Oleh : Dian Wahyudi
Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak
Nama Multatuli, hari-hari ini mulai cukup akrab terdengar di telinga warga kabupaten Lebak, bahkan belakangan kabupaten Lebak kerap disebut sebagai Bumi Multatuli, nama pena dari Edward Douwes Dekker. Diketahui, Multatuli melegenda berkat perjuangannya, mengkritik keras Pemerintah Hindia Belanda yang bersikap sewenang-wenang terhadap pribumi. Menuliskan semua perasaan dan temuannya di Kabupaten Lebak dalam bukunya yang sangat fenomenal, Max Havelaar.
Sepertinya, Multatuli sama sekali tidak pernah membayangkan bukunya kelak akan menginspirasi gerakan melawan kolonialisme. Multatuli hanya mencita-citakan sistem kolonial yang lebih adil. Namun ternyata, Novel itu efeknya lebih dari itu, lebih dari sekedar menciptakan keadilan dalam kolonialisme, tapi menjadi rujukan agar koloniaisme itu harus diakhiri. Dampak kehadiran buku itu, juga melahirkan Politik Etis oleh pemerintah Hindia Belanda atau gerakan’ balas budi’ terhadap rakyat jajahan, sehingga sebagian rakyat memperoleh kesempatam untuk sekolah.
Sosok Multatuli boleh jadi telah tiada. Akan tetapi, karyanya tetap hidup, terus dicetak, dan dibaca banyak orang sampai hari ini. Lebak sebagai setting cerita yang melatari kisah dalam Max Havelaar tak mau ketinggalan menyimpan memori tentang ini. Ingatan tentang Multatuli, pun terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Upaya Pemerintah Kabupaten Lebak dalam mengupayakan hal tersebut bisa dibilang cukup serius. Nama Multatuli digunakan sebagai nama jalan, salah satu nama BUMD, ataupun nama Toko oleh warga umum, semakin sering kita dengar, termasuk dengan di dirikannya Museum Multatuli. Museum sendiri berdiri di bangunan bekas Kewedanaan Rangkasbitung di Alun-Alun Timur Rangkasbitung, tak hanya menyimpan memori Multatuli saja. Lebih dari itu, museum yang diresmikan pada 11 Februari 2018 yang lalu tersebut, juga bercerita tentang posisi Rangkasbitung, serta Banten di garis perlintasan sejarah Indonesia.
Tujuannya, setidaknya, jika dulu orang mau mencari tahu tentang Multatuli, tidak tahu ke mana, sekarang sejak ada Museum Multatuli memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi.
Diketahui, secara keseluruhan, museum ini justru lebih mengedepankan nafas antikolonialisme yang lahir dari gegernya Max Havelaar di Belanda pada tahun 1860 tersebut. Tak heran kalau kemudian museum ini disebut sebagai museum antikolonialisme pertama di Indonesia. Oleh karena itu, dari tujuh ruangan yang ada, terbagi menjadi empat tema. Multatuli hanya mengisi satu tema saja yang ditempatkan di tengah ruangan museum. Sementara tema lain yang diangkat oleh museum adalah sejarah datangnya kolonialisme ke Indonesia, sejarah Lebak dan Banten, serta perkembangan Rangkasbitung masa kini.
Tak hanya bagian dalam museum, bagian luar museum juga menyiratkan kenangan tentang Multatuli. Di bagian amfiteater misalnya ada patung tembaga Multatuli sedang membaca buku dengan patung Saidjah dan Adinda di kanan kirinya yang dibuat oleh seniman Dolorosa Sinaga. Nama Saidjah dan Adinda juga diabadikan sebagai nama perpustakaan yang terletak di sebelah kanan museum.
