Banten Punya Emas, Tapi Belum Tergali — UT Serang Mulai Menambangnya

KORANBANTEN.COM-Di tengah derasnya arus modernisasi ekonomi nasional, Universitas Terbuka (UT) Serang mengambil langkah konkret. Kamis, 25 Juni 2026, lembaga pendidikan tinggi terbuka itu menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sekaligus Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam skema Equity – World Class University (WCU) 2026 di Hotel Wisata Baru, Kota Serang, Provinsi Banten.

Berlangsung selama lima jam penuh, sejak pukul 08.00 hingga 13.00 WIB, forum ilmiah itu bukan sekadar pertemuan akademis biasa. Di balik tema besarnya — Penguatan Potensi Lokal Kabupaten Serang — tersimpan agenda ambisius: menjadikan produk dan budaya lokal Banten sebagai komoditas unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

Bacaan Lainnya

Forum Lima Pilar: Pemerintah, Akademisi, Pelaku Usaha, dan Masyarakat Duduk Semeja
Yang membuat forum ini istimewa bukan hanya temanya, melainkan siapa yang hadir. Jarang ada satu meja diskusi mampu mempertemukan begitu banyak pemangku kepentingan strategis dalam satu waktu dan satu tujuan.

Dari jajaran pemerintah daerah, hadir Dr. Nasir, S.P., M.B.A., M.P., yang saat ini menjabat ganda sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten sebuah sinyal kuat bahwa pemerintah provinsi menaruh perhatian serius terhadap agenda ini.

Kota Serang diwakili oleh Andriyani, S.P., M.Si., Kepala Bidang Pertanian dan Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Serang. Sementara Kabupaten Serang mengirimkan Noor Amalia, S.Pi., M.M., Analis Akuakultur Ahli Muda DKP3 Kabupaten Serang, sebagai representasi resmi daerahnya.

Dimensi pendidikan turut hadir dengan kuat. Doddy Irawan, S.T., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, hadir langsung. Dinas Pendidikan Kabupaten Serang diwakili oleh Dr. H. Edi Junaedi, M.Pd., sementara Dinas Pendidikan Kota Serang mengutus Dr. Cecep Nikmatullah, M.Pd.I., sebagai penelaah kebijakan. Dari Kabupaten Pandeglang, Dr. H. Sutoto, S.Pd., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan, turut memperkuat representasi lintas kabupaten/kota di Banten.

Dunia akademisi pun ambil peran. Dr. Ujang Jamaludin, S.Pd., M.Si., M.Pd., dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), dan Dr. Encep Supriatna, M.Pd., dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), hadir membawa perspektif riset dan keilmuan yang memperkaya diskusi.

Dari unsur pemerintahan kewilayahan, Camat Serang H. Basuni, S.Sos., M.Si., beserta para lurah dari wilayah Kota dan Kabupaten Serang turut menyuarakan kebutuhan masyarakat lapis bawah secara langsung.

Tak kalah penting, Ketua Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten, Ashok Kumar, hadir mewakili sektor industri perhotelan dan kuliner — membuka peluang nyata bagi produk lokal untuk masuk ke rantai pasok hotel dan restoran berbintang di Banten.

Melengkapi seluruh ekosistem forum, sebanyak 20 pelaku UMKM dari Kota dan Kabupaten Serang turut duduk sebagai peserta aktif — mereka bukan sekadar pendengar, melainkan subjek utama dari seluruh agenda transformasi ini.

Menggali Emas Tersembunyi Banten
Direktur UT Serang sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd., menegaskan bahwa forum ini adalah jembatan antara riset akademik dan kebutuhan nyata masyarakat — sebuah gerakan transformatif yang harus terus digerakkan.

“Masih banyak potensi lokal kita yang belum tergarap secara optimal. Gipang, rengginang, sate bandeng, dendeng, hingga kerajinan golok khas Banten — semua ini punya nilai yang luar biasa jika dikemas secara modern dan strategis,” ujarnya usai kegiatan.

