Menyambut Hasil Muktamar XIV Pemuda Persis 2026 Bersama Ulama Sampai Akhir

Ulama menjaga akar, pemuda menumbuhkan cabang

Alumni dan Ajari Aku!

I am the moslem first, the moslem second, and the moslem forever.Mang Endang, suatu malam (tahun 1978-an), menggemakan motto itu, di hadapan puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang bergabung dalam wadah Alumni Pesantren Persatuan Islam (PPI) Pajagalan Bandung.

Bacaan Lainnya

Ustaz Abdurrahman kemudian tampil memberi sambutan, lalu menukar alumni jadi ‘allimni (ajari aku!).“Kamu, memang alumni,namun hakikatnya, ‘allimni,” kata Ustaz, sambil mengarahkan jari-jari tangan  ke dadanya. Suasana hening seketika, semua tertunduk.

Mang Endang, atau Endang Saifuddin Anshary, M.A. manggut-manggut. Ustaz Abdurrahman, dengan ‘allimnii itu, sebenarnya ingin mengingatkan bahwa jangan pernah berhenti belajar. Pesannya di tempat lain kepada murid-muridnya,”Kamu  harus bertambah ilmu setiap hari”.

Mottojuang yang digemakan Mang Endang itu, sesungguhnya berasal dari Pemuda Persatuan Islam (PERSIS), berbahasa Arab, ada di lambang Pemuda PERSIS sendiri : ana muslimun qabla kulli syai-in.

Entahlah, ketika itu, motto itu terasa lebih bertenagasaat dipidatokan Mang Endang. Salah seorang putra Singa Podium PERSIS K.H.A. Isa Anshary itu, memang, seperti sang ayah, jadi “Singa Podium” pula.

Ustaz Abdurahman dan  Mang Endang kini sudah tiada.  Sejumlah aktivis Alumni PPI Pajagalan Bandung dewasa itu pun banyak  jugayang sudah tiada, seperti Ustaz Deddy Rahman, Ust, Entang Mukhtar, Ustaz Hayat Setiawan, Ustaz Ayat Hidayat, Ustaz Sobarna, dan lain-lain.

Meski begitu, motto juang terus dirawat, tanpa henti, dari generasi ke generasi Pemuda PERSIS :ana muslimun qabla kulli syaiin. Iam the moslem first, the moslem second, and the moslem forever.Motto juang itu terus dijaga dan dikawal, hingga kini.

               

Ketum Baru PP Pemuda PERSIS

Cepi Hamdan Rafiq, S.Th.I., M.Pd.  terpilih tidak dengan sorak yang hingar, tetapi dengan harap yang pelan-pelan mengetuk dada. Dalam sebuah hotel di Soreang, Ahad (26/04/26),  di antara wajah-wajah yang lelah oleh perjalanan diskusi, debat,  dan musyawarah, namanya disematkan sebagai ketua umum (ketum) Pimpinan Pusat (PP) Pemuda PERSIS (2026 – 2031).

Sebuah amanah, yang bagi sebagian orang muda, mungkin terdengar seperti jalan sunyi.Maka, motto juang ana muslimun qabla kulli syaiin semakin keras terdengar.

Di luar sana, dunia berlari. Anak-anak muda seusianya banyak yang sedang sibuk menyusun masa depan: gelar, karier, jabatan, angka-angka yang mengilap di layar ponsel, atau kebanggaan yang kelak dipersembahkan kepada calo mertua atau kepada mertua. Dunia menawarkan panggung terang, dengan tepuk tangan yang cepat dan pujian yang mudah.

Namun, Cepi memilih jalan yang lain.Jalan yang tidak selalu punya cahaya lampu.Jalan yang kadang sepi dari tepuk tangan.Jalan yang panjang, dan sering kali tidak  dipahami.

`

“Bimbing Saya, Ustaz!”

Suatu malam, dan sesaat setelah  dipercayai jadi ketua umum, Cepi datang kepada ulama, K.H. Zae Nandang(ketua Dewan Hisbah PP PERSIS). Peristiwa malam itu,tak tercatat dalam berita acara pemilihan, tidak pula dalam notulen organisasi.Namun, yang ada hanya doa yang lirih dan kegelisahan yang diungkapkan kepada ulama.

“Bimbing saya, Ustaz!” pintanya, sederhana.sambil membungkukkan badan, “Saya ingin berada di jalan yang benar. Saya ingin ulama membimbing langkah saya.” pintanya lagi, santun, dan seperti seorang santri  yang siap menerima ilmu kiainya.

