PERSISTRI : dari Jabar ke Al-Jabbar

Kajian Islam Intensif PW PERSISTRI Jabar di Masjid Raya Al- Jabbar (Foto : Dok. PERSISTRI).

KOTA BANDUNG – Di tengah hiruk-pikuk zaman yang dipenuhi layar kecil dan suara-suara dari dunia maya, ada pemandangan yang justru terasa sangat nyata : hidup, bergetar, dan mengharukan. Di Masjid Raya Al-Jabbar, Kota Bandung, Ahad pagi itu (26/04/26), lautan perempuan berhijab bertemu. Mereka datang membawa semangat dan harapan ingin mengikuti taklim atau pengajian.

Sekitar 20.000 ibu-ibu keluarga besar Persatuan Islam Istri Jawa Barat (PERSISTRI Jabar), duduk rapat. Sebagian berdesakan, sebagian lagi rela berdiri di pinggir. Wajah-wajah itu penuh semangat, dan memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan : kerinduan pada ilmu, pada siraman rohani, pada ketenangan yang tak bisa diberikan oleh notifikasi ponsel.

Bacaan Lainnya

Di era ketika ceramah bisa diputar ulang di TikTok atau di YouTube, mereka justru memilih hadir. Menempuh perjalanan panjang, bahkan mungkin meninggalkan pekerjaan rumah. Sebagian berkelakar, dari kampung ke masjid, rombongan naik Pajero (maksudnya sewa angkot karena murah meriah). Hadir ke Al-Jabbar yang megah, bukan sekadar pengajian. Ini adalah pernyataan: bahwa majelis ilmu masih punya daya tarik yang tak tergantikan oleh algoritma.

Suasana terasa menggugah. Saat lantunan ayat dibacakan, ribuan kepala tertunduk serentak. Ada yang diam-diam menangis menyaksikan “lautan” hijab. Ada yang pelan berzikir dan berdoa, Ada pula yang sekadar menatap ke depan mimbar, mungkin sedang berdialog dengan dirinya sendiri yang terkesan dengan jamaah yang mencapai puluhan ribu orang.

Di luar lingkaran utama, kehidupan berjalan dengan cara lain. Pedagang kecil mengais rezeki. Mereka menjajakan air minum, kerudung, atau makanan ringan. Hari itu, dagangan mereka laris. Seolah berkah tak hanya turun pada yang duduk mengaji, tetapi juga pada mereka yang berdiri di tepi.

Fenomena ini menarik. Di tengah gempuran dakwah digital, pengajian fisik tetap memiliki ruh yang berbeda. Ada sentuhan, ada kebersamaan, ada energi kolektif yang tak bisa direplikasi layar. Apa yang dilakukan PW PERSISTRI Bandung ini bukan sekadar kegiatan rutin sebulan sekali atau dua bulan sekali, melainkan sebuah gerakan sosial-keagamaan yang hidup.

Mungkin benar, dari sisi jumlah, ini adalah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan bagi organisasi induknya, PP PERSISTRI, yang menggelar pengajian setiap Kamis, jumlah pengunjungnya belum pernah mencapi angka ribuan orang.

Namun, lebih dari sekadar angka sebenarnya, yang penting adalah makna di balik semua itu : bahwa ibu-ibu, yang sering dianggap berada di ruang domestik, ternyata mampu menjadi motor penggerak syiar yang luar biasa. The power of ema-ema PERSISTRI tak bisa diabaikan.

Pengajian ini bukan hanya tentang mendengar ceramah. Ia adalah tentang identitas, tentang kebersamaan, tentang iman yang dirawat bersama-sama. Di tengah-tengah 20.000-an orang itu, ada satu pesan yang terasa kuat: bahwa di jagat yang semakin bising, masih ada yang memilih diam untuk mendengar langsung ayat-ayat-Nya dari mimbar pengajian.

PW PERSISTRI Jabar memanfaatkan masjid Al-Jabbar untuk ibadah, dakwah, dan ukhuwah. Maka, PERSISTRI bukan sekadar di Kalipah Apo atau di Viaduck, melainkan juga sanggup menggetarkan masjid seharga sekitar Rp 1,2 triliun itu.

Di hadapan 20.000-an pengunjung itu, dan ini bukan angka semangat, melainkan angka nyata, tampil dua orang penceramah : K.H. Arif Rahman Hakim, Lc., M.Pd. dan Ustazah Hj. Ela Kamilawatie, M.Pd.

Masjid Al-Jabbar dirancang oleh Ridwan Kamil sendiri, saat jadi gubernur Jabar. Dia dikenal sebagai arsitek visioner. Konsep arsitekturnya terbilang unik. Ia pepaduan rumus matematima Asmaa Al-Husna, berpadu dengan ornamen atap bertumpuk serta kaca beragam warna, tanpa kubah konvensional.

Dari Al-Jabbar, PW PERSISTRI Jabar mengajarkan, scroll media sosial bisa menambah ilmu, tetapi duduk di majelis, bisa menambah ilmu dan berkah. PW PERSISTRI Jabar memberi pesan telak, bahwa teknologi boleh maju, tetapi majelis ilmu tatap muka, dengan tema Kajian Islam Intensif (KII) misalnya, tak akan pernah tergantikan. Ada ikatan emosional dalam desakan saf, juga dalam gema aamiin bersama untuk menjawab doa penceramah. (Dean Al-Gamereau)

 

 

Pos terkait