Ajat menekankan, jika potensi-potensi tersebut mendapat sentuhan inovasi yang tepat, produk lokal Banten bukan mustahil akan memiliki daya saing dan nilai pasar yang signifikan, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di panggung internasional.

Ketahanan Pangan: PR Besar yang Tak Bisa Ditunda Salah satu sorotan paling substansial datang dari Dr. Nasir, S.P., M.B.A., M.P. Dengan kapasitasnya yang merangkap dua jabatan strategis di Pemprov Banten, ia mengakui secara lugas bahwa meski ketersediaan pangan di Banten saat ini masih dalam kondisi cukup, efisiensi sektor pertanian masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.

Menurutnya, sektor pertanian Banten menyimpan potensi besar, namun masih membutuhkan akselerasi nyata melalui adopsi teknologi, inovasi berkelanjutan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di lapangan.

“Sektor pertanian merupakan salah satu prioritas pembangunan Provinsi Banten dengan potensi yang sangat besar. Namun kita masih memerlukan upaya ekstra untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitasnya melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi,” katanya di hadapan para peserta.

Nasir juga menyambut hangat peluang kolaborasi lebih erat antara Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, dan UT Serang ke depan sebagai bentuk sinergi kelembagaan yang produktif.

PHRI dan UMKM: Kekuatan Pasar yang Siap Diaktifkan kehadiran Ashok Kumar dari PHRI Provinsi Banten menjadi salah satu momen paling strategis dalam forum ini. Industri perhotelan dan restoran di Banten adalah pasar yang nyata dan besar — dan jika produk UMKM lokal berhasil masuk ke dalamnya, dampak ekonominya akan langsung dirasakan oleh masyarakat di tingkat akar rumput.

Sementara itu, 20 pelaku UMKM yang hadir membawa perspektif praktis yang tak ternilai: tantangan produksi, hambatan pemasaran, dan kebutuhan pendampingan nyata yang selama ini menjadi celah antara potensi dan realisasi.

LPDP dan Komitmen Jangka Panjang
Kelancaran seluruh rangkaian kegiatan ini tak lepas dari peran Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang menjadi tulang punggung pembiayaan program melalui skema Equity – WCU 2026. Dukungan lembaga negara tersebut menjadi bukti bahwa pemberdayaan ekonomi lokal berbasis riset perguruan tinggi kini mendapat perhatian serius di tingkat nasional.

Apresiasi dari Puncak Akademik
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka (LPPM UT), Prof. Dr. Dewi Padmo, M.A., yang turut hadir langsung dalam acara tersebut, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh tim pelaksana. Ia mendorong agar semua rekomendasi yang lahir dari diskusi hari itu segera diinventarisasi secara terstruktur dan dijadikan peta jalan konkret bagi program pengabdian masyarakat UT di masa mendatang.

“Mudah-mudahan semua hasil pembahasan hari ini bisa dibuat daftarnya secara konkret, sehingga ke depan menjadi acuan nyata bagi program-program pengabdian kepada masyarakat,” harap Prof. Dewi.

Sebuah Gerakan, Bukan Sekadar Acara
FGD ini hadir di momen yang strategis, ketika pemerintah pusat tengah memperkuat agenda ketahanan pangan nasional dan digitalisasi UMKM. Dengan mempertemukan pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota; para akademisi lintas kampus; pelaku industri; aparat kewilayahan; hingga para pelaku UMKM dalam satu forum yang terstruktur, UT Serang membuktikan diri bukan sekadar menara gading ilmu pengetahuan.

Ia adalah agen perubahan yang turun langsung ke akar rumput dengan keyakinan bahwa emas Banten yang sesungguhnya bukan ada di bawah tanah, melainkan di tangan para pengrajin golok, penjual sate bandeng, dan perajin rengginang yang selama ini belum mendapat panggung yang layak.(Red)

Pos terkait