KOTA TANGERANG, 11 Mei 2026 – Di tengah maraknya informasi dan perhatian masyarakat mengenai tata kelola perusahaan, Direktur Utama Perumda Tirta Benteng, Dody Effendy, memilih sikap terbuka dan tenang dalam menyikapi berbagai pendapat yang muncul. Baginya, kritik yang disampaikan oleh para pengamat hukum bukanlah bentuk ancaman, melainkan sarana refleksi agar manajemen dapat terus memperbaiki kinerja dan pelayanan.
Dalam pernyataannya yang mengandung nilai kemanusiaan yang mendalam, Dody menyampaikan rasa hormat dan apresiasi kepada seluruh jajaran karyawan yang bekerja di balik layar. Ia menyebut mereka sebagai ratusan “pejuang air” yang bekerja siang dan malam agar kebutuhan air bersih warga Kota Tangerang dapat terpenuhi.
“Kami ingin masyarakat memahami, setiap tetes air yang mengalir ke rumah-rumah warga adalah buah dari kerja keras rekan-rekan kami yang bertugas di lapangan. Oleh sebab itu, integritas adalah hal yang paling utama dan tidak bisa ditawar. Kami tidak ingin pengabdian dan dedikasi para pegawai kami ternoda oleh keraguan publik. Inilah alasan mengapa kami sangat mendukung pelaksanaan audit secara menyeluruh; kami ingin membuktikan bahwa amanah yang diemban ini kami pelihara dan jalankan dengan sebaik-baiknya,” ungkap Dody dengan tulus, Senin (11/5).
Bagi Dody, penerapan Prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik atau Good Corporate Governance (GCG) bukan sekadar slogan atau kewajiban administrasi belaka, melainkan sebuah janji moral yang disampaikan kepada seluruh warga Kota Tangerang. Ia memandang kekhawatiran yang muncul di ruang publik maupun media massa sebagai tanda bahwa masyarakat sangat peduli dan mencintai aset daerahnya sendiri.
“Kami sama sekali tidak alergi terhadap kritik. Justru kami merasa berterima kasih karena diperhatikan. Apabila ada hal atau indikasi yang dianggap kurang tepat, pintu kantor kami selalu terbuka lebar untuk berdialog dan mendiskusikannya. Kami ingin membangun budaya kerja yang sehat di dalam organisasi, di mana transparansi dijadikan sebagai pondasi utama dalam setiap kebijakan dan tindakan,” tambahnya.
Meski saat ini isu terkait proses audit menjadi sorotan utama, Dody menegaskan bahwa fokus utama perusahaan tidak akan pernah bergeser dari pelayanan kepada masyarakat. Ia bahkan kerap turun langsung ke lokasi pekerjaan untuk memantau dan memastikan perbaikan infrastruktur berjalan tepat waktu dan sesuai rencana, karena ia sangat menyadari betapa krusialnya ketersediaan air bersih bagi kehidupan sehari-hari.
“Prioritas kami yang paling tinggi adalah memastikan ibu rumah tangga tidak kesulitan mendapatkan air, kegiatan ibadah warga dapat berjalan lancar, serta kesehatan anak-anak dan seluruh keluarga tetap terjaga berkat kualitas air yang terjamin. Urusan administrasi dan proses pemeriksaan akan kami lalui dengan tertib dan patuh pada hukum yang berlaku, namun satu hal yang harus diingat: pelayanan publik adalah detak jantung perusahaan ini, yang tidak boleh berhenti berdetak selamanya,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Dody mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari warga biasa, pengamat, hingga rekan-rekan media massa, untuk senantiasa mengedepankan asas praduga tak bersalah. Ia meyakini bahwa kebenaran akan terungkap dengan sendirinya melalui proses pemeriksaan yang objektif, berbasis fakta, dan adil bagi semua pihak.
“Mari kita jaga dan awasi bersama perusahaan milik daerah ini. Kami adalah bagian dari keluarga besar Kota Tangerang. Apabila kami berjalan di jalur yang benar, mohon dukungan kami. Namun jika kami melakukan kekeliruan, ingatkanlah kami dengan cara yang membangun dan konstruktif. Ingatlah selalu, kami ada di sini untuk melayani masyarakat, bukan untuk dilayani,” tutup Dody mengakhiri pernyataannya.
(*)





