Ternyata, Hinggap di Rumah Tetangga
Burung merak itu terbang entah ke mana, entah hinggap di mana. Kini, tak kembali. Tersesatkah burung merak itu setelah terbang jauh? Entahlah! Sultan Muhammad Safiuddin, yang diasingkan (dibuang) dari Banten ke Surabaya, oleh Pemerintah Hindia Belanda, tahun 1832 itu, memang dikenal sebagai penyayang binatang. Sekaligus pula, Sultan antipenjajahan.
Oleh karena burung merak tak juga pulang, Sultan kemudian menugaskan anak pembantu untuk mencarinya. Ternyata, tak jauh-jauh, burung merak itu hinggap di rumah tetangga, seorang pejabat di Konsulat Dagang Prancis, Surabaya.
Sang anak pembantu yakin, burung merak di rumah tetangga itu milik Sultan. Lalu, dia minta izin masuk ke rumahnya untuk sekadar mengambil burung merak. Ternyata, pejabat berkebangsaan Prancis itu tak mengizinkannya masuk ke rumahnya. Malah, dia memaki-maki sang anak pembantu itu.
Pejabat di Konsulat Dagang Prancis justru minta agar tuannya saja yang datang, yang kemudian akan dijadikan keset kloset. Sang anak pembantu gagal mengambil burung merak, llalu melaporkan perlakuan sang tetangga.
Anak tertua Sultan Muhammad Safiuddin, Pangeran Surya Kumala, akhirnya mengetahui perlakuan buruk tetangganya itu. Lalu, apakah sang Pangeran Putra Mahkota ini melabrak pejabat yang juga tetangganya itu?
Ternyata, tidak! Sang Pangeran malah masuk ke kamar, menyendiri, tirakat. Entah apa yang di-tirakat-kannya. Pokoknya, marah besar, tetapi diam dan senyap. Dirinya. ayahnya, dan keluarga besarnya sudah nyata-nyata dihina dan dinista tetangga.
Sang Pangeran Cinta
Pada suatu hari, sang ayah, Sultan Safiuddin, menghadiri acara yang digelar orang-orang Eropa. Hadir pula sang tetangga, pejabat yang memaki-maki Sultan. Pangeran Surya Kumala ikut dengan ayahnya.
“Demikianlah takdir, anak gadis tetangga yang pejabat asal Prancis itu pun hadir. Terjadilah pertemuan kedua anak ini, yang memang sudah menginjak usia remaja.
Beberapa hari kemudian, setelah pertemuan kedua remaja itu, pertemuan yang memang tak direncanakan, kini giliran sang gadis anak pejabat yang mencari-cari sang Pangeran Cinta, Pangeran Surya Kumala. Persis seperti sebelumnya, saat-saat sang ayah (Sultan Safiuddin) yang mencari-cari burung merak kesayangannya.
Seperti lelaki dan rembulan yang diterpa angin sepoi-sepoi, dan cinta tumbuh saat pertemuan pertama. Sorot kedua bola mata sang Pangeran mungkin masuk, mengusik, dan jadi musik cinta di hati sang gadis anak pejabat berkebangsaan Prancis itu. Mereka pun saling jatuh cinta. Romantis. Inilah cinta lintas benua, lintas budaya, lintas agama. Inilah saat-saat sang gadis mengejar-ngejar sang Pangeran Cinta,
Menikah dalam Diam
Cinta berhasil meruntuhkan segalanya. Pangeran Surya Kumala menikah dengan sang gadis anak tetangganya itu, dan tanpa sepengetahuan sang ayah. Padahal, Sultan sudah bersumpah sebelumnya, bahwa tak boleh ada keturunannya yang menikah dengan orang Eropa.
Apa pun, cinta sudah terjalin kuat dan melekat. Tak ada yang bisa memisahkan mereka. Keduanya anak orang terhormat. Lalu, mereka pergi jauh, mungkin sambil membawa mimpi indah. Mereka menikah dalam diam. Sang istri, mungkin jadi muallaf(ah) dulu. Kabarnya, sang Pengeran dan istri tinggal di Majalengka (Jawa Barat), lalu punya keturunan di sini.
Pangeran Surya Kumala rela kehilangan statusnya sebagai putra mahkota, pengganti sang ayah. Gelar kebangsawanannya pun dicabut. Namun, Surya Kumala jadi sang Pangeran Cinta, setidak-tidaknya, bagi gadis Prancis itu.
Sultan Safiuddin Wafat
Sultan Safiuddin menikah dengan Ratu Putri Fatimah. binti Pangeran Ahmad bin Sultan Aliyuddin I (Sultan Banten ke-13). Menurut pakar sejarah Banten, Mufti Ali (2009 : 31), Sultan Safiuddin punya empat anak : Pangeran Surya Kumala, Pengeran Surya Kusuma (Pangeran Haji), Pangeran anonim, dan Pangeran Surya Atmaja (Pangeran Timur). Pangeran anonim ini (yang tak diketahui identitasnya), menurut sumber lain, bernama Ratu Ayu Kunthi.
Sultan Safiuddin, menurut peneliti sejarah Banten yang lain, Ibnu Adam Aviciena, hakikatnya adalah sultan terakhir Banten. Sultan yang pernah diangkat Belanda, Sultan Rafiuddin, tak berdaulat, dan tak diakui pula sebagai sultan oleh kerabat Kesultanan Banten. Sultan Rafiuddin memang bertahta setelah Sultan Safiuddin. Akhirnya, pada tahun yang sama (1893), Sultan Rafiuddin pun dibuang Belanda ke Surabaya.
Sultan Safiuddin wafat pada tahun 1899, dimakamkan di Pemakaman Boto Putih (Surabaya) di seberang pemakaman Sunan Ampel. Nama Safiuddin, atau sering ditulis Shafiuddin berasal dari bahasa Arab, shafiyyuddiin (kemurnian agama). Atau pula, kalau berasal dari (bahasa Arab) syafii’uddiin, artinya penjaga agama. Sultan biasanya sekaligus jadi pemimpin agama. (Dean Al-Gamereau).





