Santri Jadi Politisi, Setelah mengkaji dan mengaji kitab, suatu subuh di sebuah Pesantren Persatuan Islam (PERSIS), seorang santri mengacungkan tangannya, dan bertanya, “Ustaz, kami sudah banyak diajari kitab. Namun, kapan kami belajar tentang politik, DPR, MPR, parpol, dan cara mengalokasikan APBN?” Pertanyaan yang tak biasa.Sejenak, sambil melipat kitab dan meluruskan peci, Ustaz memandang wajah santrinya yang dikenal progressive revolusioner itu.
Sebelum menjawab pertanyaan, Ustaz balik bertanya, “Kamu memang mau jadi politisi? “Ya, Ustaz! Bukankah Ustaz mengajari kami berdakwah berdampak?Dakwah kita harus berdampak juga pada politik. Kita boleh ikut mengurus arah bangsa, mengatur negara, menempati jabatan politik, dan berpolitik praktis untuk kesejahteraan rakyat, lahir dan batin,” jawab santri
“Bagus kalau begitu!Segeralah daftar ke Madrasah Siyasah (Sekolah Politik) PP PERSIS. Selama 10 bulan, kamu bisa mengembangkan diri jadipolitical scientist (pakar ilmu politik) atau jadi calon politician (politisi) andal dan profesional,” jawab Ustaz.
Namun, kata Ustaz selanjutnya, “Para santri dari pesantren ini jangan jadi politisi semua!Nanti kekurangan guru ngaji, tetapi kelebihan baliho. Kalau jadi politisi nanti, kamu boleh sibuk mengamati hasil survai elektabiltas, tetapi jangan sambil melupakan jadwal khatib Jumat”.
Ketum dan Politik Praktis
Kira-kira, untuk menjawab sepertipertanyaan santri itukah, PP PERSIS kemudian berijtihad perlu mendirikan Sekolah Politik atau nama resminya Madrasah Siyasah?
Untuk menjadi PERSIS sebagai ormas modern dan kolaboratif, memang, memerlukan penyesuaian dari hari ke hari, mengikuti perkembangan zaman, sambil tetap berpegang teguh pada prinsip harakah tajdid dan tafaqquh fi ad-diin sebagai “ideologi” jamiyah.
PERSIS menyapa politik memang sejak lama. Pernah di Masyumi, juga kabarnya pernah digagasi jadi parpol. Para ketua umum (Ketum) PP PERSIS yang kemudian terjun ke dunia politik praktis, jadi politisi, misalnya, K.H. Latief Mukhtar. M.A. (PPP), Prof. K.H. Maman Abdurrahman, M.A. (PBB), dan K.H. Drs. Shiddiq Amien, M.B.A. (calon anggota DPD RI dari Jawa Barat).
Ketum PP PERSIS yang sekarang, Syekh Abu Himam (Ustaz Jeje) tampaknya, tidak atau belum tertarik terjun ke dunia politik praktis. Namun, banyak komentar-komentarnya tentang politik di media massa dan media siber.Wartawan hampir tak pernah menanyakan masalah fikih : sunah atau bid’ah.
- Natsir, Pendidikan dan Dakwah
Ketua Umum PB (kini, PP) PERSIS. M. Natsir, jadi ketua umum Masyumi (1949-1958).Salah satu karya monumentalnya untuk negeri ini adalah kelahiran NKRI (1950).M. Natsir, antara lain, pernah jadi perdana menteri dan jadi menteri (kini, dari PERSIS, sudah ada yang jadi wakil menteri, dan alhamdulillah terasa berkah oleh banyak PW PERSIS khususnya). Ini bukan memanfaatkan jabatan, melainkan manfaat jabatan.
Namun, catatan pentingnya, tokoh seperti M. Natsir lahir dari tradisi pendidikan dan dakwah yang kuat di PERSIS, gurunya A. Hassan, lalu masuk ke wilayah politik kebangsaan dengan kemampuan intelektual yang matang.
Bagian terakhir inilah, agaknya, wajib jadi ruh Madrasah Siyasah PP PERSIS. Pendidikan dan dakwah jadi basis politik. M. Natsir sendiri, akhirnya tak mendirikan parpol atau sekolah, tetapi memilih mendirikan lembaga dakwah : DDII (1967) – yang kini jadi warisan penerusnya sampai sekarang. Nasihat M, Natsir yang terkenal, antara lain, “Dulu, kita berdakwah lewat politik, sekarang kita berpolitik lewat dakwah”.
Profil Politisi Islam
Pada zaman media sosial sekarang ini, orang yang berpikir tenang sering kalah cepat dengan orang yang marah-marah sambil memakai huruf kapital.Politisi Islam bukanpemarah, bukan pula yang paling keras suaranya di media massa, seperti di televisi. Sering terjadi, volume mikrofon lebih tinggi dari kualitas pikiran seseorang.
Politisi Islam juga bukan yang paling banyak mengunggah foto sedang memegang kitab sambil menatap langit penuh beban peradaban.Umat sudah cukup cerdas membedakan dakwah dan sesi pemotretan atau perekaman video konten.