Dalam rangka memperingati 200 tahun kelahiran Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, seperti dikutip Antara, Pemkab Lebak melalui Kepala Museum Multatuli juga mengadakan nonton bareng (Nobar) film dokumenter ‘Setelah Multatuli Pergi’ di Pendopo Museum Multatuli, pada Maret 2020. Dalam acara tersebut, Bupati Lebak juga menyampaikan berbagai capaian yang dapat dilihat dan dirasakan di kabupaten Lebak. Seperti sarana dan prasarana yang memadai, akses dan konektivitas antar kecamatan terhubung dengan baik, serta pembangunan yang terus dilaksanakan semata-mata demi kesejahteraan dan kebaikan warga Lebak. Perempuan tidak lagi dibatasi geraknya dalam menduduki posisi-posisi penting. Secara khusus Bupati Lebak mengajak perempuan-perempuan yang ada di Lebak, untuk bersama-sama membangun Kabupaten Lebak menjadi lebih baik lagi.
Belakangan, sebagai bukti sejarah, guna mengingat terus perjuangan Multatuli membantu bangsa Indonesia melawan kolonial Belanda, rumah Multatuli juga akan segera di revitalisasi, yang kini menjadi cagar budaya di area RSUD Adjidarmo. Saya secara pribadi sempat menolak, dalam pembahasan anggaran di tahun 2019, disamping karena sudah ada Museum Multatuli, dana yang dianggarkan juga berbarengan dengan beberapa kegiatan yang juga sempat saya tolak pula, seperti rehab perkemahan pasir roko Cimarga, dan rehab alun-alun Rangkasbitung, masing-masing Rp 1 M. Kabarnya rencana revitalisasi cagar budaya Multatuli sudah mendapatkan izin dari kementerian pusat dan sudah dilakukan studi cagar budaya, dan seharusnya sudah mulai dibangun tahun 2020 yang lalu. Namun karena merebaknya pandemi covid-19, rencana tersebut sepertinya ditunda.
Lukisan mural Multatuli juga ikut mewarnai salah satu dinding di ruas jalan Multatuli. Menurut bahasa, Mural berasal dari bahasa latin yaitu dari kata “Murus” yang berarti dinding. Secara luas pengertian mural adalah menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau media luas lainnya yang bersifat permanen. Memberikan pesan kuat, bahwa seniman juga memberikan apresiasi sekaligus kritik sosial, karena disamping lukisan juga menyertakan pesan tulisan yang tersurat jelas.
Untuk ruas jalan Multatuli, saya sempat mengusulkan menjadi ikon ruas jalan wisata kuliner (disamping jalan Hardiwinangun), mencontoh ramainya ruas jalan Malioboro di pusat kota Jogyakarta. Paska pemindahan para pedagang di depan Rabinza Mall ke ruas jalan Sunan Kalijaga beberapa tahun yang lalu oleh pemerintah kabupaten (pemkab) Lebak, yang terbukti usaha itu gagal. Karena pedagang ternyata kembali balik ke tempat semula, karena sepi pembeli, juga penerangan yang tidak memadai. Walaupun pedagang di ruas jalan Sunan Kalijaga juga belakangan semakin ramai. Semoga semakin bertambahnya para UMKM kuliner di Rangkasbitung, termasuk di jalan Hardiwinangun dan lingkar Balong Ranca Indah, dan bermunculannya beberapa toko ritel besar, memberi keberkahan tersendiri di masa covid-19 ini, karena sebab semakin meningkatkan daya beli masyarakat Rangkasbitung.
Sayangnya, “Multatuli” sudah beberapa bulan ini seolah tak berdaya, nyungsep, papisah tiang jeung plang na (terpisah antara tiang dan plangnya), sampai di ikat karet ban segala. Ruas jalan yang sejatinya menjadi ikon kemajuan ibu kota kabupaten Lebak, Rangkasbitung, bak plang jalan Malioboro yang menjadi destinasi wisata ber-swafoto, justru tampak membuat gemas. Keseriusan pemkab Lebak tiba-tiba saja seolah tak berarti. Ampuuuunnn