaa : 92, Al-Maidah : 89,  Al-Maidah : 95, dan Al-Mujadalah : 4.

Saum dan siam itu sendiri disebut isim mashdar (dalam ilmu tasrif), berasal dari kata yang sama, shaama, yang dalam bahasa Indonesia resmi diterjemahkan dengan puasa. Saum dan siam sudah masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Bacaan Lainnya

Apakah saum dan siam berbeda dari sudut  bahasa (etimologis) dan istilah (terminologis)? Para ulama bahasa banyak yang sepakat, pada akhirnya, siam  dan saum itu sinonim, antara lain, karena berasal dari akar kata yang sama, shaama, sebagaimana  tersebut di atas.

Al-Qur’an khususnya, menggunakan kedua kata ini. Sangat menarik untuk dikaji, jadi ilmu. Allah SWT menggunakan kata siam untuk kewajiban puasa selama bulan Ramadan dan puasa yang lain.

Allah SWT memilih saum untuk puasa berbicara  sebagaimana surat Maryam : 26. Ada ulama bahasa yang menyebut perbedaan siam dan saum. Siam didefinisikan  dengan imsaak (penahanan diri/pengekangan diri) dari perkara-perkara yang membatalkan, disertai dengan niat.

Saum didefnisikan dengan imsaak (penahanan diri/pengekangan diri) dari perkara-perkara yang membatalkan, disertai dengan niat) dan (juga pengekangan diri/penahanan diri) dari berkata-kata. Dengan demikian, ada perbedaan definisi. Saum jadi lebih luas dari siam

Definisi siam dibuat para ulama bahasa berdasarkan tujuh ayat Al-Qur’an yang tersebar di empat surat (sebagaimana tersebut di atas). Ketujuh ayat  itu jelas menggunakan kata siam, dengan petunjuk tegas pada surat Al-Baqarah 183 (dan ayat berikutnya sampai ayat 187) dengan  siam sebagai syariat. Siam berdasarkan ayat-ayat ini adalah imsaak dari makan, munum, dan beretubuh, disertai dengan niat, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Definisi saum dibuat berdasarkan satu-satunya ayat, yakni surat Maryam : 26. Saum dalam ayat ini tak mengisyaratkan sebagai siam syariat imsaak dari makan, minum, dan berhubungan badan  tetapi  imsaak  dari berkata-kata.

Nabi Muhammad SAW menggunkan saum dan siam dalam hadis-hadisnya. Contohnya, pengakuan Aisyah, istrinya, Rasulullah SAW menciumnya, padahal bulan saum. Bahasa hadisnya, syahru ash-shaumi (Muslim).  Dalam hadis Ibnu Umar, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Islam didirikan atas lima perkara….dan siam Ramadan (Muslim). Dalam bahasa hadisnya, shiyaami Ramadlaana (siam Ramadan).

Apa pun, siam atau saum pada hakikatnya sama saja. Kedua-duanya ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis, Kedua-duanya pula diterjemahkan puasa  ke dalam bahasa Indonesia. Jadi, mungkin boleh pula, umat Islam menyebut ibadah siam Ramadan ini dengan puasa Ramadan.

Kaidah usul fikih, maqaashidu al-lafdzi ‘alaa niyyatil al-laafidz (maksud pelafalan itu tergantung niat yang melafalkannya). Artinya, umat Islam menyebut puasa sebagai padanan siam atau saum seperti yang dimaksudkan siam atau saum sebagaimana dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis.

Siam Ramadan disyariatkan pada tahun kedua hijriah, pada bulan Syaban, artinya, disyariatkan menjelang bulan Ramadan.  (Hasil kajian Iktikaf 1447 H/2026 M di masjid Hadyu Rasul, Kota Serang, Provinsi Banten, Dean Al-Gamereau)

Pos terkait