Kalimat itu mungkin terdengar biasa.Namun, di zaman ketika banyak anak muda merasa cukup dengan dirinya sendiri, permintaan itu adalah kerendahan hati yang langka.Cepi tidak ingin sekadar aktif  jadi ketua umum, tetapiingin lurus dan  tidak ingin sekadar dikenal. Cepi  Ingin benar.

Sejak malam itu, langkahnya seakan menemukan arah.Memikul ana muslimun qabla kulli syaiin perlu pembimbing.Perlu kompas agar tetap pada di jalan lurus.Menjadi ketua organisasi dakwah, ibadah, dan ukhuwah   bukan pilihan populer, memang.Ketuanya  tidak digaji. Jabatannya bukan jalan cepat menuju status sosial.Namun, justru di situlah letak kemuliaannya.Jadi ketua adalah kerja sunyi yang menyalakan cahaya di hati orang lain.

Cepi tahu itu.Ini tentang warisan perjuangan: menjaga agar Al-Qur’an tetap dibaca, dipahami, dan dihidupkan. Agar As-Sunnah tidak hanya jadi teks, tetapi menjadi nafas kehidupan.Cepi memilih untuk berdiri di sana, di garis itu. Al-Qur;an harus dibaca, As-Sunnah harus dijaga.

 

“Berjalan Saja Dulu…”

Pagi itu, matahari terbit. Cepi sudah  mulai diberi amanah memimpin harakah (gerakan) pemuda. Di antara cahaya yang perlahan menyapu bumi, Cepi berdiri dengan amanah di pundaknya.Bukan karena ia paling sempurna, tidak ada, kecuali  karena  bersedia berjalan, yang kemudian didukungsahabat-sahabat mudanya.

Cepi telah memilih jalannya. Seperti nasihat Ustaz Zae Nandang, “Berjalan saja dulu, nanti juga terlihat..”. Aslinya, dalam bahasa Sunda, “Sok wae ngalengkah, engke oge katingali..”.Maka, catatan Cepi, “Pemuda PERSIS bersama ulama, sampai akhir”. Itu berarti, kian kokohlah I am the moslem first, the moslem second, and the moslem forever sebagai “ideologi” Pemuda PERSIS.

Pertanyaannya kini, bukan lagi tentang Cepi, melainkan  tentang Pemuda PERSIS. Pertanyaan ini penting, karena pemuda yang berlari tanpa kawalan bisa tersesat.Ulama yang diam tanpa menyentuh pemuda bisa kehilangan generasi.Ulama tidak cukup hanya “mengawasi dari jauh”.Mereka harus hadir lebih dekat, lebih hidup, dan menjadi penuntun yang terasa menuntun.

Dakwah yang paling kuat bukan di mimbar, melainkan  dalam keseharian. Jika ulama menjaga akhlak, pemuda akan meniru tanpa diperintah. Ulama menjaga akar,  pemuda menumbuhkan cabang.

Jika akar kuat dan cabang tumbuh ke langit, maka pohon jamiyah (organisasi)akanbertahan lebih lama. Lalu, mungkin saja, di suatu masa, dari barisan pemuda yang hari ini dibimbing itu,  akan lahir ulama-ulama baru, yang kembali mengawal generasi berikutnya.

Ulama harus menjadi penjaga arah, bukan sekadar pemberi nasihat.Ulama harus seperti Tuan A. Hassan, tempo hari, yang  bukan hanya mengajar, melainkan juga mengarahkan pola pikir.

 

Saling Mengantarkan…

Ustaz Abdurrahman menasihati lulusan baru Muallimin tahun 1976, yang sengaja berkunjung ke rumahnya, di Gang Hassan, Bandung.Datang ingin dinasihati sebelum berpisah meninggalkan pesantren.

“Hidup kita adalah saling mengantarkan….” Ustaz berbicara terbata-bata, tampak sambil menangis.Kami harus menunggu…”Dulu, saya diantarkan oleh guru-guru saya…” dan Ustaz menangis lagi.Di antara kami, ada yang terisak juga.

“Sekarang,… saya mengantarkan kamu…” kata Ustaz, kini berbicara jelas, meski seperti menahan tangis. “ Kamu pun nanti akan mengantarkan murid-murid kamu, begitulahseterusnya. Hidup kita, hakikatnya, saling mengantarkan…”.Ustaz tampak mrnhgusasp air matanya. Tahu anak didiknya, ketika itu, banyak yang akan kembali ke daerahnya, untuk mengajar di pesantren.

.Cepi dan sahabat-sahabat muda PERSIS, hakikatnya pula, sudah diantarkan oleh generasi muda terdahulu. Kini, hakikanya pula, Cepi  sedang merenda hari esok, bersiap mengantar generasi muda berikutnya. Hidup kita saling mengantarkan, dan harus ada yang diwariskan.(Dean Al-Gamereau)

Pos terkait