Dian Wahyudi
Ketua Generasi Muda (GEMA) Keadilan Lebak
Hari ini saya memberikan hadiah untuk anak saya yang baru lulus Aliyah dan sekolah Tahfidznya, Buku Pasport, dilanjut syukuran kecil dengan membeli Bakakak Hayam dan Ikan Bakar (ups), karena anak saya rencananya selanjutnya akan melanjutkan studi ke Turki.
Iya ke Turki. Mohon do’a agar urusannya lancar sesuai harapan. Awalnya terus terang agak (amat sih) kaget dengan rencana anak saya ini, karena sudah sejak setahun sebelumnya minta kuliah ke Turki (inspirasi ternyata benar, banyak yang tidak terduga). Makanya tidak langsung saya iyakan, caranya dengan menyarankan ikut saja dulu beberapa test kuliah di Indonesia.
Namun, ternyata sejalan waktu, tidak menyurutkan niatnya untuk kuliah di Turki. Walhasil, selepas kelulusan, anak saya ini dan kami akhirnya serius mengurus berbagai kelengkapan persyaratan untuk pendaftaran kuliah Turki, pakpikpuk teu puguh, karena menggunakan jalur mandiri. Dan Alhamdulillah, beberapa tahap sudah selesai, termasuk membuat Pasport.
Kalau bicara perjalanan hidup. Peupeuriheun zaman saya mah, selaku orang tuanya, hayang bikin pasport geh baheula (dulu), asa ngimpi sigana (serasa mimpi kayaknya).
Ada sih niatan mah harita (saat itu), ingin ke Korea Selatan (Korsel), bukan untuk kuliah tapi sekedar berkunjung. Hingga beberapa kali saya ikut lomba menulis cerita tentang Korsel, dimana pemenang lomba (pelajar dan mahasiswa) akan di kirim berkunjung kesana. Tapi teu beubeunangan (tapi tidak pernah menang). Nasib tak sampai, hehe…
Semoga Pasport ini menjadi hadiah berarti untuk anak saya dan masa depannya.
Saya teringat dalam salah satu buku atau tulisan Rhenald Kasali, P.hD, yang dalam bukunya itu, “memaksa” para mahasiswanya untuk membuat pasport. Untuk apa? Tidak dijelaskan untuk apa, yang jelas para mahasiswanya sangat berterima kasih kepada beliau, karena setelah memiliki pasport, mereka mengalami kemajuan luar biasa, terpacu untuk melakukan perjalanan ke luar negeri sesuai kebutuhan dan pekerjaan mereka selanjutnya, wawasan mereka bertambah setelah melihat dunia luar.
Itulah mungkin juga yang memberi inspirasi Gola Gong (mas Gong) dan mbak Tias pengelola Rumah Dunia, sebelum pandemi Covid-19 kerap mengadakan kelas menulis dan menerbitkan buku untuk berbagai kalangan, setelah melakukan perjalan ke negara-negara seperti Malaysia dan Singapura.
Amat sangat menarik pastinya, karena sudah barang tentu wawasan peserta dibawa mengembara mencari inspirasi diluar kebiasaan. Berwisata yang berbeda… Itu sebelum covid-19 ya..
Termasuk, sampai hari ini saya tidak bisa membayangkan bagaimana mas Gong berkeliling ke beberapa Negara Asia menggunakan sepeda dan menulis buku Perjalanan Asia atau bagaimana mas Agustinus Wibowo berkeliling di negara-negara Asia dan Balkan merasakan berbagai peristiwa mengerikan, hingga menulis beberapa buku yang sangat Fenomenal.
Dalam literatur Islam, Imam asy-Syafi’i cukup banyak menekankan tentang pentingnya merantau. Beliau adalah seorang ulama besar yang terkenal dengan kecerdasan dan kata-kata mutiara yang penuh hikmah.
Buktinya, beliau mampu menyusun kata-kata mutiara yang mendalam dalam bait-bait syair. Syair-syair beliau dibukukan dan dinamai Diwan asy-Syafi’i.
Di antara syair beliau yang sangat baik kita renungkan maknanya adalah nasihat beliau agar seseorang meninggalkan zona nyamannya menuju wilayah baru, suasana baru, pengalaman baru, dan berkenalan dengan orang-orang baru pula.
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup di negeri orang.
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang). Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya. Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.
Apalagi dengan sosok Rosulullah, Beliau telah melakukan banyak perjalanan sampai ke Luar Negeri dalam rangka berdagang sedari muda, sehingga dikenal sebagai pebisnis jujur dan terpercaya, serta tentunya berbagai misi Dakwah dalam menyebarkan Islam.
Kembali mengutip Imam asy-Syafi’i ; Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.
Pemimpin lokal jika terlalu lama berkutat di kampungnya, dia hanya akan melihat sungai, sawah, pasar, tempat bermain hanya sebagai rutinitas biasa. Namun jika Dia kerap pergi melihat dunia luar, menyerap berbagai inspirasi, ternyata dunia itu sangat indah. Tidak harus ke Luar Negeri sih, hehe, cukuplah ke tetangga, sambil melihat kemajuan yang dapat diterapkan di tempatnya.
Dan bersinergi, merupakan hal yang harus dilakukan, karena bekerja tidak bisa sendiri. Menerima saran dan wawasan terbuka merupakan keniscayaan yang tidak bisa dilawan. Eh..
Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu, agar kita bisa kembali leluasa menyerap wawasan dan menyerap berbagai inspirasi.