Azwar AN, Seniman Teater Dan Sineas Sutradara Film Indonesia

KORANBANTEN.COM  – Tenda biru terpasang di depan rumah seniman teater dan sineas Sutradara Film Indonesia serba bisa, Azwar AN di Jl. Sawo 1 nomor 6, Wiro-kerten Indah, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Hajat apa gerangan yang tengah digelar lelaki kelahiran Palembang, 6 Agustus 1937 itu?

Rupanya bukan Azwar yang punya nazar, tetapi para cantrik Teater Alam yang spontanitas menggalang hajat. Berawal dari pembuatan WAG (whatsapp group) oleh Jeng Anas, terlemparlah gagasan kumpul-kumpul. Gayung bersambut. Tanggal pertama, hanya terdaftar tidak kurang dari 10 orang. Batal. Tanggal kedua pun ditetapkan. Lebih 10 orang menyatakan siap hadir.

Read More

Sadar tidak mungkin ada kesepakatan bulat tentang “Hari H”, maka diputuskanlah tanggal 13 Mei, hari Minggu.

Minggu pagi, tak kurang dari 20 eksponen Teater Alam pun berkumpul. Bang Azwar, begitu ia biasa disapa, bahagia bukan kepalang. Dalam usia yang ke-81, secara fisik Azwar tampak sehat. Hanya saja, daya ingatnya memang mulai menurun. Ketika didaulat berbicara, terasa benar luapan emosinya. Rasa bahagia yang membuncah, ucapan banyak terima kasih dalam nada bergetar, dan nyaris menjatuhkan air mata. Beruntung, celetukan dari orang per orang, segera mencairkan suasana.

“Saya harap, kalian melanjutkan Teater Alam. Sekali-kali, berkumpulah, bikin pementasan. Kumpulkan dan libatkan teman-teman yang kini tersebar di mana-mana, baik di Indonesia maupun yang berada di mancanegara,” harap Azwar AN, pendiri Bengkel Teater Yogyakarta dan ayah tiga orang anak itu.

Tokoh senior lain yang hadir adalah Tertib Suratmo (78). Sahabat Azwar AN sejak di Bengkel Teater, begitu antusias menghadiri acara yang diberi tagline “Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN”. Udik Supriyanta, generasi bontot Teater Alam, yang ‘kedapuk’ menjemput Suratmo, mengisahkan dengan gaya jenakanya. “Waktu saya datang, Mas Tertib Suratmo sedang nyungging wayang. Lalu saya ceritakan tentang pertemuan ini, dia langsung mengemasi wayang dan alat tatahnya, ganti baju, dan segera mengajak berangkat ke Wirokerten ini,” kata Udik, yang siang itu memandu jalannya acara.

Benar. Teater Alam sudah melahirkan banyak seniman teater di Indonesia, tidak sedikit juga yang kemudian merambah bidang lain. Hari itu, selain hadir anggota Teater Alam yang masih bergiat di dunia teater di Kota Gudeg, hadir juga murid-murid Azwar yang secara khusus datang dari luar kota Yogyakarta.

Tapi Usai Bang Azwar dan Mas Ratmo meluapkan rasa bahagianya, Udik segera menggilir peserta temu kangen untuk berbicara. Meritz Hindra, pendiri sekaligus angkatan pertama Teater Alam, langsung antusias menyambut harapan Azwar untuk “pentas reuni Teater Alam”.

Seniman berambut gondrong yang sudah malang-melintang di dunia teater, film, dan seni rupa itu, juga menyegarkan suasana dengan ungkapan kenangan masa lalu.

“Saya tidak habis pikir sama anak-anak teater Alam. Datang didiamkan berhari-hari, berminggu-minggu, tapi balik lagi. Latihan salah dilempar sandal, balik lagi. Disuruh lari-lari di tengah hujan, balik lagi. Di-munyuk-munyuk-kan (munyuk = monyet-red), tetap saja balik lagi,” ujar lelaki kelahiran Solo, 22 April 1949 itu.

Gege Hang Andhika, Senior teater Alam yang juga adik ipar Azwar AN ini dikenal easy going dan jenaka. Lelaki berperawakan tinggi berkulit putih belum lagi habis bicara, ketika ada yang nyeletuk “klinthing”. Klinthing adalah suara logam yang jatuh ke lantai. Apa pasal celetukan itu membuat semua hadirin tertawa.

Syahdan, ketika Gege memerankan Oidipus dalam lakon Oidupus Rex (Oidipus Sang Raja) karya Sophocles, ia lupa dialog dan terucap kata “klinthing”. Kata “klinthing” jelas tidak ada dalam naskah. Apa boleh buat, Gege memang lupa, dan “lupa dialog” sudah menjadi “nama tengah” Gege, alias biasa.

Hebatnya, sebagai aktor kawakan, Gege bisa dengan mudah berimprovisasi, dan tidak merusak keseluruhan repertoar. “Itulah hebatnya anak-anak Teater Alam. Semua jago improvisasi,” kata Gege.

Makan siang tidak tertolak, ketika perut semakin lapar dan sepertinya semua sudah bicara. Meski kebanyakan yang hadir awalnya bertekad, “Pokoknya  tidak mau ngomong program atau gagasan, maunya ger-geran saja,” tidakk urung ngomong ide dan rencana juga.

Meritz Hindra, Daru Maheldaswara dan yang aktif di Yogyakarta, seperti Puntung CM Pudjadi (yang kebetulan tidak hadir) diminta menyiapkan naskah dan memproduksi pentas reuni Teater Alam.

Sampai bubar acara ketika matahari sudah tergelincir ke barat, sekelompok kecil hadirin yang tersisa masih asyik membicarakan rencana itu.

Meritz Hindra memandu jalannya diskusi ringan, membahas rencana produksi secara umum. “Segera setelah dapat naskah dari Daras, kita ketemuan untuk bedah naskah, adaptasi naskah dan rencana produksi lebih lanjut,” ujar Meritz menunjuk Roso Daras yang tinggal di Jakarta untuk men-copy dan mengirim naskah drama “Ketika Bumi tak Beredar” karya Frans Rahardjo ke markasTeater Alam. (Ade -red)

Related posts