Menjadi Pemimpin yang Tenang Walau Banyak Cobaan

Oleh: M. Tahyar
Sekretaris PDM Muhammadiyah Cilegon

KORANBANTEN.COM – Menjadi pemimpin itu bukan soal siapa yang paling keras suaranya. Bukan soal siapa yang paling banyak bicara di grup. Bukan soal siapa yang paling pandai mengirim artikel.

Bacaan Lainnya

Menjadi pemimpin itu soal siapa yang paling tenang saat dicoba, dan jitu mencarikan solusi dari tiap permasalahan diri maupun organisasi

Saya belajar ini dari Muhammadiyah. Muhammadiyah mengajarkan kita, tidak jadi benalu, tidak jadi oposisi, tidak anti pemerintah. Muhammadiyah itu pertengahan, seimbang dan menyeimbangkan, dan selalu Tenang. Tapi tegas dalam kebenaran., landasan ta muruna bil makruf watanhauna anil mungkar adalah filosofis perjuanganya.

Pemimpin yang tenang itu bukan pemimpin yang lemah. Justru pemimpin yang tenang itu pemimpin yang paling kuat.

Kenapa? Karena orang yang tenang itu tidak mudah dipancing. Dia tidak mudah marah kalau disindir. Dia tidak mudah baper kalau tidak disukai. Dia tidak membalas sindiran dengan sindiran.

Dia diam, tapi dia kerja,saat dia bicara pengaruhnya ,ide-ide menjadi sangat luar biasa.

Saya pernah merasakan sendiri, Pengalaman Waktu saya jadi Anggota DPRD Cilegon 2009-2014, dan Presiden Mahasiswa BEM Universitas Negeri Jakarta (dulu IKIP.JAKARTA),.juga Anggota KPUD Kota Cilegon periode 2003-2008., saya banyak dicoba. Dihina, difitnah, disindir, itu sudah biasa. Kalau saya balas semua, habis waktu saya. Akhirnya apa , tidak akan ada kerja yang bisa saya selesaikan.

Saya pilih diam dan kerja. Karena masyarakat kota Baja itu tidak butuh pemimpin yang pandai debat di grup WA. Masyarakat kota Cilegon butuh pemimpin yang datang saat jalan rusak, saat banjir, saat anaknya tidak bisa sekolah.

Itulah yang saya pegang sampai hari ini sebagai Sekretaris PDM Muhammadiyah Cilegon.

Kalau ada yang tidak suka sama saya, silakan. Itu hak dia. Saya tidak bisa memaksa semua orang suka sama saya. Para Nabi saja ada yang tidak suka, apalagi saya yang hanya manusia biasa.

Tugas saya bukan membuat semua orang suka. Tugas saya adalah membuat PDM ini rapi, membuat Muhammadiyah ini terhormat, dan membuat Cilegon ini lebih baik.

Pemimpin yang tenang itu seperti talang air, kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir. Dia hanya mengalirkan kebaikan. Dia tidak menampung kebencian..
Dan prinsif kerja saya adalah Bekerjasama dalam hal-hal.yg disepakati dan toleransi dalam hal-hal yg berbeda.

Kalau ada air kotor yang lewat, dia biarkan lewat. Dia tidak simpan. Karena kalau dia simpan, talangnya akan mampet, dan air bersih tidak bisa mengalir ke bawah.

Begitu juga hati seorang pemimpin. Kalau dia simpan semua sindiran, semua sakit hati, semua kebencian, hatinya akan mampet. Dia tidak bisa lagi mengalirkan kebaikan untuk masyarakat.

Maka saya memilih untuk tidak menyimpan.,saya pilih saya buang dan saya maju kedepan utk lebih baik lagi membuktikan kerja-kerja saya

Saya memilih tenang. Saya memilih kerja. Saya memilih mengabdi.

Karena saya percaya, pada akhirnya, masyarakat itu tidak akan menilai kita dari siapa yang paling ramai di grup. Masyarakat akan menilai kita dari siapa yang paling tenang, paling konsisten, dan paling hadir saat mereka susah dan membutuhkan kita.

Itulah pemimpin yang tenang walau banyak cobaan.pantang menyerah, musuh jgn pernah dicari, akan tetapi kalau ada harus kita hadapi pantang kita berlari.***

Pos terkait