Politisi Islam harus punya kemampuan langka, tetap jujur meski sudah dekat dengan kekuasaan. Sering terjadi, kekuasaan menyebabkan orang mengalami gejala aneh. Dulu.kritis sekali saat di luar, tetapi mendadak bijaksana dan sulit dihubungi setelah masuk lingkaran kekuasaan. Orang-orang menyebut.kekuasaan lebih nikmat dari seks. Waduh!
Politisi Islam juga takalergi kritik. Tak semua kritik dianggapnya sebagai:fitnah, konspirasi, atau agenda asing. Jangan sampai terjadi di negeri ini, kritik diperlakukan lebih berbahaya dari korupsi,
Politisi Islam harus paham bahwa agama bukan properti kampanye musiman.Ayat bukan stiker.Masjid bukan panggung elektoral.Umat bukan penonton yang cukup diberi slogan dan sembako, lalu selesai. Kalau rakyat puas dengan kesejahteraan, pendidikan, dan kesehatan, yang diperjuangkan politisi, boleh jadi, rakyat sudah merasakan “nikmatnya” hasil kampanye politik.
Politisi Islam mestinya punya rasa malu yang lebih.Lebih malukalau berbohong. lebihmalu kalau korupsi. lebihmalu kalau menjual agama demi jabatan. danlebih malu kalau berbicara tentang kesederhanaan sambil hidup seperti sultan minyak. Juga, lebih malu kalauberdakwah sambil hidup mendadak mewah.
Politisi Islam biasanya tak sekadar pandai mengutip ayat Al-Qur’an atau memakai simbol agama. Namun, pandaijuga membawa nilai-nilai Islam ke dalam cara berpikir, memimpin, dan melayani publik. Bagian terakhir inilah seperti pesa Iwan Fals, dalam kawih lawasnya,, “Wakil rakyat seharusnya merakyat|”.
Politisi Islam dipastikan lebih banyak pula berbicara dengan rakyat daripada berbicara kepada rakyat. Berbicara dengan rakyat mengandung dialog,komunmikasi dua arah, sedangkan berbicara kepada rakyat hanya berbicara satu arah, kadang seperti sebuah pidato tausiah.
Kalau profil politisi Islam seperti di atas lahir dari Madrasah Siyasah PP PERSIS, umat pasti senang. Negara akan membutuhkannya. Maka, Madrasah Siyasah, sekaligus pula.harusjadi Madrasah Siyasiyah, madrasah “beraliran”, hasil kolaborasi dan integrasi politik dengan visi PERSIS. Jadi, politik aliran?Bukan, jadi wajah dan wijhah politisi PERSIS.
Logo Bersayap, Terbang Stabil
Logo Madrasah Siyasah berupa lambang PERSIS bersayap (seperti penampakkan di flyer), siap terbang ke langit politik praktis, terbang stabil, karena kedua sayap kanannya dan sayap kirinya tampak aeimbang, kokoh nan teguh. Kalau sebelah sayapnya patah, maka akan terbang miring, terseok-seok, lalu tersungkur jatuh. Jaga kedua sayapnya, sayap dakwah dan sayap politik.
Kahlil Gibran bercerita tentang sayap-sayap patah: dalam novel pendek The Broken Wings, tetapi masalah cinta dan harapan yang tak bisa “terbang” stabil – yang menurut Gibran sendiri – akibat tekanan tradisi dan kebebasan yang terluka. Maka, jadilah metafora sayap-sayap patah Cinta tak bertemu dengan harapan.
Politisi wajah dan wijhah PERSIS bisa menarik pelajaran, cinta dan harapan bisa bertemu di dunia politik praktis.Bolehlah, mencintai rakyat untuk kemudian berharap menaikkan elektabilitas, lalu terpilih. Kalau sudah mencintai rakyat sepenuhnya, tetapi belum juga terpilih, itulah “sayap-sayap patah” di dunia kampanye.
Pamungkas
Ilmuwan politik dan komunikasi, Harorld Dwight Lasswell (12 Februari 1902 – 18 Desember 1978).mendefinisikan politik secara sederhana. “Politics is about who gets what, when, and how.”(Politik adalah tentang siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana)
Banyak pula orang yang menyimpulkan bahwa “Politics is about getting power, keeping power, and using power.”(Politik adalah tentang memperoleh kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan menggunakan kekuasaan).
Namun, ada orang yang nakal memplesetkan definisi itu jadi begini, “Politik itu seni mendapatkan kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, lalu menjelaskan mengapa janji kampanye belum bisa dilaksanakan”
Akhirnya, Joseph Pulitzer (1847 – 1911), seorang wartawan dan politisi asal Hongaria berpesan tentang bersuara kepada khalayak, yang kemudian bisa diadopsi politisi saat kampanye di panggung terbuka.
Pesan Pulitzer, “Sampaikan pesan kepada mereka secara ringkas, sehingga mereka akan membacanya, Secara jelas, sehingga mereka akan menghargainya. Secara indah, sehingga mereka akan mengingatnya. Dan terutama sekali, secara akurat, sehingga mereka akan dipandu dengan cahayanya”. (Dean Al-Gamereau)





