Merajut Sinergi dan Membersamai Anak Negeri

Oleh : Dian Wahyudi
Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak

Selepas tahun baru Januari 2021, saya berkeliling bersilaturrahmi menemui beberapa tokoh Lebak, menyampaikan 2 buku saya, karena sudah memberikan testimoni untuk buku saya.

Read More

Kali ini, saya bertemu dengan dua orang tokoh muda yang bagi saya luarbiasa. Di usianya yang masih muda telah menempati amanah yang luarbiasa, memimpin sebuah organisasi besar, sambil terus berkhidmat menjadi pimpinan pondok pesantren.

Tokoh pertama yang saya temui, KH. Deden Farhan ketua umum GP Ansor Lebak, yang membawahi Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser), yang merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama dari GP Ansor.

Saya banyak mendapatkan nasehat dari beliau, terkait pentingnya merajut sinergi, serta pentingnya budaya literasi dikalangan umat Islam.

Beliau menyampaikan apresiasi kepada saya atas penulisan dan penerbitan 2 buku saya tersebut.

Pondok pesantren Al Farhan Cipanas yang asri, dengan pemandangan gugusan kaki Gunung Halimun Salak, bagi saya memberi energi baru.

Beliau juga berpesan tentang pentingnya menjaga kondusifitas dan ke utuhan bangsa. Kita semua bersaudara, harus terus merajut kebersamaan, harus mendekatkan banyak persamaan bukan perbedaan.

Pembawannya cukup tenang, sehingga saya yakin organisasi besar Ansor atau Banser, ditangan beliau, semakin kokoh.

Terakhir, tanpa diduga beliau mengajak agar dapat berkolaborasi terkait pentingnya budaya literasi. Selanjutnya, saya sampaikan terimakasih kepada beliau sudah diaku. Sehingga tanpa sungkan, saya mohon izin untuk sering bersilaturrahmi ke pondok beliau.

Tokoh kedua, saya bersilaturrahmi ke Kiyai Ade Bujhaerimi pimpinan Pondok Pesantren Al Kanza Cibadak, yang juga ketua umum Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Lebak.

Kiyai Ade pernah pula menjadi Ketua GP Ansor Lebak serta Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Banten.

Saat saya datang, para santri sedang beraktifitas merapikan genting dari salah seorang donatur.

Saya disambut beliau disalahsatu saung. Saya ngobrol sebentar, kiyai Ade bercerita sedang merangkai kobong (bangunan untuk santri) kayu di bagian sebelah Masjid yang sedang tahap naik atap.

Alhamdulillah, ini ada donatur, pondok yang kiyainya meninggal dunia, kemudian menyerahkan bangunan kayu santrinya ke sini, karena dulunya juga dapat donasi dari orang lain. Jadi kita rangkai ulang.

Saya diajak pula ke rumah jamur, wah. Menurut beliau, disamping ilmu pondok salafiyah dengan kajian kitab kuning dan hafalan al qur’an, di sini juga diajarkan lifeskill budidaya jamur, dan nanti ke depan ada budidaya ikan nila.

Santri disini, diajarkan mandiri, agar nanti setelah keluar dari pondok, dapat hidup bermasyarakat mengamalkan ilmunya juga secara ekonomi dapat mandiri karena dibekali lifeskill.

Saat ini mereka boleh dhuafa atau berasal dari keluarga yatim, tapi mereka harus berhasil, harus mandiri. Dengan target 3 tahun sudah harus hafal al qur’an.

Dilingkungan yang masih cukup rindang, dengan ditengah pondok tetap dipertahankan beberapa pohon agar tetap asri, saya yakin pondok ini dapat mencetak generasi sholeh dan sholehah yang mumpuni.

Ba’da sholat ashar yang masih menggunakan salah satu ruang kelas, karena mushola masih dalam proses pembangunan, tanpa diduga, saya diminta menyampaikan tambahan wawasan untuk para santri.

Walaupun saya menyampaikan paparan motivasi dan pentingnya budaya literasi, esensinya saya sedang belajar dari kiyai Ade dan para santri tentang pentingnya membersamai tumbuh kembang anak negeri, ditengah situasi sulit pandemi covid-19 dan ancaman koyaknya keutuhan bangsa.

Saya belajar tulus, ikhlas dan kesungguhan yang terpancar dari kiyai Ade dan para santri ini.

Selepas ngopi dan menyerap inspirasi, saya pamit kepada beliau, dan menyampaikan terimakasih sudah diterima dan diaku. Eh.. beliau malah ngajak lain kali kesini lagi, urang ngaliwet… Asyiap kiyai.

Related posts